Kisah KH Idham Chalid, Ketua DPR Termiskin tapi Paling Kaya Teladan
Selasa, 02 September 2025 - 09:14 WIB
loading...
Sosok kharismatik dan melegenda, KH Idham Chalid hingga kini tetap harum sebagai sosok pemimpin dan Ketua DPR yang berbeda dari kebanyakan pejabat. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Di tengah hiruk-pikuk dunia politik Indonesia dan tunjangan anggota DPR yang berujung didemo rakyat di beberapa hari terakhir, ada nama yang bisa jadi panutan. Sosok kharismatik dan melegenda, KH Idham Chalid hingga kini tetap harum sebagai sosok pemimpin yang berbeda dari kebanyakan pejabat.
Ia bukan hanya seorang ulama besar Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga politisi yang pernah menjabat sebagai Ketua DPR/MPR RI periode 1971–1977. Uniknya, meski menduduki posisi paling bergengsi di parlemen, Idham Chalid justru dikenal sebagai Ketua DPR termiskin di Indonesia.
Baca juga: Tatkala Dua Pembesar NU dan Muhammadiyah Saling Mengimami Sholat Subuh
Disarikan dari berbagai sumber, julukan ini tentu bukan bermakna ia hidup dalam kesusahan, melainkan karena gaya hidupnya yang jauh dari kemewahan. Dalam sejarah politik Indonesia, sangat jarang ditemui pejabat tinggi yang rela menolak fasilitas negara.
Namun Idham Chalid berbeda. Pria kelahiran 27 Agustus 1921 ini tidak mau keluarganya menikmati kemudahan dari jabatan yang ia emban. Mobil dinas, rumah dinas, ataupun tunjangan istimewa ditolak dengan tegas.
Ketua Umum PBNU perideo 1956-1984 ini percaya amanah adalah tanggung jawab, bukan jalan menuju kenyamanan pribadi.
Kisah paling terkenal dari kesederhanaan Idham Chalid adalah kebiasaan keluarganya menggunakan metromini untuk bepergian. Anak-anaknya tetap naik transportasi umum meski ayah mereka seorang pejabat tinggi negara.
Baca juga: Hoegeng, Jenderal Antisuap Hidup Pas-pasan dari Gaji Polisi
Bahkan, beberapa anaknya berjualan nasi dan air minum untuk membantu biaya kebutuhan sehari-hari. Bayangkan, seorang Ketua DPR yang memiliki akses luas ke fasilitas negara, tetapi keluarganya tetap hidup seperti rakyat kebanyakan.
Bagi Idham, jabatan adalah amanah, bukan hak istimewa. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuasaan tidak boleh mengubah nilai-nilai kesederhanaan. Karena sikap inilah, masyarakat kemudian menjulukinya sebagai Ketua DPR termiskin, meskipun sejatinya beliau kaya raya dalam hal integritas.
Sejarah mencatat, Idham Chalid bahkan sempat ditawari posisi yang lebih tinggi dalam pemerintahan, termasuk kesempatan untuk mendampingi Presiden Soeharto sebagai wakil presiden. Namun, tawaran itu ditolaknya dengan rendah hati.
Baginya, pengabdian tidak harus selalu dalam lingkaran kekuasaan. Ia lebih memilih mengabdi melalui pendidikan, dakwah, dan penguatan umat di pesantren.
Selepas pensiun dari DPR, Idham Chalid tidak membangun bisnis besar atau menumpuk kekayaan. Ia kembali ke akar kehidupannya: dunia pesantren. Di Cipete Selatan, ia mengajar agama dan membina generasi muda.
Di Cisarua, ia mengelola rumah yatim, memastikan anak-anak kurang mampu tetap mendapatkan pendidikan dan kasih sayang. Kehidupan yang ia pilih pasca-politik mencerminkan kerendahan hati dan pengabdian tulus pada rakyat kecil.
KH Idham Chalid wafat pada tahun 2010, meninggalkan jejak panjang sebagai pemimpin yang sederhana, jujur, dan rendah hati. Hingga kini, namanya tetap dikenang, bahkan diabadikan dalam uang kertas Rp5.000.
Kehidupan beliau memberi pesan penting bagi generasi pemimpin berikutnya: kekuasaan sejati tidak diukur dari banyaknya fasilitas, melainkan dari seberapa besar seorang pemimpin mampu melayani rakyat dengan tulus.
Julukan “Ketua DPR termiskin” pada akhirnya menjadi simbol kekayaan moral. Ia memang tidak meninggalkan harta berlimpah, tetapi meninggalkan keteladanan abadi. Di tengah krisis kepercayaan masyarakat pada pejabat publik, kisah Idham Chalid menjadi cermin bahwa masih ada pemimpin yang memegang teguh kesederhanaan dan integritas.
Ia bukan hanya seorang ulama besar Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga politisi yang pernah menjabat sebagai Ketua DPR/MPR RI periode 1971–1977. Uniknya, meski menduduki posisi paling bergengsi di parlemen, Idham Chalid justru dikenal sebagai Ketua DPR termiskin di Indonesia.
Baca juga: Tatkala Dua Pembesar NU dan Muhammadiyah Saling Mengimami Sholat Subuh
Disarikan dari berbagai sumber, julukan ini tentu bukan bermakna ia hidup dalam kesusahan, melainkan karena gaya hidupnya yang jauh dari kemewahan. Dalam sejarah politik Indonesia, sangat jarang ditemui pejabat tinggi yang rela menolak fasilitas negara.
Namun Idham Chalid berbeda. Pria kelahiran 27 Agustus 1921 ini tidak mau keluarganya menikmati kemudahan dari jabatan yang ia emban. Mobil dinas, rumah dinas, ataupun tunjangan istimewa ditolak dengan tegas.
Ketua Umum PBNU perideo 1956-1984 ini percaya amanah adalah tanggung jawab, bukan jalan menuju kenyamanan pribadi.
Hidup Sederhana di Tengah Jabatan Tinggi
Kisah paling terkenal dari kesederhanaan Idham Chalid adalah kebiasaan keluarganya menggunakan metromini untuk bepergian. Anak-anaknya tetap naik transportasi umum meski ayah mereka seorang pejabat tinggi negara.
Baca juga: Hoegeng, Jenderal Antisuap Hidup Pas-pasan dari Gaji Polisi
Bahkan, beberapa anaknya berjualan nasi dan air minum untuk membantu biaya kebutuhan sehari-hari. Bayangkan, seorang Ketua DPR yang memiliki akses luas ke fasilitas negara, tetapi keluarganya tetap hidup seperti rakyat kebanyakan.
Bagi Idham, jabatan adalah amanah, bukan hak istimewa. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuasaan tidak boleh mengubah nilai-nilai kesederhanaan. Karena sikap inilah, masyarakat kemudian menjulukinya sebagai Ketua DPR termiskin, meskipun sejatinya beliau kaya raya dalam hal integritas.
Menolak Jabatan Lebih Tinggi
Sejarah mencatat, Idham Chalid bahkan sempat ditawari posisi yang lebih tinggi dalam pemerintahan, termasuk kesempatan untuk mendampingi Presiden Soeharto sebagai wakil presiden. Namun, tawaran itu ditolaknya dengan rendah hati.
Baginya, pengabdian tidak harus selalu dalam lingkaran kekuasaan. Ia lebih memilih mengabdi melalui pendidikan, dakwah, dan penguatan umat di pesantren.
Kembali ke Pesantren dan Masyarakat
Selepas pensiun dari DPR, Idham Chalid tidak membangun bisnis besar atau menumpuk kekayaan. Ia kembali ke akar kehidupannya: dunia pesantren. Di Cipete Selatan, ia mengajar agama dan membina generasi muda.
Di Cisarua, ia mengelola rumah yatim, memastikan anak-anak kurang mampu tetap mendapatkan pendidikan dan kasih sayang. Kehidupan yang ia pilih pasca-politik mencerminkan kerendahan hati dan pengabdian tulus pada rakyat kecil.
Warisan Moral yang Tak Ternilai
KH Idham Chalid wafat pada tahun 2010, meninggalkan jejak panjang sebagai pemimpin yang sederhana, jujur, dan rendah hati. Hingga kini, namanya tetap dikenang, bahkan diabadikan dalam uang kertas Rp5.000.
Kehidupan beliau memberi pesan penting bagi generasi pemimpin berikutnya: kekuasaan sejati tidak diukur dari banyaknya fasilitas, melainkan dari seberapa besar seorang pemimpin mampu melayani rakyat dengan tulus.
Julukan “Ketua DPR termiskin” pada akhirnya menjadi simbol kekayaan moral. Ia memang tidak meninggalkan harta berlimpah, tetapi meninggalkan keteladanan abadi. Di tengah krisis kepercayaan masyarakat pada pejabat publik, kisah Idham Chalid menjadi cermin bahwa masih ada pemimpin yang memegang teguh kesederhanaan dan integritas.
(shf)
Lihat Juga :