Cerita Pemuda Bandung Bantu UMKM Naik Kelas di Era Digital
Rabu, 16 Juli 2025 - 16:43 WIB
loading...
Ilustrasi/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah ( UMKM ) di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Sebagai salah satu pilar penting dalam perekonomian Indonesia, UMKM perlu melek digital .
Peran UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia diperlihatkan dari kontribusinya sebanyak lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97% tenaga kerja. Sampai saat ini, jumlah UMKM mencapai lebih dari 64 juta unit usaha.
Melihat potensi UMKM tersebut, Kiki Abdul Rachman, pemuda asal Bandung , Jawa Barat, mengembangkan ide dan kreativitasnya dengan membuat sebuah platform digital marketing guna membantu para pelaku UMKM.
Baca Juga: Ketangguhan UMKM
Pria kelahiran 1 Mei 1990 ini mendirikan Dimaloka, perusahaan layanan jasa optimasi marketplace. Sejak 2020, Kiki berhasil mengembangkan layanan tersebut sekaligus mewujudkan visi membantu brand lokal naik kelas di era digital.
"Saat itu, saya melihat masih banyak UMKM yang mengandalkan cara konvensional dalam berjualan di media sosial dan marketplace. Padahal, peluang di dunia online sangatlah besar," ujar Kiki, Rabu (16/7/2025).
Menurut Kiki, perjalanan membangun bisnis digital marketing, tidaklah mudah. Alumni perguruan tinggi di Bandung ini mengakui sempat mengalami penolakan dari banyak brand karena dianggap belum berpengalaman.
"Beberapa kali kami ditolak brand karena dianggap belum cukup berpengalaman. Namun justru dari sanalah muncul semangat untuk terus mengasah kemampuan, berinovasi, dan membuktikan kualitas," kenangnya.
Kiki dan timnya sering belajar hingga larut malam untuk memahami algoritma marketplace serta strategi Facebook Ads guna meningkatkan penjualan klien. Upaya keras tersebut membuahkan hasil, klien dari berbagai kota mulai berdatangan hingga dipercaya menangani kampanye digital skala besar.
"Buat kami, digital marketing bukan hanya soal tampil keren, tapi soal hasil. Itulah mengapa kami terus memonitor performa kampanye secara detail dan memberikan report transparan, agar klien bisa melihat langsung peningkatan traffic, konversi, hingga omzet," jelasnya.
Pengalaman berkesan Kiki adalah ketika membantu seorang pemilik brand fashion muslim dari Makassar, Sulawesi Selatan. Awalnya, klien tersebut hanya memesan website sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi pendampingan menyeluruh mulai dari strategi live selling di Instagram hingga pengaturan iklan Facebook.
Beberapa bulan kemudian, klien tersebut menghubunginya sambil membawa kabar bahwa omzetnya melonjak. "Itu momen yang bikin kami merasa bisnis ini lebih dari sekadar jual jasa, tapi bisa benar-benar mengubah hidup orang lain," ujarnya.
Menurut Kiki, kunci bertahan dalam bisnis digital marketing adalah komitmen untuk terus belajar dan beradaptasi. "Dunia digital itu cepat sekali berubah. Algoritma marketplace dan social media bisa berubah kapan saja. Kami rutin ikut workshop, mentoring, hingga uji coba strategi baru supaya tetap relevan."
Peran UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia diperlihatkan dari kontribusinya sebanyak lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97% tenaga kerja. Sampai saat ini, jumlah UMKM mencapai lebih dari 64 juta unit usaha.
Melihat potensi UMKM tersebut, Kiki Abdul Rachman, pemuda asal Bandung , Jawa Barat, mengembangkan ide dan kreativitasnya dengan membuat sebuah platform digital marketing guna membantu para pelaku UMKM.
Baca Juga: Ketangguhan UMKM
Pria kelahiran 1 Mei 1990 ini mendirikan Dimaloka, perusahaan layanan jasa optimasi marketplace. Sejak 2020, Kiki berhasil mengembangkan layanan tersebut sekaligus mewujudkan visi membantu brand lokal naik kelas di era digital.
"Saat itu, saya melihat masih banyak UMKM yang mengandalkan cara konvensional dalam berjualan di media sosial dan marketplace. Padahal, peluang di dunia online sangatlah besar," ujar Kiki, Rabu (16/7/2025).
Menurut Kiki, perjalanan membangun bisnis digital marketing, tidaklah mudah. Alumni perguruan tinggi di Bandung ini mengakui sempat mengalami penolakan dari banyak brand karena dianggap belum berpengalaman.
"Beberapa kali kami ditolak brand karena dianggap belum cukup berpengalaman. Namun justru dari sanalah muncul semangat untuk terus mengasah kemampuan, berinovasi, dan membuktikan kualitas," kenangnya.
Kiki dan timnya sering belajar hingga larut malam untuk memahami algoritma marketplace serta strategi Facebook Ads guna meningkatkan penjualan klien. Upaya keras tersebut membuahkan hasil, klien dari berbagai kota mulai berdatangan hingga dipercaya menangani kampanye digital skala besar.
"Buat kami, digital marketing bukan hanya soal tampil keren, tapi soal hasil. Itulah mengapa kami terus memonitor performa kampanye secara detail dan memberikan report transparan, agar klien bisa melihat langsung peningkatan traffic, konversi, hingga omzet," jelasnya.
Pengalaman berkesan Kiki adalah ketika membantu seorang pemilik brand fashion muslim dari Makassar, Sulawesi Selatan. Awalnya, klien tersebut hanya memesan website sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi pendampingan menyeluruh mulai dari strategi live selling di Instagram hingga pengaturan iklan Facebook.
Beberapa bulan kemudian, klien tersebut menghubunginya sambil membawa kabar bahwa omzetnya melonjak. "Itu momen yang bikin kami merasa bisnis ini lebih dari sekadar jual jasa, tapi bisa benar-benar mengubah hidup orang lain," ujarnya.
Menurut Kiki, kunci bertahan dalam bisnis digital marketing adalah komitmen untuk terus belajar dan beradaptasi. "Dunia digital itu cepat sekali berubah. Algoritma marketplace dan social media bisa berubah kapan saja. Kami rutin ikut workshop, mentoring, hingga uji coba strategi baru supaya tetap relevan."
(zik)
Lihat Juga :