Mengenal Daerah Cempa yang Jadi Asal Usul Sunan Ampel, Wali Songo Tertua di Pulau Jawa
Rabu, 11 Juni 2025 - 08:42 WIB
loading...
Sunan Ampel menjadi salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Dia dikenal sebagai Wali Songo tertua dari wali-wali lainnya. Foto: Ist
A
A
A
SUNANAmpel menjadi salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Dia dikenal sebagai Wali Songo tertua dari wali-wali lainnya. Bernama kecil Raden Rahmat, dia berasal dari daerah Cempa atau ada yang menyebutnya Campa.
Asal usul Cempa masih menjadi misteri di catatan sejarah. Jika mengacu pada cerita-cerita Jawa yang menyangkut asal usul Sunan Ampel, dua pendapat dari Dr Rouffaer dan Dr Cowan mencoba mengidentifikasi kata Cempa yang merupakan asal usul Sunan Ampel.
Baca juga: Kesaktian Sunan Ampel Tak Tembus Ditikam Keris Lembu Peteng
Keduanya mengidentifikasikan Cempa sebagai Jeumpa yang ada di Aceh di antara perbatasan Samalangan atau Simelungan.
Pendapat yang mengidentifikasikan Cempa sesuai pernyataan De Graaf dan Pigeaud, Jeumpa Aceh kelihatannya diperkuat juga oleh rute perjalanan yang telah ditempuh oleh orang suci Islam lain seperti Syekh Ibnu Maulana dari Tanah Arab ke Jawa yaitu Aceh, Pasai, Campa, Johor, Cirebon.
Apabila Cempa diartikan sama dengan Jeumpa ditukar tempatnya dengan Pasai, maka rute perjalanannya lebih masuk akal.
Dikutip dari buku "Kerajaan Islam Pertama di Jawa : Tinjauan Sejarah Politik Abadi XV dan XVI", dari HJ De Graaf dan TH Pigeaud, maka ini menimbulkan dugaan bahwa Cempa atau Jeumpa dan Kota Pasai yang jauh lebih terkenal itu saling berhubungan.
Pendapat kedua tentang letak Cempa ini diperkuat sastra sejarah Melayu dan Jawa. Cerita Sajarah Melayu pada bab 21 memuat riwayat singkat Kerajaan Campa.
Di situ secara khusus diberitakan bahwa penduduknya tidak makan daging sapi dan tidak menyembelih sapi. Hal ini mungkin juga menunjukkan bahwa mereka itu beragama Hindu atau Buddha. Semula daerah itu wilayah taklukkan Raja Majapahit.
Menurut Sajarah Melayu, Raja Campa yang terakhir adalah Pau Kubah yang kawin dengan putri dari Lakiu. Raja Kerajaan Kuci meminang salah seorang putri mereka, tetapi pinangannya ditolak. Ini mengakibatkan pecah perang antara Campa dan Kuci.
Sumber - sumber lain yang dinyatakan De Graaf dan Pigeaud bahwa Campa pada 1471 direbut oleh orang-orang Annam (Vietnam). Tarikh ini bertepatan dengan tahun-tahun pemerintahan Sultan Mansur di Malaka (1458-1477) yang telah memberi suaka kepada pangeran dari Campa yang melarikan diri.
Sajarah Melayu tidak menghubungkan Cempa dengan Jawa Timur. Namun, sejarah Cempa disebut juga dalam Hikayat Hasanuddin versi Banten. Dalam hikayat ini dikisahkan bahwa Kerajaan Campa ditaklukkan oleh raja dari Koci waktu Raden Rahmat bermukim di Jawa. Jadi, Raden Rahmat bersama saudaranya tentunya sebelum tahun 1471 sudah berangkat dari Cempa ke Jawa Timur.
Sementara, Hikayat Hasanuddin menimbulkan dugaan bahwa waktu menetapnya Raden Rahmat di Surabaya itu harus diletakkan dalam perempat ketiga abad XV. Ini akan sesuai benar dengan tarikh yang tercantum pada makam Putri Campa, 1448.
Dari sejarah Campa masih ada tahun yang diketahui dari sumber-sumber lain yaitu 1446. Pada waktu itu seorang raja Annam Le Nhantong telah menduduki ibu kota Campa dan menawan rajanya.
Campa juga dihubungkan dengan perempuan islam yang konon dibawa ke istana Majapahit pada pertengahan abad 15. Konon sejak dahulu Kerajaan Majapahit juga selalu mempunyai hubungan baik dengan Cempa. Kemudian perempuan islam itu meninggal pada 1448 dan dimakamkan secara islam dengan nama Putri Cempa.
Asal usul Cempa masih menjadi misteri di catatan sejarah. Jika mengacu pada cerita-cerita Jawa yang menyangkut asal usul Sunan Ampel, dua pendapat dari Dr Rouffaer dan Dr Cowan mencoba mengidentifikasi kata Cempa yang merupakan asal usul Sunan Ampel.
Baca juga: Kesaktian Sunan Ampel Tak Tembus Ditikam Keris Lembu Peteng
Keduanya mengidentifikasikan Cempa sebagai Jeumpa yang ada di Aceh di antara perbatasan Samalangan atau Simelungan.
Pendapat yang mengidentifikasikan Cempa sesuai pernyataan De Graaf dan Pigeaud, Jeumpa Aceh kelihatannya diperkuat juga oleh rute perjalanan yang telah ditempuh oleh orang suci Islam lain seperti Syekh Ibnu Maulana dari Tanah Arab ke Jawa yaitu Aceh, Pasai, Campa, Johor, Cirebon.
Apabila Cempa diartikan sama dengan Jeumpa ditukar tempatnya dengan Pasai, maka rute perjalanannya lebih masuk akal.
Dikutip dari buku "Kerajaan Islam Pertama di Jawa : Tinjauan Sejarah Politik Abadi XV dan XVI", dari HJ De Graaf dan TH Pigeaud, maka ini menimbulkan dugaan bahwa Cempa atau Jeumpa dan Kota Pasai yang jauh lebih terkenal itu saling berhubungan.
Pendapat kedua tentang letak Cempa ini diperkuat sastra sejarah Melayu dan Jawa. Cerita Sajarah Melayu pada bab 21 memuat riwayat singkat Kerajaan Campa.
Di situ secara khusus diberitakan bahwa penduduknya tidak makan daging sapi dan tidak menyembelih sapi. Hal ini mungkin juga menunjukkan bahwa mereka itu beragama Hindu atau Buddha. Semula daerah itu wilayah taklukkan Raja Majapahit.
Menurut Sajarah Melayu, Raja Campa yang terakhir adalah Pau Kubah yang kawin dengan putri dari Lakiu. Raja Kerajaan Kuci meminang salah seorang putri mereka, tetapi pinangannya ditolak. Ini mengakibatkan pecah perang antara Campa dan Kuci.
Sumber - sumber lain yang dinyatakan De Graaf dan Pigeaud bahwa Campa pada 1471 direbut oleh orang-orang Annam (Vietnam). Tarikh ini bertepatan dengan tahun-tahun pemerintahan Sultan Mansur di Malaka (1458-1477) yang telah memberi suaka kepada pangeran dari Campa yang melarikan diri.
Sajarah Melayu tidak menghubungkan Cempa dengan Jawa Timur. Namun, sejarah Cempa disebut juga dalam Hikayat Hasanuddin versi Banten. Dalam hikayat ini dikisahkan bahwa Kerajaan Campa ditaklukkan oleh raja dari Koci waktu Raden Rahmat bermukim di Jawa. Jadi, Raden Rahmat bersama saudaranya tentunya sebelum tahun 1471 sudah berangkat dari Cempa ke Jawa Timur.
Sementara, Hikayat Hasanuddin menimbulkan dugaan bahwa waktu menetapnya Raden Rahmat di Surabaya itu harus diletakkan dalam perempat ketiga abad XV. Ini akan sesuai benar dengan tarikh yang tercantum pada makam Putri Campa, 1448.
Dari sejarah Campa masih ada tahun yang diketahui dari sumber-sumber lain yaitu 1446. Pada waktu itu seorang raja Annam Le Nhantong telah menduduki ibu kota Campa dan menawan rajanya.
Campa juga dihubungkan dengan perempuan islam yang konon dibawa ke istana Majapahit pada pertengahan abad 15. Konon sejak dahulu Kerajaan Majapahit juga selalu mempunyai hubungan baik dengan Cempa. Kemudian perempuan islam itu meninggal pada 1448 dan dimakamkan secara islam dengan nama Putri Cempa.
(jon)
Lihat Juga :