Kisah KH Idham Chalid, Ketua DPR Termiskin tapi Paling Kaya Teladan
Selasa, 02 September 2025 - 09:14 WIB
loading...
A
A
A
Baginya, pengabdian tidak harus selalu dalam lingkaran kekuasaan. Ia lebih memilih mengabdi melalui pendidikan, dakwah, dan penguatan umat di pesantren.
Selepas pensiun dari DPR, Idham Chalid tidak membangun bisnis besar atau menumpuk kekayaan. Ia kembali ke akar kehidupannya: dunia pesantren. Di Cipete Selatan, ia mengajar agama dan membina generasi muda.
Di Cisarua, ia mengelola rumah yatim, memastikan anak-anak kurang mampu tetap mendapatkan pendidikan dan kasih sayang. Kehidupan yang ia pilih pasca-politik mencerminkan kerendahan hati dan pengabdian tulus pada rakyat kecil.
KH Idham Chalid wafat pada tahun 2010, meninggalkan jejak panjang sebagai pemimpin yang sederhana, jujur, dan rendah hati. Hingga kini, namanya tetap dikenang, bahkan diabadikan dalam uang kertas Rp5.000.
Kehidupan beliau memberi pesan penting bagi generasi pemimpin berikutnya: kekuasaan sejati tidak diukur dari banyaknya fasilitas, melainkan dari seberapa besar seorang pemimpin mampu melayani rakyat dengan tulus.
Julukan “Ketua DPR termiskin” pada akhirnya menjadi simbol kekayaan moral. Ia memang tidak meninggalkan harta berlimpah, tetapi meninggalkan keteladanan abadi. Di tengah krisis kepercayaan masyarakat pada pejabat publik, kisah Idham Chalid menjadi cermin bahwa masih ada pemimpin yang memegang teguh kesederhanaan dan integritas.
Kembali ke Pesantren dan Masyarakat
Selepas pensiun dari DPR, Idham Chalid tidak membangun bisnis besar atau menumpuk kekayaan. Ia kembali ke akar kehidupannya: dunia pesantren. Di Cipete Selatan, ia mengajar agama dan membina generasi muda.
Di Cisarua, ia mengelola rumah yatim, memastikan anak-anak kurang mampu tetap mendapatkan pendidikan dan kasih sayang. Kehidupan yang ia pilih pasca-politik mencerminkan kerendahan hati dan pengabdian tulus pada rakyat kecil.
Warisan Moral yang Tak Ternilai
KH Idham Chalid wafat pada tahun 2010, meninggalkan jejak panjang sebagai pemimpin yang sederhana, jujur, dan rendah hati. Hingga kini, namanya tetap dikenang, bahkan diabadikan dalam uang kertas Rp5.000.
Kehidupan beliau memberi pesan penting bagi generasi pemimpin berikutnya: kekuasaan sejati tidak diukur dari banyaknya fasilitas, melainkan dari seberapa besar seorang pemimpin mampu melayani rakyat dengan tulus.
Julukan “Ketua DPR termiskin” pada akhirnya menjadi simbol kekayaan moral. Ia memang tidak meninggalkan harta berlimpah, tetapi meninggalkan keteladanan abadi. Di tengah krisis kepercayaan masyarakat pada pejabat publik, kisah Idham Chalid menjadi cermin bahwa masih ada pemimpin yang memegang teguh kesederhanaan dan integritas.
(shf)
Lihat Juga :