2 Desa di Sulsel Ditetapkan Jadi Wilayah Berbasis Ekonomi Perikanan
Rabu, 28 Mei 2025 - 07:55 WIB
loading...
Dua desa di Sulawesi Selatan ditetapkan sebagai Desa Bangun Sejahtera Indonesia (Desa BSI) yang berfokus pada ekonomi perikanan. FOTO/IST
A
A
A
MAKASSAR - Dua desa di Sulawesi Selatan ditetapkan sebagai Desa Bangun Sejahtera Indonesia (Desa BSI) yang berfokus pada ekonomi perikanan. Keduanya adalah Desa Barrang Caddi, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar dan Desa Mattaro Adae, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkep.
Desa Barrang Caddi dan Mattaro Adae menjadi Desa BSI ke-20 sejak program ini diluncurkan pada 2021. Fokus utama pengembangan desa kali ini adalah sektor perikanan laut, khususnya pada komoditas bulu babi atau landak laut yang memiliki potensi ekspor tinggi, terutama ke pasar Jepang.
Direktur Sales & Distribution BSI, Anton Sukarna, menjelaskan, Desa BSI merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam menciptakan masyarakat desa yang berdaya secara ekonomi, sosial, dan spiritual melalui optimalisasi potensi sumber daya alam lokal.
"Desa BSI kami bangun berdasarkan klaster ekonomi unggulan, seperti pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan pariwisata. Tujuannya agar desa menjadi pusat pengembangan ekonomi masyarakat sekitarnya," kata Anton dalam keterangannya dikutip, Rabu (28/5/2025).
Menurutnya, inisiatif ini merupakan bagian dari dukungan BSI terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) dan Asta Cita Pemerintah Indonesia, khususnya dalam pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, yang turut hadir dalam peresmian tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap BSI. Ia menilai program Desa BSI sebagai sebuah ekosistem yang utuh karena tidak hanya memberikan bantuan, namun juga mengawal proses dari hulu ke hilir hingga produk dapat terserap pasar.
"Didukung dengan pengelompokan kluster desa sesuai dengan potensi sumber daya alam di desa tersebut dan memiliki visi meningkatkan kemandirian ekonomi bagi masyarakat," katanya.
Salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan adalah gonad (telur landak laut), yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan diminati oleh pasar Jepang. Kegiatan produksi dan pengolahan komoditas ini dikelola oleh Kelompok Nelayan Mandiri Berkah Bersama yang terdiri dari sekitar 100 kepala keluarga. Proses produksinya dilakukan dengan menjaga keberlanjutan lingkungan laut.
BSI mendukung penuh kegiatan masyarakat melalui pembangunan rumah produksi (miniplant), penyediaan alat tangkap dan perahu nelayan, serta penggunaan energi ramah lingkungan berupa panel surya. Fasilitas ini memungkinkan kapasitas produksi mencapai 200-500 kg gonad per hari dengan target ekspor hingga 30 ton per bulan.
Pengembangan dilakukan secara terstruktur melalui kelembagaan kelompok nelayan yang telah menjalin kerja sama dengan offtaker untuk ekspor produk olahan landak laut ke Jepang. Skema ini diharapkan mampu menciptakan sumber ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kepulauan di Sulawesi Selatan.
Turut hadir dalam acara peresmian tersebut, Pimpinan Bidang Pengumpulan Baznas RI Rizaludin Kurniawan, Direktur Eksekutif BSI Maslahat Sukoriyanto Saputro, RCEO BSI RO X Makassar Sukma Dwie Priardi, SVP Environment Social Governance BSI Rima Dwi Permatasari, serta perwakilan dari OJK, BI Sulawesi Selatan, dan Forkopimda.
Desa Barrang Caddi dan Mattaro Adae menjadi Desa BSI ke-20 sejak program ini diluncurkan pada 2021. Fokus utama pengembangan desa kali ini adalah sektor perikanan laut, khususnya pada komoditas bulu babi atau landak laut yang memiliki potensi ekspor tinggi, terutama ke pasar Jepang.
Direktur Sales & Distribution BSI, Anton Sukarna, menjelaskan, Desa BSI merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam menciptakan masyarakat desa yang berdaya secara ekonomi, sosial, dan spiritual melalui optimalisasi potensi sumber daya alam lokal.
"Desa BSI kami bangun berdasarkan klaster ekonomi unggulan, seperti pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan pariwisata. Tujuannya agar desa menjadi pusat pengembangan ekonomi masyarakat sekitarnya," kata Anton dalam keterangannya dikutip, Rabu (28/5/2025).
Menurutnya, inisiatif ini merupakan bagian dari dukungan BSI terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) dan Asta Cita Pemerintah Indonesia, khususnya dalam pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, yang turut hadir dalam peresmian tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap BSI. Ia menilai program Desa BSI sebagai sebuah ekosistem yang utuh karena tidak hanya memberikan bantuan, namun juga mengawal proses dari hulu ke hilir hingga produk dapat terserap pasar.
"Didukung dengan pengelompokan kluster desa sesuai dengan potensi sumber daya alam di desa tersebut dan memiliki visi meningkatkan kemandirian ekonomi bagi masyarakat," katanya.
Salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan adalah gonad (telur landak laut), yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan diminati oleh pasar Jepang. Kegiatan produksi dan pengolahan komoditas ini dikelola oleh Kelompok Nelayan Mandiri Berkah Bersama yang terdiri dari sekitar 100 kepala keluarga. Proses produksinya dilakukan dengan menjaga keberlanjutan lingkungan laut.
BSI mendukung penuh kegiatan masyarakat melalui pembangunan rumah produksi (miniplant), penyediaan alat tangkap dan perahu nelayan, serta penggunaan energi ramah lingkungan berupa panel surya. Fasilitas ini memungkinkan kapasitas produksi mencapai 200-500 kg gonad per hari dengan target ekspor hingga 30 ton per bulan.
Pengembangan dilakukan secara terstruktur melalui kelembagaan kelompok nelayan yang telah menjalin kerja sama dengan offtaker untuk ekspor produk olahan landak laut ke Jepang. Skema ini diharapkan mampu menciptakan sumber ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kepulauan di Sulawesi Selatan.
Turut hadir dalam acara peresmian tersebut, Pimpinan Bidang Pengumpulan Baznas RI Rizaludin Kurniawan, Direktur Eksekutif BSI Maslahat Sukoriyanto Saputro, RCEO BSI RO X Makassar Sukma Dwie Priardi, SVP Environment Social Governance BSI Rima Dwi Permatasari, serta perwakilan dari OJK, BI Sulawesi Selatan, dan Forkopimda.
(abd)
Lihat Juga :