Wacana JIS Dikelola Swasta, Bagaimana Peluang Persija?
Sabtu, 16 Agustus 2025 - 07:26 WIB
loading...
Jakarta International Stadium (JIS) kembali menjadi sorotan publik, karena wacana pengelolaan akan dibuka untuk pihak swasta. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Jakarta International Stadium (JIS) kembali menjadi sorotan publik, karena wacana pengelolaan akan dibuka untuk pihak swasta. Diketahui, stadion megah berkapasitas 82 ribu penonton ini merupakan aset milik PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta.
Terkait banyak pihak swasta yang ingin mengelola JIS ini diperkuat oleh pernyataan Gubernur Jakarta Pramono Anung. Dia mengatakan banyak orang datang meminta menjadi pengelola manajemen JIS yang juga menjadi ikon sepak bola nasional serta memiliki standar berskala internasional.
Baca juga: JIS Resmi Jadi Kandang Persija Jakarta
Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pintu kesempatan terbuka lebar bagi mereka yang siap dan mampu mengambil peran, termasuk Persija Jakarta, yang musim ini resmi menjadikan JIS sebagai markas.
"Secara legal, peluang Persija untuk mengelola JIS memang ada. Sebagai klub profesional yang berada di bawah PT Persija Jaya Jakarta, mereka memiliki badan hukum dan struktur organisasi yang memungkinkan untuk menjadi pengelola fasilitas olahraga seperti JIS," ujar Ketua Pemerhati Jakarta Erzan, Jumat (15/8/2025).
Persija bisa mengoptimalkan branding klub serta potensi komersial stadion, mulai dari tiket pertandingan, penyewaan untuk event hingga pemanfaatan fasilitas penunjang lainnya.
"Namun, di balik peluang itu, realita finansial klub Macan Kemayoran membuat kemungkinan tersebut terlihat tipis," ucapnya.
Berbeda dengan klub-klub di Eropa memiliki pondasi finansial keuangan yang kuat dan sponsor yang besar, Persija saat ini berada dalam kondisi finansial yang tidak baik-baik saja. Masalah ini bukan sekadar isu internal melainkan sudah menjadi pembicaraan terbuka di kalangan pemain, suporter, bahkan asosiasi sepak bola profesional.
Musim lalu menjadi catatan pahit. Klub ini tersandung masalah keterlambatan pembayaran gaji pemain. Pelatih karateker Ricky Nelson secara terbuka mengakui memang sempat ada masalah internal setalah putaran kedua, gaji pemain terlambat.
Keluhan juga datang dari Ketua The Jakmania Dicky Budi Ramadhan yang mengkritik gaya belanja pemain yang tidak seimbang dengan kemampuan finansial klub. Bahkan Asosiasi Sepakbola Profesional Indonesia (APPI) memastikan sejumlah pemain mengalami tunggakan gaji hingga 2-3 bulan.
Kondisi ini bukan hanya memengaruhi hubungan klub dengan pemain, tetapi juga menggerus kepercayaan pemangku kepentingan lainnya. Dalam industri sepak bola profesional, reputasi finansial yang buruk bisa menjadi hambatan besar dalam mendapatkan investasi dan kerja sama strategis.
"Ketidakpastian ini menimbulkan risiko besar jika Persija tetap memaksakan ingin memegang kendali penuh terhadap JIS," kata Erzan.
Tahun ini, Pramono bahkan turun tangan membantu Persija dengan menghadirkan BUMD sebagai sponsor di antaranya PAM Jaya, Bank Jakarta, MRT Jakarta, Transjakarta, termasuk Jakpro selaku pemilik aset JIS yang turut memberikan keringanan biaya sewa stadion dan memprioritaskan Persija untuk menggelar pertandingan kandang.
Langkah ini untuk membantu menutup sebagian kebutuhan operasional, namun bantuan tersebut lebih bersifat penopang sementara.
Mengelola stadion sekelas JIS bukanlah pekerjaan ringan. Biaya operasionalnya mencapai puluhan bahkan ratusan miliar rupiah per tahun, mulai dari perawatan rumput standar FIFA, keamanan, kebersihan, listrik, serta fasilitas lainnya hingga promosi acara.
Bagi klub yang masih berjuang membayar gaji tepat waktu, beban ini bukan hanya tantangan, tetapi bisa menjadi risiko besar yang memperburuk krisis finansial. Pemprov Jakarta tentu tidak ingin aset bernilai triliunan rupiah itu jatuh ke tangan pengelola yang tidak siap.
Jakpro sebagai pemilik aset akan memilih mitra yang mampu menjaga kualitas stadion, memastikan operasional berjalan lancar, dan memberi pemasukan bagi daerah. Dengan rekam jejak keuangan Persija saat ini, sulit membayangkan mereka bisa memenuhi semua prasyarat tersebut.
"Pada akhirnya, peluang bagi Persija itu ada, tetapi jaraknya dengan kenyataan sangat lebar. Persija mungkin akan terus menggunakan JIS sebagai markas kebanggaan, namun menjadi pengelola penuh stadion ini tampaknya masih sebatas mimpi yang menuntut modal besar, manajemen rapi, dan stabilitas finansial," ungkap Erzan.
Terkait banyak pihak swasta yang ingin mengelola JIS ini diperkuat oleh pernyataan Gubernur Jakarta Pramono Anung. Dia mengatakan banyak orang datang meminta menjadi pengelola manajemen JIS yang juga menjadi ikon sepak bola nasional serta memiliki standar berskala internasional.
Baca juga: JIS Resmi Jadi Kandang Persija Jakarta
Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pintu kesempatan terbuka lebar bagi mereka yang siap dan mampu mengambil peran, termasuk Persija Jakarta, yang musim ini resmi menjadikan JIS sebagai markas.
"Secara legal, peluang Persija untuk mengelola JIS memang ada. Sebagai klub profesional yang berada di bawah PT Persija Jaya Jakarta, mereka memiliki badan hukum dan struktur organisasi yang memungkinkan untuk menjadi pengelola fasilitas olahraga seperti JIS," ujar Ketua Pemerhati Jakarta Erzan, Jumat (15/8/2025).
Persija bisa mengoptimalkan branding klub serta potensi komersial stadion, mulai dari tiket pertandingan, penyewaan untuk event hingga pemanfaatan fasilitas penunjang lainnya.
"Namun, di balik peluang itu, realita finansial klub Macan Kemayoran membuat kemungkinan tersebut terlihat tipis," ucapnya.
Berbeda dengan klub-klub di Eropa memiliki pondasi finansial keuangan yang kuat dan sponsor yang besar, Persija saat ini berada dalam kondisi finansial yang tidak baik-baik saja. Masalah ini bukan sekadar isu internal melainkan sudah menjadi pembicaraan terbuka di kalangan pemain, suporter, bahkan asosiasi sepak bola profesional.
Musim lalu menjadi catatan pahit. Klub ini tersandung masalah keterlambatan pembayaran gaji pemain. Pelatih karateker Ricky Nelson secara terbuka mengakui memang sempat ada masalah internal setalah putaran kedua, gaji pemain terlambat.
Keluhan juga datang dari Ketua The Jakmania Dicky Budi Ramadhan yang mengkritik gaya belanja pemain yang tidak seimbang dengan kemampuan finansial klub. Bahkan Asosiasi Sepakbola Profesional Indonesia (APPI) memastikan sejumlah pemain mengalami tunggakan gaji hingga 2-3 bulan.
Kondisi ini bukan hanya memengaruhi hubungan klub dengan pemain, tetapi juga menggerus kepercayaan pemangku kepentingan lainnya. Dalam industri sepak bola profesional, reputasi finansial yang buruk bisa menjadi hambatan besar dalam mendapatkan investasi dan kerja sama strategis.
"Ketidakpastian ini menimbulkan risiko besar jika Persija tetap memaksakan ingin memegang kendali penuh terhadap JIS," kata Erzan.
Tahun ini, Pramono bahkan turun tangan membantu Persija dengan menghadirkan BUMD sebagai sponsor di antaranya PAM Jaya, Bank Jakarta, MRT Jakarta, Transjakarta, termasuk Jakpro selaku pemilik aset JIS yang turut memberikan keringanan biaya sewa stadion dan memprioritaskan Persija untuk menggelar pertandingan kandang.
Langkah ini untuk membantu menutup sebagian kebutuhan operasional, namun bantuan tersebut lebih bersifat penopang sementara.
Mengelola stadion sekelas JIS bukanlah pekerjaan ringan. Biaya operasionalnya mencapai puluhan bahkan ratusan miliar rupiah per tahun, mulai dari perawatan rumput standar FIFA, keamanan, kebersihan, listrik, serta fasilitas lainnya hingga promosi acara.
Bagi klub yang masih berjuang membayar gaji tepat waktu, beban ini bukan hanya tantangan, tetapi bisa menjadi risiko besar yang memperburuk krisis finansial. Pemprov Jakarta tentu tidak ingin aset bernilai triliunan rupiah itu jatuh ke tangan pengelola yang tidak siap.
Jakpro sebagai pemilik aset akan memilih mitra yang mampu menjaga kualitas stadion, memastikan operasional berjalan lancar, dan memberi pemasukan bagi daerah. Dengan rekam jejak keuangan Persija saat ini, sulit membayangkan mereka bisa memenuhi semua prasyarat tersebut.
"Pada akhirnya, peluang bagi Persija itu ada, tetapi jaraknya dengan kenyataan sangat lebar. Persija mungkin akan terus menggunakan JIS sebagai markas kebanggaan, namun menjadi pengelola penuh stadion ini tampaknya masih sebatas mimpi yang menuntut modal besar, manajemen rapi, dan stabilitas finansial," ungkap Erzan.
(jon)
Lihat Juga :