Jelang HUT ke-80 RI, Eks Napiter Ingatkan Ancaman Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme
Selasa, 12 Agustus 2025 - 15:08 WIB
loading...
A
A
A
“Anak-anak tidak bisa menerima narasi kebangsaan yang membosankan. Gaya penyampaiannya harus sesuai zaman. Kisah para pahlawan harus diangkat agar generasi muda mengerti pentingnya menjaga keutuhan bangsa,” tegasnya.
Suryadi mengaku pengalamannya menjadi bukti kegagalan memahami kompromi para pendiri bangsa terkait kemajemukan Indonesia. Ia mendorong semua pihak yang berkomitmen memberantas intoleransi dan radikalisme untuk bersatu, mengingat para pelaku teror memiliki solidaritas yang kuat.
Ia juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan pesan pencegahan radikalisme dengan kondisi budaya setempat. “Jangan memaksakan narasi umum yang tidak sesuai dengan lingkungan sasaran. Sayang sekali jika sumber daya sudah keluar, tapi pesannya tidak mengena,” ujarnya.
Suryadi pernah bergabung dengan Al Qaeda di Moro, Filipina, terlibat dalam Bom Bali I sebagai pengirim bahan baku, Bom McDonald Makassar, hingga serangan teroris di Sarinah, Thamrin. Ia tiga kali keluar masuk penjara, hingga titik balik terjadi saat mendekam di Lapas Pasir Putih.
Di sana, ia ditempatkan di sel isolasi, hanya melihat matahari enam bulan sekali. Masa sepi itu ia gunakan untuk membaca karya para ulama, yang kemudian membuka jalan baginya untuk meninggalkan jalan kekerasan.
Suryadi mengaku pengalamannya menjadi bukti kegagalan memahami kompromi para pendiri bangsa terkait kemajemukan Indonesia. Ia mendorong semua pihak yang berkomitmen memberantas intoleransi dan radikalisme untuk bersatu, mengingat para pelaku teror memiliki solidaritas yang kuat.
Ia juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan pesan pencegahan radikalisme dengan kondisi budaya setempat. “Jangan memaksakan narasi umum yang tidak sesuai dengan lingkungan sasaran. Sayang sekali jika sumber daya sudah keluar, tapi pesannya tidak mengena,” ujarnya.
Suryadi pernah bergabung dengan Al Qaeda di Moro, Filipina, terlibat dalam Bom Bali I sebagai pengirim bahan baku, Bom McDonald Makassar, hingga serangan teroris di Sarinah, Thamrin. Ia tiga kali keluar masuk penjara, hingga titik balik terjadi saat mendekam di Lapas Pasir Putih.
Di sana, ia ditempatkan di sel isolasi, hanya melihat matahari enam bulan sekali. Masa sepi itu ia gunakan untuk membaca karya para ulama, yang kemudian membuka jalan baginya untuk meninggalkan jalan kekerasan.
(shf)
Lihat Juga :