Strategi Raja Dyah Balitung Pimpin Mataram, Bebaskan Pajak hingga Pelihara Bangunan Suci
Minggu, 27 Juli 2025 - 06:51 WIB
loading...
A
A
A
Selanjutnya, Dyah Balitung juga memerintahkan Mpu Sudarsana atau akai Welar untuk membangun kompleks penyeberangan bernama Paparahuan di tepian Bengawan Solo sesuai tercantum pada Prasasti Telang, 11 Januari 904. Pembebasan pajak di desa-desa sekitar Paparahuan juga menjadi faktor kebijakan ekonomi yang dicetuskan Rakai Watukura Dyah Balitung.
Raja juga melarang penduduknya memungut upah dari para penyeberang. Pembebasan pajak dilakukan di Desa Poh yang mendapatkan tugas untuk mengelola bangunan suci Sang Hyang Caitya dan Silungkung, sebagaimana pada Prasasti Poh, 17 Juli 905.
Dyah Balitung juga kerap memberikan anugerah Desa Kubu-Kubu pada Rakryan Hujung Dyah Mangarak dan Rakryan Matuha Dyah Majawuntan, karena telah berjasa memimpin dalam penaklukan daerah Bantan atau Bali, yang tercantum pada Prasasti Kubu-Kubu berangka 17 Oktober 905.
Bangunan suci juga tak lepas dari perhatian Dyah Balitung. Dia memberikan anugerah Desa Rukam pada Rakryan Sanjiwana (neneknya) yang telah merawat bangunan suci di Limwung. Terakhir Dyah Balitung juga memberikan anugerah pada lima patih bawahan yang telah menjaga keamanan saat pernikahannya, seperti yang dijelaskan di Prasasti Mantyasih.
Sayang, kejayaan Kerajaan Medang ini kembali bergolak lantaran sang Mahapatih Mpu Daksa melakukan pemberontakan menggulingkan atasannya sendiri. Nasib Mataram yang istananya telah pindah di Poh Pitu pun kembali bergolak.
Raja juga melarang penduduknya memungut upah dari para penyeberang. Pembebasan pajak dilakukan di Desa Poh yang mendapatkan tugas untuk mengelola bangunan suci Sang Hyang Caitya dan Silungkung, sebagaimana pada Prasasti Poh, 17 Juli 905.
Dyah Balitung juga kerap memberikan anugerah Desa Kubu-Kubu pada Rakryan Hujung Dyah Mangarak dan Rakryan Matuha Dyah Majawuntan, karena telah berjasa memimpin dalam penaklukan daerah Bantan atau Bali, yang tercantum pada Prasasti Kubu-Kubu berangka 17 Oktober 905.
Bangunan suci juga tak lepas dari perhatian Dyah Balitung. Dia memberikan anugerah Desa Rukam pada Rakryan Sanjiwana (neneknya) yang telah merawat bangunan suci di Limwung. Terakhir Dyah Balitung juga memberikan anugerah pada lima patih bawahan yang telah menjaga keamanan saat pernikahannya, seperti yang dijelaskan di Prasasti Mantyasih.
Sayang, kejayaan Kerajaan Medang ini kembali bergolak lantaran sang Mahapatih Mpu Daksa melakukan pemberontakan menggulingkan atasannya sendiri. Nasib Mataram yang istananya telah pindah di Poh Pitu pun kembali bergolak.
(jon)
Lihat Juga :