Jelang HUT ke-80 RI, Eks Napiter Ingatkan Ancaman Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme
Selasa, 12 Agustus 2025 - 15:08 WIB
loading...
A
A
A
Suryadi menegaskan, kedaulatan sejati baru tercapai jika Indonesia mampu lepas sepenuhnya dari ancaman ideologi yang memecah belah. Ia mengkritik masih adanya narasi kelompok radikal yang seolah mendapat pembenaran dari sebagian pihak. Sehingga membelokkan persepsi masyarakat.
Menurut dia, perayaan kemerdekaan seharusnya menjadi momen untuk mengingat pengorbanan para pahlawan yang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ia menyebut, banyak orang terjerumus ke paham radikal karena minim pengetahuan sejarah bangsa dan hanya mendengar narasi sepihak.
Baca juga: BNPT-Komisi XIII DPR Kolaborasi Bangun Kerangka Persatuan di Sumut
“Saya dulu hanya menerima narasi keagamaan dan sejarah dari satu sisi, tanpa pembanding. Saat SMA, saya mulai melihat Indonesia sebagai negara yang batil. Saya tidak memikirkan perjuangan para pahlawan,” kenangnya.
Ia juga menyoroti masifnya penyebaran propaganda radikal di dunia maya. Generasi muda, khususnya Gen-Z, menjadi target empuk bukan hanya karena isi pesannya, tetapi juga kemasannya yang kreatif dan menarik. Sementara narasi tandingan tentang nasionalisme dan kebhinekaan masih disajikan secara monoton.
Menurut dia, perayaan kemerdekaan seharusnya menjadi momen untuk mengingat pengorbanan para pahlawan yang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ia menyebut, banyak orang terjerumus ke paham radikal karena minim pengetahuan sejarah bangsa dan hanya mendengar narasi sepihak.
Baca juga: BNPT-Komisi XIII DPR Kolaborasi Bangun Kerangka Persatuan di Sumut
“Saya dulu hanya menerima narasi keagamaan dan sejarah dari satu sisi, tanpa pembanding. Saat SMA, saya mulai melihat Indonesia sebagai negara yang batil. Saya tidak memikirkan perjuangan para pahlawan,” kenangnya.
Ia juga menyoroti masifnya penyebaran propaganda radikal di dunia maya. Generasi muda, khususnya Gen-Z, menjadi target empuk bukan hanya karena isi pesannya, tetapi juga kemasannya yang kreatif dan menarik. Sementara narasi tandingan tentang nasionalisme dan kebhinekaan masih disajikan secara monoton.
Lihat Juga :