Traktat London Bikin Belanda Tak Sembarangan Caplok Aceh pada Abad 19
Jum'at, 20 Juni 2025 - 14:26 WIB
loading...
A
A
A
Pusat negara Aceh meliputi wilayah yang disebut Aceh Besar dengan ibu kota yang dinamakan Banda Aceh Darussalam. Sultan Aceh berhasil memperluas dan memperkuat kekuasaannya berkat majunya perdagangan.
Tanpa kesukaran, penguasa daerah lainnya dapat ditundukkan sehingga mulai abad ke-16 semakin luas daerah kekuasaan Aceh Darussalam. Walaupun daerah dan negara yang ada di Sumatera Utara ini menyatakan tunduk kepada Aceh, mereka tetap bebas dan mempunyai otonomi yang sebesar-besarnya.
Kekuasaan Aceh semakin memuncak di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636. Dia menguasai jalur pantai baik sebelah barat maupun sebelah timur dan pedagang dipaksa singgah di pelabuhan Aceh. Alhasil, kekayaan Sultan dari cukai barang dagangan semakin bertambah.
Menurut catatan seorang pedagang bangsa Prancis yang datang di Aceh pada tahun 1621, daerah-daerah yang berada di bawah pengaruh Aceh adalah Labo, Singkil, Barus, Batanghari, Pasaman, Tiku, Pariaman, Padang, serta Salida.
Tanpa kesukaran, penguasa daerah lainnya dapat ditundukkan sehingga mulai abad ke-16 semakin luas daerah kekuasaan Aceh Darussalam. Walaupun daerah dan negara yang ada di Sumatera Utara ini menyatakan tunduk kepada Aceh, mereka tetap bebas dan mempunyai otonomi yang sebesar-besarnya.
Kekuasaan Aceh semakin memuncak di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636. Dia menguasai jalur pantai baik sebelah barat maupun sebelah timur dan pedagang dipaksa singgah di pelabuhan Aceh. Alhasil, kekayaan Sultan dari cukai barang dagangan semakin bertambah.
Menurut catatan seorang pedagang bangsa Prancis yang datang di Aceh pada tahun 1621, daerah-daerah yang berada di bawah pengaruh Aceh adalah Labo, Singkil, Barus, Batanghari, Pasaman, Tiku, Pariaman, Padang, serta Salida.
(jon)
Lihat Juga :