Bina Insan Mulia Cirebon Wisuda 309 Hafiz-Hafizah, Hafal Qur'an Hanya dalam 4 Bulan
Minggu, 29 Juni 2025 - 18:43 WIB
loading...
A
A
A
Metode BIMAQU, yang merupakan singkatan dari Bina Insan Mulia Quranic Method, telah diterapkan selama beberapa tahun terakhir dan telah mencetak ribuan hafiz-hafizah. Para lulusan program ini juga telah melanjutkan studi ke berbagai kampus ternama, baik di dalam negeri maupun Timur Tengah. Bahkan, BIM 1 pernah dinobatkan sebagai pesantren dengan jumlah hafidz terbanyak oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Selain kecepatan dalam menghafal, program tahfiz ini diberikan secara gratis kepada seluruh santri. "Dulu saya harus keluarkan Rp20 juta untuk anak saya agar bisa hafal Al-Qur'an. Di BIM ini, santri bisa hafal tanpa biaya," tutur Kiai Imam sebagai bentuk kepedulian sosial pesantren.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hafalan ini belum mencapai level mutqin (hafalan yang kokoh dan matang). "Mutqin itu proses seumur hidup. Namun hafalan 30 juz ini sudah menjadi bekal penting untuk studi lanjut, terutama ke Timur Tengah," ujarnya.
Kepada para wali santri, Kiai Imam menekankan pentingnya rasa syukur yang dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan sekadar ucapan. Ia juga mengingatkan para santri agar tidak hanya berhenti pada hafalan, tetapi juga memahami isi Al-Qur'an. "Jangan sampai hanya hafal, tapi tidak paham, karena bisa tergelincir pada sikap merasa paling benar dan menyalahkan orang lain," pesannya.
Sementara kepada santri yang belum hafal 30 juz, ia memberikan motivasi. "Kalian tetap luar biasa. Saya sendiri saat di Mesir hanya hafal 8 juz. Anak-anak saya pun bukan hafiz dari pesantren ini, tapi dari pesantren lain," katanya.
Selain kecepatan dalam menghafal, program tahfiz ini diberikan secara gratis kepada seluruh santri. "Dulu saya harus keluarkan Rp20 juta untuk anak saya agar bisa hafal Al-Qur'an. Di BIM ini, santri bisa hafal tanpa biaya," tutur Kiai Imam sebagai bentuk kepedulian sosial pesantren.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hafalan ini belum mencapai level mutqin (hafalan yang kokoh dan matang). "Mutqin itu proses seumur hidup. Namun hafalan 30 juz ini sudah menjadi bekal penting untuk studi lanjut, terutama ke Timur Tengah," ujarnya.
Kepada para wali santri, Kiai Imam menekankan pentingnya rasa syukur yang dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan sekadar ucapan. Ia juga mengingatkan para santri agar tidak hanya berhenti pada hafalan, tetapi juga memahami isi Al-Qur'an. "Jangan sampai hanya hafal, tapi tidak paham, karena bisa tergelincir pada sikap merasa paling benar dan menyalahkan orang lain," pesannya.
Sementara kepada santri yang belum hafal 30 juz, ia memberikan motivasi. "Kalian tetap luar biasa. Saya sendiri saat di Mesir hanya hafal 8 juz. Anak-anak saya pun bukan hafiz dari pesantren ini, tapi dari pesantren lain," katanya.
(abd)
Lihat Juga :