Warga Sumbar Minta Penulisan Sejarah yang Baru Jangan Lupakan Lagi Bagindo Dahlan Abdullah
Selasa, 24 Juni 2025 - 19:47 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Ketua Umum Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPP Polri) ini, Dahlan pertama kalinya mengucapkan kalimat “Wij Indonesier” dalam sebuah ceramah publik yang bernuansa politis dalam acara Indisch Studiecongres dalam rangka lustrum perkumpulan mahasiswa Indologi (Indologenvereeniging) di Leiden pada 23 November 1917.
Bahkan, Dahlan setahun sebelumnya yaitu 1916 atas desakan Soewardi Soerjaningrat berbicara di depan umum untuk pertama kalinya di Kongres Pendidikan Kolonial 1916 (Eerste Koloniaal Onderwijscongres) dan menganjurkan peran guru pribumi dalam pengajaran di Indonesia.
Kiprah Dahlan dalam pergerakan Indonesia banyak tercatat dalam dokumen di Universitas Leiden, almamater dari Dahlan Abdullah dan sejumlah perpustakaan lain di Belanda.
Sosok Dahlan juga ditulis ke dalam buku oleh Dr Suryadi berjudul: Baginda Dahlan Abdullah (1895-1950) Penyemai Nasionalisme Indonesia dan Diplomat Pionir yang Terlupakan dan buku Baginda Dahlan Abdullah-Bapak Kebangsaan Indonesia karya Hasril Chaniago, Nopriyasman, dan Iqbal Alan Abdullah.
Setelah kembali ke Tanah Air tahun 1922, selain aktif mengajar Dahlan terlibat dalam perjuangan kemerdekaan berlanjut di Partai Indonesia Raya (Parindra) seangkatan dengan M Husni Thamrin. Di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan berjuang bersama Soekarno, M Hatta, KH M Mansoer, Ki Hadjar Dewantara, Soetardjo, Prof Dr Hoesein Djajadiningrat, Soekardjo Wirjopranoto, Prof Mr Soepomo, dan lainnya, termasuk menjadi Wali Kota Jakarta hingga menjadi diplomat pionir.
Cucu Haji Bagindo Dahlan Abdullah, Dr Mochamad Indrawan mendukung Fadli Zon untuk meluruskan sejarah Indonesia termasuk memasukkan nama tokoh yang sempat disebut-sebut hilang seperti KH Hasyim Asy’ari dan Haji Bagindo Dahlan Abdullah, tokoh pergerakan Indonesia prakemerdekaan di Belanda.
Bahkan, Dahlan setahun sebelumnya yaitu 1916 atas desakan Soewardi Soerjaningrat berbicara di depan umum untuk pertama kalinya di Kongres Pendidikan Kolonial 1916 (Eerste Koloniaal Onderwijscongres) dan menganjurkan peran guru pribumi dalam pengajaran di Indonesia.
Kiprah Dahlan dalam pergerakan Indonesia banyak tercatat dalam dokumen di Universitas Leiden, almamater dari Dahlan Abdullah dan sejumlah perpustakaan lain di Belanda.
Sosok Dahlan juga ditulis ke dalam buku oleh Dr Suryadi berjudul: Baginda Dahlan Abdullah (1895-1950) Penyemai Nasionalisme Indonesia dan Diplomat Pionir yang Terlupakan dan buku Baginda Dahlan Abdullah-Bapak Kebangsaan Indonesia karya Hasril Chaniago, Nopriyasman, dan Iqbal Alan Abdullah.
Setelah kembali ke Tanah Air tahun 1922, selain aktif mengajar Dahlan terlibat dalam perjuangan kemerdekaan berlanjut di Partai Indonesia Raya (Parindra) seangkatan dengan M Husni Thamrin. Di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan berjuang bersama Soekarno, M Hatta, KH M Mansoer, Ki Hadjar Dewantara, Soetardjo, Prof Dr Hoesein Djajadiningrat, Soekardjo Wirjopranoto, Prof Mr Soepomo, dan lainnya, termasuk menjadi Wali Kota Jakarta hingga menjadi diplomat pionir.
Cucu Haji Bagindo Dahlan Abdullah, Dr Mochamad Indrawan mendukung Fadli Zon untuk meluruskan sejarah Indonesia termasuk memasukkan nama tokoh yang sempat disebut-sebut hilang seperti KH Hasyim Asy’ari dan Haji Bagindo Dahlan Abdullah, tokoh pergerakan Indonesia prakemerdekaan di Belanda.
Lihat Juga :