Trunajaya dan Kejatuhan Keraton Plered: Pemberontakan yang Mengguncang Mataram

Minggu, 01 Juni 2025 - 09:51 WIB
loading...
Trunajaya dan Kejatuhan...
Keraton Plered, istana megah yang dibangun Raja Amangkurat I sebagai pusat pemerintahan baru Kerajaan Mataram mengalami kehancuran besar pada tahun 1677. Foto: Ist
A A A
KERATONPlered, istana megah yang dibangun Raja Amangkurat I sebagai pusat pemerintahan baru Kerajaan Mataram mengalami kehancuran besar pada tahun 1677. Hancurnya Mataram akibat pemberontakan yang dipimpin Trunajaya, bangsawan asal Madura.

Dalam catatan sejarah, Keraton Plered menjadi simbol ambisi Amangkurat I setelah memindahkan ibu kota dari Karta ke Plered di wilayah yang kini termasuk Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Namun, kemegahan itu hanya bertahan kurang dari 3 dekade.

Baca juga: Riwayat Arya Wiraraja, Penguasa Lamajang yang Pernah Perang Dingin dengan Raja Jayanagara

Pemberontakan Besar dari Timur

Puncak huru-hara terjadi pada 28 Juni-3 Juli 1677 ketika pasukan pemberontak dari Madura dan Jawa Timur menyerbu ibu kota Plered. Serangan yang dipimpin Trunajaya berhasil menembus dinding-dinding pertahanan keraton hingga menyebabkan kehancuran total.

Menurut sejarawan Peri Mardiyono dalam bukunya Tuah Bumi Mataram, pemberontakan ini berawal dari kekecewaan kebijakan otoriter Amangkurat I dan dukungan Trunajaya terhadap para bangsawan serta rakyat yang ingin perubahan. Trunajaya sempat mendirikan pusat kekuatan di Kediri setelah sebelumnya kalah lalu diusir dari Madura dan Surabaya oleh pasukan VOC.

VOC yang menjalin aliansi dengan Amangkurat I mengerahkan armada laut yang dipimpin Laksamana Cornelis Speelman. Meski pasukan Trunajaya terpukul, mereka bangkit kembali untuk menyerang Plered.

Keraton Megah Runtuh

Keraton Plered dibangun sejak sekitar tahun 1647 dengan pengerahan lebih dari 300 ribu orang. Dibangun menggunakan batu bata dan dikelilingi danau buatan bernama Segarayasa, istana ini menggambarkan kemegahan layaknya kastil-kastil Eropa.

Keraton memiliki tiga pintu gerbang utama yakni Selimbi, Tadi, dan Kaliajir. Setiap gerbang dijaga ketat dan dihubungkan oleh jalan-jalan panjang yang melintasi desa dan ladang subur.

Di dalam kompleks istana terdapat beberapa bangunan penting seperti Bangsal Witana, Sri Menganti, Masjid Panepen, dan Sumur Gumuling. Namun, dalam waktu 5 hari semua kemegahan itu porak-poranda. Banyak bangunan dihancurkan, prajurit gugur, dan puluhan perempuan dari kalangan abdi dalem diculik.

Kehancuran dan Pelarian Amangkurat I

Kejatuhan Plered membuat Amangkurat I melarikan diri dalam kondisi sakit dan kehilangan kepercayaan dari kalangan istana. Para pangeran justru menunjukkan penolakan terhadap kekuasaannya alih-alih membantu menghalau pemberontak.

Amangkurat I melarikan diri ke arah selatan menyusuri wilayah Imogiri sebelum akhirnya wafat di Bumiayu. Keraton Plered secara de facto ditinggalkan. Sekitar tahun 1680, putra Amangkurat I, Amangkurat II memindahkan pusat pemerintahan ke Kartasura.

Warisan dan Kenangan Sejarah
Meskipun kini hanya tersisa jejak arkeologis, Keraton Plered menjadi bukti nyata dari sebuah masa kejayaan dan kehancuran yang cepat. Peristiwa ini juga menandai titik penting dalam sejarah politik Mataram, termasuk awal keterlibatan VOC yang semakin dalam untuk urusan internal kerajaan.

Sebagai bagian dari sejarah nasional, Keraton Plered dan kisah pemberontakan Trunajaya terus menjadi perhatian para peneliti dan sejarawan untuk memahami dinamika kekuasaan, diplomasi, dan ketegangan sosial-budaya Jawa abad ke-17.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
BEM PTNU Gelar Mukernas...
BEM PTNU Gelar Mukernas 2025, Presidium Nasional Tekankan Kolaborasi Gerakan
Anomali Krida Toyota:...
Anomali Krida Toyota: Menyulap Dealer 6 Hektar Jadi Resor Otomotif dan Markas Balap Mandalika
Di Panggung FORNAS VIII,...
Di Panggung FORNAS VIII, NTB Dapat Sinyal Positif dari Menpora untuk PON 2028
Rekomendasi
YHK Junior Padel Championship...
YHK Junior Padel Championship 2026 Jadi Ajang Lahirnya Atlet Muda Indonesia
5 Fakta Menarik Norwegia...
5 Fakta Menarik Norwegia Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 usai Singkirkan Pantai Gading
Tepis Isu Pecah Kongsi...
Tepis Isu Pecah Kongsi dengan Dokter Tifa, Roy Suryo: Saling Membersamai
Berita Terkini
Tak Hanya Andalkan Teknologi,...
Tak Hanya Andalkan Teknologi, KAI Bangun Loyalitas via Pelayanan Berkualitas
Program ParenTRING,...
Program ParenTRING, Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2 Gelar Khitanan Massal
Komut Pertamina Kunjungan...
Komut Pertamina Kunjungan Kerja ke Jatim hingga Nusa Tenggara, Ini Hasilnya
Besok Upacara Peringatan...
Besok Upacara Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Cikeas, Cari Jalur Alternatif Hindari Kemacetan
Gunung Dukono Maluku...
Gunung Dukono Maluku Utara Erupsi, PVMBG Imbau Masyarakat Waspada
Gapasdap: Penggunaan...
Gapasdap: Penggunaan B50 untuk Kapal Bebani Biaya Operasional Angkutan Penyeberangan
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved