Trunajaya dan Kejatuhan Keraton Plered: Pemberontakan yang Mengguncang Mataram
Minggu, 01 Juni 2025 - 09:51 WIB
loading...
A
A
A
Keraton memiliki tiga pintu gerbang utama yakni Selimbi, Tadi, dan Kaliajir. Setiap gerbang dijaga ketat dan dihubungkan oleh jalan-jalan panjang yang melintasi desa dan ladang subur.
Di dalam kompleks istana terdapat beberapa bangunan penting seperti Bangsal Witana, Sri Menganti, Masjid Panepen, dan Sumur Gumuling. Namun, dalam waktu 5 hari semua kemegahan itu porak-poranda. Banyak bangunan dihancurkan, prajurit gugur, dan puluhan perempuan dari kalangan abdi dalem diculik.
Amangkurat I melarikan diri ke arah selatan menyusuri wilayah Imogiri sebelum akhirnya wafat di Bumiayu. Keraton Plered secara de facto ditinggalkan. Sekitar tahun 1680, putra Amangkurat I, Amangkurat II memindahkan pusat pemerintahan ke Kartasura.
Warisan dan Kenangan Sejarah
Meskipun kini hanya tersisa jejak arkeologis, Keraton Plered menjadi bukti nyata dari sebuah masa kejayaan dan kehancuran yang cepat. Peristiwa ini juga menandai titik penting dalam sejarah politik Mataram, termasuk awal keterlibatan VOC yang semakin dalam untuk urusan internal kerajaan.
Sebagai bagian dari sejarah nasional, Keraton Plered dan kisah pemberontakan Trunajaya terus menjadi perhatian para peneliti dan sejarawan untuk memahami dinamika kekuasaan, diplomasi, dan ketegangan sosial-budaya Jawa abad ke-17.
Di dalam kompleks istana terdapat beberapa bangunan penting seperti Bangsal Witana, Sri Menganti, Masjid Panepen, dan Sumur Gumuling. Namun, dalam waktu 5 hari semua kemegahan itu porak-poranda. Banyak bangunan dihancurkan, prajurit gugur, dan puluhan perempuan dari kalangan abdi dalem diculik.
Kehancuran dan Pelarian Amangkurat I
Kejatuhan Plered membuat Amangkurat I melarikan diri dalam kondisi sakit dan kehilangan kepercayaan dari kalangan istana. Para pangeran justru menunjukkan penolakan terhadap kekuasaannya alih-alih membantu menghalau pemberontak.Amangkurat I melarikan diri ke arah selatan menyusuri wilayah Imogiri sebelum akhirnya wafat di Bumiayu. Keraton Plered secara de facto ditinggalkan. Sekitar tahun 1680, putra Amangkurat I, Amangkurat II memindahkan pusat pemerintahan ke Kartasura.
Warisan dan Kenangan Sejarah
Meskipun kini hanya tersisa jejak arkeologis, Keraton Plered menjadi bukti nyata dari sebuah masa kejayaan dan kehancuran yang cepat. Peristiwa ini juga menandai titik penting dalam sejarah politik Mataram, termasuk awal keterlibatan VOC yang semakin dalam untuk urusan internal kerajaan.
Sebagai bagian dari sejarah nasional, Keraton Plered dan kisah pemberontakan Trunajaya terus menjadi perhatian para peneliti dan sejarawan untuk memahami dinamika kekuasaan, diplomasi, dan ketegangan sosial-budaya Jawa abad ke-17.
(jon)
Lihat Juga :