Tekad Wali Kota Aminullah Bangkitkan UMKM di Banda Aceh
Selasa, 08 September 2020 - 19:36 WIB
loading...
A
A
A
Dalam masa jabatannya sebagai wali kota bersama Wakil Wali Kota Zainal Arifin sejak dilantik pada pertengahan 2017 lalu, keduanya hingga kini pun terus konsisten menjadikan UMKM sebagai motor penggerak perekonomian.
“Hal ini sejalan dengan visi misi kita, yaitu “Banda Aceh Gemilang dalam Bingkai Syariah” yang mem-plot sektor ekonomi sebagai salah satu pilar pembangunan kota, di samping sektor agama dan pendidikan,” kata Aminullah, Jumat 4 September 2020, di Pendopo.
UMKM tumbuh subur di Banda Aceh. Di himpun per Mei 2020, jumlahnya mencapai 12.970 unit. Dalam perbandingan, pada 2018 jumlah UMKM tercatat 10.994 unit dan 2019 sebanyak 12.012 unit usaha. “Ditunjang kinerja Mahirah Muamalah Syariah pula, kita mampu menurunkan persentase ketergantungan pengusaha kecil kepada rentenir dari 80 persen menjadi 14 persen saja,” kata Aminullah.
Bala dan musibah tak bisa ditebak, pada penghujung 2019, Coronavirus Disease 2019 pun merebak. Ekonomi dunia jatuh diakibatkan penerapan sistem Lock Down di setiap daerah. Aminullah diuji, dari kesuksesannya menggenjot sektor wisata yang berdampak pada pelaku usaha selama ini pun kian merosot.
Menghadapi situasi krisis ini, Aminullah belum kehabisan akal, ia pun terus meningkatkan ekonomi masyarakat di Banda Aceh, yakni dengan memanfaatkan para pelaku UMKM untuk membuat masker kain homemade. “Dengan dana Rp1 miliar, kita beli masker yang dijahit dengan khusus itu untuk dibagikan kembali bagi masyarakat umum.”
Dari berbagai upaya yang telah dilakukan, perputaran uang di Banda Aceh kembali membaik. Di samping itu, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), IPM Banda Aceh pada 2019 tercatat 85,07. Dari 514 kabupaten/kota se-Indonesia, Banda Aceh hanya berada satu strip di bawah Yogyakarta yang berada di peringkat pertama (86,65). Sementara posisi tiga ditempati oleh Jakarta Selatan (84,75). IPM yang dibukukan Banda Aceh pun jauh di atas provinsi, yakni 71,90 dan nasional 71,92.
Menanjaknya IPM Banda Aceh tak terlepas dari terus menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran. Angka kemiskinan pada 2017 tercatat sebesar 7,44 persen, 2018 7,25 persen, dan 2019 terus menurun hingga 7,22 persen. Sementara pengangguran pada 2019 hanya tersisa 6,92 persen, turun jauh dari 12 persen yang dibukukan pada 2015 silam.
“Hal ini sejalan dengan visi misi kita, yaitu “Banda Aceh Gemilang dalam Bingkai Syariah” yang mem-plot sektor ekonomi sebagai salah satu pilar pembangunan kota, di samping sektor agama dan pendidikan,” kata Aminullah, Jumat 4 September 2020, di Pendopo.
UMKM tumbuh subur di Banda Aceh. Di himpun per Mei 2020, jumlahnya mencapai 12.970 unit. Dalam perbandingan, pada 2018 jumlah UMKM tercatat 10.994 unit dan 2019 sebanyak 12.012 unit usaha. “Ditunjang kinerja Mahirah Muamalah Syariah pula, kita mampu menurunkan persentase ketergantungan pengusaha kecil kepada rentenir dari 80 persen menjadi 14 persen saja,” kata Aminullah.
Bala dan musibah tak bisa ditebak, pada penghujung 2019, Coronavirus Disease 2019 pun merebak. Ekonomi dunia jatuh diakibatkan penerapan sistem Lock Down di setiap daerah. Aminullah diuji, dari kesuksesannya menggenjot sektor wisata yang berdampak pada pelaku usaha selama ini pun kian merosot.
Menghadapi situasi krisis ini, Aminullah belum kehabisan akal, ia pun terus meningkatkan ekonomi masyarakat di Banda Aceh, yakni dengan memanfaatkan para pelaku UMKM untuk membuat masker kain homemade. “Dengan dana Rp1 miliar, kita beli masker yang dijahit dengan khusus itu untuk dibagikan kembali bagi masyarakat umum.”
Dari berbagai upaya yang telah dilakukan, perputaran uang di Banda Aceh kembali membaik. Di samping itu, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), IPM Banda Aceh pada 2019 tercatat 85,07. Dari 514 kabupaten/kota se-Indonesia, Banda Aceh hanya berada satu strip di bawah Yogyakarta yang berada di peringkat pertama (86,65). Sementara posisi tiga ditempati oleh Jakarta Selatan (84,75). IPM yang dibukukan Banda Aceh pun jauh di atas provinsi, yakni 71,90 dan nasional 71,92.
Menanjaknya IPM Banda Aceh tak terlepas dari terus menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran. Angka kemiskinan pada 2017 tercatat sebesar 7,44 persen, 2018 7,25 persen, dan 2019 terus menurun hingga 7,22 persen. Sementara pengangguran pada 2019 hanya tersisa 6,92 persen, turun jauh dari 12 persen yang dibukukan pada 2015 silam.
Lihat Juga :