PKBM: Jendela Ilmu di Wilayah 3T PKBM di Perbatasan
Senin, 04 Mei 2020 - 06:48 WIB
loading...
A
A
A
“Saya ikut PKBM ini supaya bisa dapat ijazah Paket C. Teman saya kemarin diangkat jadi Krani karena sudah duluan ambil Paket C. Jadi saya mau seperti dia, dapat penghasilan lebih tinggi, kehidupan yang lebih bagus dan menjadi lebih pintar, biar tidak malu sama anak saya yang sekolah”, ujar Siriani.
Kelas pun dimulai dengan praktek komputer (Ms. Word). Pengajar yang saat itu dikelas mengajari para peserta didik dengan sabar, bahkan tidak sungkan ia menghampiri satu persatu peserta didik ke komputer masing-masing untuk memberikan petunjuk pengoperasian Ms. Word.
Siriani yang terlihat gugup di depan computer, hanya bisa berharap menunggu giliran dari peserta didik yang sudah selesai mengerjakan tugas dari pengajar. Tidak lama, terdapat satu murid yang selesai dan pengajar saat itu langsung meminta Siriani untuk berpindah komputer dan mencoba mengetikkan biodata dirinya di Ms. Word.
Meski tampak kaku, namun dengan dua jari telunjuknya, Siriani mulai mengetikan biodata dirinya. Perlahan tapi pasti, meski masih salah meraba letak huruf yang terhampar di keyboard, akhirnya Siriani pun berhasil mengetikkan biodata dirinya.
“Baru pertama saya pegang ini, belum bisa komputer, cuma bisa pegang aja, tapi saya harus bisa, karena kalau mau jadi Krani harus bisa ngetik-ngetik gitu dan isi data di handphone yang canggih itu, yang isinya layar semua (smartphone).” kata Siriani tersenyum malu.
Urai, Buruh Remaja Kebun Sawit
Selain Siriani, belasan remaja lainnya juga sedang sibuk berlatih mengetikkan biodatanya di Ms. Word. Terdapat satu remaja laki-laki yang terlihat sedang bersenda gurau dengan temannya yang sama-sama sudah selesai mengerjakan tugas. Kami pun menghampiri dan mencoba berbincang dengannya.
Remaja tersebut bernama Urai, begitulah ia memperkenalkan diri. Ia berusia 19 tahun, wajar jika memang secara penampilan wajah dan fisik seperti orang dewasa. Berperawakan tinggi, tegap namun agak kurus dengan rambut yang diwarnai emas di bagian poni. Ia juga merupakan peserta didik paket B seperti Siriani. berdomisili tidak jauh dari Balai Karangan hanya butuh waktu 10 menit untuk tiba ke PKBM Balai Mustika dengan menggunakan sepeda. Dalam kesehariannya, Urai bekerja menjadi buruh di Kebun Kelapa Sawit yang telah ia jalani sejak putus sekolah.
Ia bercerita bahwa tujuannya mengikuti kelas Paket B adalah untuk bisa melanjutkan ke Paket C dan pergi ke Pontianak untuk mencari kerja disana, bahkan jika mampu, ia berharap dapat melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Saya ikut Paket B karena saat kelas 2 SMP, ayah-ibu tidak cukup uang untuk biaya sekolah saya, jadinya saya berhenti sekolah. Saya ikut ayah kerja di kebun sawit. Teman-teman saya satu kampung juga seperti itu. Sekolah sampai SMP, berhenti, lalu kerja di kebun sawit. Sekarang sudah ada uang, jadi mau lanjutin lagi sampai Paket C, terus ke Pontianak. Mau cari kerja saja disana, syukur kalau nanti bisa sambil kuliah,” ujar Urai dengan semangat.
Semangat Belajar
Dalam peringatan Hari Pendidikan tahun ini, ada baiknya kita dapat mencontoh semangat para peserta didik di wilayah terdepan Indonesia ini. Dengan keterbatasan akses pendidikan seperti mulai dari kurangnya biaya, jauhnya akses menuju sekolah dan kurang lengkapnya fasilitas, tidak menyurutkan semangat mereka dalam mengeyam pendidikan.
Di daerah perbatasan ini, negeri tetangga terasa lebih dekat kehadirannya melalui perkebunan sawit yang pengelolaannya berada dibawah perusahaan negara tetangga. Menjadi buruh di kebun sawit di usia belia juga sudah seperti menjadi budaya di masyarakat sini. Menurut Kepala PKBM Mustika, Baleng, banyak faktor yang menyebabkan warga putus sekolah, selain karena persoalan ekonomi, infrastruktur pendidikan yang belum memadai, jarak rumah ke sekolah, juga karena faktor usia.
“Di kampung-kampung sekitar sini bahkan di luar Kabupaten banyak yang putus sekolah, pertama karena biaya, jarak sekolah dan umur juga, diperparah dengan kebiasaan bekerja menjadi buruh sejak muda seperti sudah membudaya dan menjadi satu-satunya pilihan untuk menyambung hidup” kata Baleng.
Kelas pun dimulai dengan praktek komputer (Ms. Word). Pengajar yang saat itu dikelas mengajari para peserta didik dengan sabar, bahkan tidak sungkan ia menghampiri satu persatu peserta didik ke komputer masing-masing untuk memberikan petunjuk pengoperasian Ms. Word.
Siriani yang terlihat gugup di depan computer, hanya bisa berharap menunggu giliran dari peserta didik yang sudah selesai mengerjakan tugas dari pengajar. Tidak lama, terdapat satu murid yang selesai dan pengajar saat itu langsung meminta Siriani untuk berpindah komputer dan mencoba mengetikkan biodata dirinya di Ms. Word.
Meski tampak kaku, namun dengan dua jari telunjuknya, Siriani mulai mengetikan biodata dirinya. Perlahan tapi pasti, meski masih salah meraba letak huruf yang terhampar di keyboard, akhirnya Siriani pun berhasil mengetikkan biodata dirinya.
“Baru pertama saya pegang ini, belum bisa komputer, cuma bisa pegang aja, tapi saya harus bisa, karena kalau mau jadi Krani harus bisa ngetik-ngetik gitu dan isi data di handphone yang canggih itu, yang isinya layar semua (smartphone).” kata Siriani tersenyum malu.
Urai, Buruh Remaja Kebun Sawit
Selain Siriani, belasan remaja lainnya juga sedang sibuk berlatih mengetikkan biodatanya di Ms. Word. Terdapat satu remaja laki-laki yang terlihat sedang bersenda gurau dengan temannya yang sama-sama sudah selesai mengerjakan tugas. Kami pun menghampiri dan mencoba berbincang dengannya.
Remaja tersebut bernama Urai, begitulah ia memperkenalkan diri. Ia berusia 19 tahun, wajar jika memang secara penampilan wajah dan fisik seperti orang dewasa. Berperawakan tinggi, tegap namun agak kurus dengan rambut yang diwarnai emas di bagian poni. Ia juga merupakan peserta didik paket B seperti Siriani. berdomisili tidak jauh dari Balai Karangan hanya butuh waktu 10 menit untuk tiba ke PKBM Balai Mustika dengan menggunakan sepeda. Dalam kesehariannya, Urai bekerja menjadi buruh di Kebun Kelapa Sawit yang telah ia jalani sejak putus sekolah.
Ia bercerita bahwa tujuannya mengikuti kelas Paket B adalah untuk bisa melanjutkan ke Paket C dan pergi ke Pontianak untuk mencari kerja disana, bahkan jika mampu, ia berharap dapat melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Saya ikut Paket B karena saat kelas 2 SMP, ayah-ibu tidak cukup uang untuk biaya sekolah saya, jadinya saya berhenti sekolah. Saya ikut ayah kerja di kebun sawit. Teman-teman saya satu kampung juga seperti itu. Sekolah sampai SMP, berhenti, lalu kerja di kebun sawit. Sekarang sudah ada uang, jadi mau lanjutin lagi sampai Paket C, terus ke Pontianak. Mau cari kerja saja disana, syukur kalau nanti bisa sambil kuliah,” ujar Urai dengan semangat.
Semangat Belajar
Dalam peringatan Hari Pendidikan tahun ini, ada baiknya kita dapat mencontoh semangat para peserta didik di wilayah terdepan Indonesia ini. Dengan keterbatasan akses pendidikan seperti mulai dari kurangnya biaya, jauhnya akses menuju sekolah dan kurang lengkapnya fasilitas, tidak menyurutkan semangat mereka dalam mengeyam pendidikan.
Di daerah perbatasan ini, negeri tetangga terasa lebih dekat kehadirannya melalui perkebunan sawit yang pengelolaannya berada dibawah perusahaan negara tetangga. Menjadi buruh di kebun sawit di usia belia juga sudah seperti menjadi budaya di masyarakat sini. Menurut Kepala PKBM Mustika, Baleng, banyak faktor yang menyebabkan warga putus sekolah, selain karena persoalan ekonomi, infrastruktur pendidikan yang belum memadai, jarak rumah ke sekolah, juga karena faktor usia.
“Di kampung-kampung sekitar sini bahkan di luar Kabupaten banyak yang putus sekolah, pertama karena biaya, jarak sekolah dan umur juga, diperparah dengan kebiasaan bekerja menjadi buruh sejak muda seperti sudah membudaya dan menjadi satu-satunya pilihan untuk menyambung hidup” kata Baleng.