Warga Sumbar Minta Penulisan Sejarah yang Baru Jangan Lupakan Lagi Bagindo Dahlan Abdullah
Selasa, 24 Juni 2025 - 19:47 WIB
loading...
A
A
A
Fadli Zon dalam acara bedah buku Baginda Dahlan Abdullah (1895-1950) Penyemai Nasionalisme Indonesia dan Diplomat Pionir yang Terlupakan karya Dr Suryadi di BRIN, Jakarta, 17 Januari 2024 mengatakan, sudah berkali-kali ziarah ke makam tokoh ini di Baghdad terakhir 11 November 2023.
Dahlan dimakamkan di tempat terhormat di Masjid Syekh Abdul Qadir Jailani di Baghdad, Irak atas saran H Agus Salim. Bahkan, Irak menyatakan libur nasional lima hari ketika Dahlan Abdullah meninggal dunia.
Dalam dunia pendidikan, Dahlan turut mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kelak menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta melalui rapat Masyoemi tahun 1945 bersama tokoh besar lain seperti KH Abdul Wahid, KH Bisri, KH Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, KH Mas Mansur, KH Hasyim, KH Faried Ma’ruf, KH Abdul Mukti, KH Imam Ghazali, Dr Soekiman Wirjosandjojo, Wondoamiseno, Anwar Cokroaminoto, Harsono Cokroaminoto, Mr Moch Roem, dan lainnya.
Dahlan Abdullah lahir di Pasia, Pariaman pada 15 Juni 1895 dan meninggal dunia dalam tugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Irak, Syria, dan Trans-Jordania pada 12 Mei 1950. Kemudian, dimakamkan dengan upacara kebesaran di Masjid Syekh Abdul Qadir Jailani di Baghdad, Irak.
Bagindo Dahlan Abdullah satu sekolah dengan Tan Malaka di Sekolah Raja (Kweekschool) di Bukittinggi. Mereka adalah teman sekelas. Lulus dari Kweekschool, atas sokongan keluarga dan karena kepandaiannya, Dahlan dikirim belajar ke Belanda bersama dua sepupunya, Zainuddin Rasad dan Jamaluddin Rasad.
Dalam beberapa catatan menunjukkan, ketika M Hatta di Belanda dia pernah menginap di tempat Dahlan Abdullah. Ini menunjukkan mereka berdua sahabat dekat, bahkan Dahlan menemani Hatta berkeliling Eropa sekaligus mengenalkannya pada tokoh-tokoh nasionalis Indonesia di sana.
Dahlan dimakamkan di tempat terhormat di Masjid Syekh Abdul Qadir Jailani di Baghdad, Irak atas saran H Agus Salim. Bahkan, Irak menyatakan libur nasional lima hari ketika Dahlan Abdullah meninggal dunia.
Dalam dunia pendidikan, Dahlan turut mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kelak menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta melalui rapat Masyoemi tahun 1945 bersama tokoh besar lain seperti KH Abdul Wahid, KH Bisri, KH Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, KH Mas Mansur, KH Hasyim, KH Faried Ma’ruf, KH Abdul Mukti, KH Imam Ghazali, Dr Soekiman Wirjosandjojo, Wondoamiseno, Anwar Cokroaminoto, Harsono Cokroaminoto, Mr Moch Roem, dan lainnya.
Dahlan Abdullah lahir di Pasia, Pariaman pada 15 Juni 1895 dan meninggal dunia dalam tugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Irak, Syria, dan Trans-Jordania pada 12 Mei 1950. Kemudian, dimakamkan dengan upacara kebesaran di Masjid Syekh Abdul Qadir Jailani di Baghdad, Irak.
Bagindo Dahlan Abdullah satu sekolah dengan Tan Malaka di Sekolah Raja (Kweekschool) di Bukittinggi. Mereka adalah teman sekelas. Lulus dari Kweekschool, atas sokongan keluarga dan karena kepandaiannya, Dahlan dikirim belajar ke Belanda bersama dua sepupunya, Zainuddin Rasad dan Jamaluddin Rasad.
Dalam beberapa catatan menunjukkan, ketika M Hatta di Belanda dia pernah menginap di tempat Dahlan Abdullah. Ini menunjukkan mereka berdua sahabat dekat, bahkan Dahlan menemani Hatta berkeliling Eropa sekaligus mengenalkannya pada tokoh-tokoh nasionalis Indonesia di sana.
(jon)
Lihat Juga :