Kisah Pangeran Diponegoro dan Kiai Mojo, Simbolis Relasi Bangsawan dan Ulama
Rabu, 03 September 2025 - 08:06 WIB
loading...
A
A
A
Saat itu posisi Surakarta memang menjadi pusat pembelajaran agama islam. Alhasil sebagaimana dituliskan Peter Carey pada "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro: 1785 - 1855", posisi Kiai Mojo pun menjadi lebih penting di antara para santri pendukung Diponegoro.
Hal ini turut membakar ketegangan laten antara para pengikut bangsawan dan santri Sang Pangeran. Para bangsawan, yang hampir semuanya orang Jogja, cenderung memandang Kiai Mojo dan para ulama Surakarta lain dengan penuh curiga.
Baca juga: Terungkap! Ada Iming-iming Uang ke Peserta Demo Ricuh, Nominalnya hingga Rp200 Ribu
Sikap curiga sebaliknya juga dirasakan para santri Surakarta terhadap bangsawan Jogja. Akan tetapi, itu semua baru terjadi nanti di kemudian hari.
Sebab pada awal 1800, hubungan-hubungan pribadi Pangeran Diponegoro masih terbatas pada wilayah di sekitar Yogyakarta saja. Semua masih tetap seperti ini hingga masa jabatan Residen Belanda HG Nahuys Van Burgst.
Hal ini turut membakar ketegangan laten antara para pengikut bangsawan dan santri Sang Pangeran. Para bangsawan, yang hampir semuanya orang Jogja, cenderung memandang Kiai Mojo dan para ulama Surakarta lain dengan penuh curiga.
Baca juga: Terungkap! Ada Iming-iming Uang ke Peserta Demo Ricuh, Nominalnya hingga Rp200 Ribu
Sikap curiga sebaliknya juga dirasakan para santri Surakarta terhadap bangsawan Jogja. Akan tetapi, itu semua baru terjadi nanti di kemudian hari.
Sebab pada awal 1800, hubungan-hubungan pribadi Pangeran Diponegoro masih terbatas pada wilayah di sekitar Yogyakarta saja. Semua masih tetap seperti ini hingga masa jabatan Residen Belanda HG Nahuys Van Burgst.
Lihat Juga :