Ruang Perawatan Penuh, Pasien Suspect COVID-19 RSU Tangsel Meninggal Dalam Tenda Darurat
Jum'at, 11 September 2020 - 11:34 WIB
loading...
A
A
A
Tim medis IGD RS Buah Hati pun sempat memeriksa Elih, termasuk dengan melakukan rontgen dan rapid test. Hasil test menunjukkan non reaktif, namun terdiagnosa ada pembengkakan di bagian dalam tubuh. Karena bukan peserta BPJS, pihak keluarga merogoh kocek hingga Rp1,3 jutaan untuk biaya perawatan awal.
"Di sana sudah rapid hasilnya negatif, tapi ada pembengkakan di bagian dalam dada. Dokter Buah Hati meminta kita melanjutkan perawatan ke RSU Tangsel," jelasnya. (Baca juga; RSU Tangsel Siapkan Ruang Isolasi Sementara Pasien Terduga Corona )
Sesampainya di IGD RSU, dokter jaga menjelaskan bahwa ruang perawatan telah penuh. Jadi pasien dengan gejala COVID-19, terpaksa dirawat sementara dalam tenda di halaman depan IGD. Pihak keluarga pun tak keberatan, asalkan tak mengurangi pelayanan darurat yang diberikan.
"Waktu itu yang bawa anak saya dan mantu, jadi katanya kamar penuh dan harus dirawat di tenda. Tapi setelah beberapa lama di tenda itu, sampai berjam-jam nggak ada yang kontrol, cuma diinfus sama dikasih obat. Kalau infusnya habis ya mesti kita dari keluarga yang bawelin bolak-balik ke dalam kasih tahu, itu pun lama berjam-jam baru dicek," terang Edi.
Barulah setelah pihak keluarga mendesak meminta rujukan pindah rumah sakit, petugas medis mulai memberi perhatian dengan mendatangi tenda pukul 23.00 WIB. Ketika itu, perawat memberikan obat dan penggantian tabung oksigen. Sementara kondisi Elih terlihat kian drop dan lemas. (Baca juga; Pasien DBD di RSU Tangsel Dirawat di Lorong-lorong )
"Di sana sudah rapid hasilnya negatif, tapi ada pembengkakan di bagian dalam dada. Dokter Buah Hati meminta kita melanjutkan perawatan ke RSU Tangsel," jelasnya. (Baca juga; RSU Tangsel Siapkan Ruang Isolasi Sementara Pasien Terduga Corona )
Sesampainya di IGD RSU, dokter jaga menjelaskan bahwa ruang perawatan telah penuh. Jadi pasien dengan gejala COVID-19, terpaksa dirawat sementara dalam tenda di halaman depan IGD. Pihak keluarga pun tak keberatan, asalkan tak mengurangi pelayanan darurat yang diberikan.
"Waktu itu yang bawa anak saya dan mantu, jadi katanya kamar penuh dan harus dirawat di tenda. Tapi setelah beberapa lama di tenda itu, sampai berjam-jam nggak ada yang kontrol, cuma diinfus sama dikasih obat. Kalau infusnya habis ya mesti kita dari keluarga yang bawelin bolak-balik ke dalam kasih tahu, itu pun lama berjam-jam baru dicek," terang Edi.
Barulah setelah pihak keluarga mendesak meminta rujukan pindah rumah sakit, petugas medis mulai memberi perhatian dengan mendatangi tenda pukul 23.00 WIB. Ketika itu, perawat memberikan obat dan penggantian tabung oksigen. Sementara kondisi Elih terlihat kian drop dan lemas. (Baca juga; Pasien DBD di RSU Tangsel Dirawat di Lorong-lorong )
Lihat Juga :