Kisah Jenderal Kopassus Soegito, Jual Sepeda Kesayangan demi Ikut Seleksi Masuk AMN
Rabu, 04 Juni 2025 - 10:03 WIB
loading...
A
A
A
Walaupun ongkos jalan dan penginapan di Semarang mendapat penggantian dari Panitia Seleksi AMN, tetap saja masih diperlukan biaya tambahan.
Oleh sebab itu, Soegito lalu menjual sepedanya yang telah dipakainya selama lebih dari tiga tahun, yaitu sejak di SMP Cilacap sampai SMA di Purwokerto. Lumayanlah dapat tambahan dana.
Pada saat datang panggilan terakhir ke Semarang di tahun 1958, maka setiap calon harus membawa ijazah asli kelulusannya. Begitu juga Soegito, ia harus mendapatkan ijazah SMA sebelum menemui personel bagian penerimaan taruna di Semarang. Untuk itu ia harus menghadap Kepala Sekolah Soemarmo.
Soegito menyampaikan maksudnya kepada kepala sekolah untuk mengambil ijazah. Sambil mengangguk-anggukan kepalanya, Soemarno lalu membuka sebuah buku besar. Matanya bergerak cepat mencari nama Soegito di antara daftar nama siswa.
"Wah, siswa Gito kamu belum melunasi pembayaran uang gedung," tuturnya datar yang ditanggapi Soegito sambil diam dan sedikit menundukkan kepala.
"Tapi maaf saya sudah tidak punya uang lagi Pak karena sudah bolak-balik ke Semarang dan besok harus kembali ke Semarang terus ke Cimahi," jawabnya gelagapan.
Sempat terpikir meminjam uang kepada kakaknya, tapi Soegito merasa malu. Bayangan ibunya melintas saat terakhir memberikan uang untuk membayar keperluan terkait kelulusan di sekolahnya. Namun uangnya sudah terpakai untuk berbagai keperluan termasuk ongkos ke Semarang.
"Tapi siswa Gito harus membayarnya, bagaimana," suara Pak Marmo meninggi dan langsung membuyarkan lamunannya.
"Pak, saya benar-benar sudah tidak punya uang," pinta Soegito. "Ya sudah, nih," jawab kepala sekolah sambil menyodorkan ijazahnya dengan agak terpaksa.
Selain harus mengantongi ijazah, seorang calon juga sudah harus membawa surat keterangan tanda persetujuan dari orang tua untuk mengikuti pendidikan AMN. Kalau harus pergi lagi ke Cilacap, jelas saja butuh waktu dan ongkos. Sementara uangnya sudah pas-pasan.
Saat itu dari Purwokerto ke Cilacap cukup menyita waktu karena terbatasnya jumlah bus dan kondisi jalan yang rusak berat. Perjalanan darat sekitar dua sampai tiga jam melalui Sokaraja, Banyumas, Kota Buntu, Kroya, lalu melewati jembatan Serayu sebelum tiba di Cilacap.
Jalan lainnya melewati jembatan Maos tidak bisa dilewati karena kondisi jembatannya masih rusak setelah sengaja dihancurkan gerilyawan semasa Perang Kemerdekaan. "Makanya saya makin malas ke Cilacap," ucap Soegito.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Soegito pun akhirnya menemukan cara paling mudah. Memalsukan tanda tangan bapaknya. Soegito memang paling pintar meniru tanda tangan, mungkin karena bakat menggambar dan kemampuan menulisnya yang bagus. Tidak hanya tanda tangan bapaknya, tanda tangan kakak iparnya pun ia bisa.
Alhasil setelah surat keterangan orang tua selesai diketik, tanpa kesulitan Soegito pun membubuhkan tanda tangan bapaknya di lembar persetujuan. "Selain ngirit, saya masuk AMN kan atas risiko saya dan kalau terjadi apa-apa kan urusan saya," Soegito beralasan.
Panggilan terakhir yang ditunggu pun datang. Nah, ini merupakan jawaban bahwa Soegito termasuk yang terpilih untuk mengikuti seleksi tahap akhir di Cimahi, Bandung. Pada hari yang ditentukan, Soegito telah berada di tempat seleksi calon taruna di Semarang. Di sini dikumpulkan semua calon taruna yang berasal dari Jawa Tengah, sekitar 100-an orang.
Mereka kemudian diberangkatkan ke Bandung dengan menumpang kereta api. Selama di perjalanan dari Semarang ke Bandung, mereka yang berasal dari Banyumas dan Purwokerto lebih memilih diam daripada ikutan teriak-teriak sambil becanda.
Oleh sebab itu, Soegito lalu menjual sepedanya yang telah dipakainya selama lebih dari tiga tahun, yaitu sejak di SMP Cilacap sampai SMA di Purwokerto. Lumayanlah dapat tambahan dana.
Pada saat datang panggilan terakhir ke Semarang di tahun 1958, maka setiap calon harus membawa ijazah asli kelulusannya. Begitu juga Soegito, ia harus mendapatkan ijazah SMA sebelum menemui personel bagian penerimaan taruna di Semarang. Untuk itu ia harus menghadap Kepala Sekolah Soemarmo.
Soegito menyampaikan maksudnya kepada kepala sekolah untuk mengambil ijazah. Sambil mengangguk-anggukan kepalanya, Soemarno lalu membuka sebuah buku besar. Matanya bergerak cepat mencari nama Soegito di antara daftar nama siswa.
"Wah, siswa Gito kamu belum melunasi pembayaran uang gedung," tuturnya datar yang ditanggapi Soegito sambil diam dan sedikit menundukkan kepala.
"Tapi maaf saya sudah tidak punya uang lagi Pak karena sudah bolak-balik ke Semarang dan besok harus kembali ke Semarang terus ke Cimahi," jawabnya gelagapan.
Sempat terpikir meminjam uang kepada kakaknya, tapi Soegito merasa malu. Bayangan ibunya melintas saat terakhir memberikan uang untuk membayar keperluan terkait kelulusan di sekolahnya. Namun uangnya sudah terpakai untuk berbagai keperluan termasuk ongkos ke Semarang.
"Tapi siswa Gito harus membayarnya, bagaimana," suara Pak Marmo meninggi dan langsung membuyarkan lamunannya.
"Pak, saya benar-benar sudah tidak punya uang," pinta Soegito. "Ya sudah, nih," jawab kepala sekolah sambil menyodorkan ijazahnya dengan agak terpaksa.
Selain harus mengantongi ijazah, seorang calon juga sudah harus membawa surat keterangan tanda persetujuan dari orang tua untuk mengikuti pendidikan AMN. Kalau harus pergi lagi ke Cilacap, jelas saja butuh waktu dan ongkos. Sementara uangnya sudah pas-pasan.
Saat itu dari Purwokerto ke Cilacap cukup menyita waktu karena terbatasnya jumlah bus dan kondisi jalan yang rusak berat. Perjalanan darat sekitar dua sampai tiga jam melalui Sokaraja, Banyumas, Kota Buntu, Kroya, lalu melewati jembatan Serayu sebelum tiba di Cilacap.
Jalan lainnya melewati jembatan Maos tidak bisa dilewati karena kondisi jembatannya masih rusak setelah sengaja dihancurkan gerilyawan semasa Perang Kemerdekaan. "Makanya saya makin malas ke Cilacap," ucap Soegito.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Soegito pun akhirnya menemukan cara paling mudah. Memalsukan tanda tangan bapaknya. Soegito memang paling pintar meniru tanda tangan, mungkin karena bakat menggambar dan kemampuan menulisnya yang bagus. Tidak hanya tanda tangan bapaknya, tanda tangan kakak iparnya pun ia bisa.
Alhasil setelah surat keterangan orang tua selesai diketik, tanpa kesulitan Soegito pun membubuhkan tanda tangan bapaknya di lembar persetujuan. "Selain ngirit, saya masuk AMN kan atas risiko saya dan kalau terjadi apa-apa kan urusan saya," Soegito beralasan.
Panggilan terakhir yang ditunggu pun datang. Nah, ini merupakan jawaban bahwa Soegito termasuk yang terpilih untuk mengikuti seleksi tahap akhir di Cimahi, Bandung. Pada hari yang ditentukan, Soegito telah berada di tempat seleksi calon taruna di Semarang. Di sini dikumpulkan semua calon taruna yang berasal dari Jawa Tengah, sekitar 100-an orang.
Mereka kemudian diberangkatkan ke Bandung dengan menumpang kereta api. Selama di perjalanan dari Semarang ke Bandung, mereka yang berasal dari Banyumas dan Purwokerto lebih memilih diam daripada ikutan teriak-teriak sambil becanda.
Lihat Juga :