7 Fakta Jenderal Rudini, Pernah Ditolak Ketika Mendaftar Penerbang TNI AU
Sabtu, 24 Mei 2025 - 08:34 WIB
loading...
A
A
A
Setelah menamatkan pendidikan dasarnya, Rudini meneruskan pendidikannya di sebuah SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Celaket.
Selama menempuh pendidikan menengahnya, ia diwajibkan oleh pemerintah Jepang untuk menempuh pendidikan wajib militer sebagai bagian dari kurikulum.
Tidak seperti pemuda lainnya yang berjuang pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, Rudini diharuskan oleh orangtuanya untuk meneruskan pendidikannya ke pendidikan menengah ke atas. Ia menempuh pendidikan di SMA Katolik Santo Albertus Malang dan lulus pada tahun 1950.
Setelah lulus dari SMA, orangtua Rudini menginginkannya menjadi dokter, namun ia bertekad untuk mendaftar menjadi tentara. Rudini sempat mencoba mendaftar sebagai penerbang di TNI-AU, tetapi ditolak karena tinggi badannya yang tidak memenuhi syarat.
Setahun kemudian, pada bulan Agustus 1951, Rudini mendengar kabar bahwa TNI Angkatan Darat membuka kesempatan untuk mengikuti pendidikan di Akademi Militer Kerajaan (Koninklijke Militaire Academie, KMA) di Breda.
Rudini mengikuti pendaftaran dan dinyatakan lulus tes pendaftaran bersama dengan 29 orang lainnya.
Setelah lulus pendaftaran, Rudini dan teman-temannya diberangkatkan ke Belanda pada bulan Oktober 1951. Di tempat itu, Rudini dan kawan-kawan yang diterima melalui jalur TNI-AD bergabung dengan siswa Indonesia yang sudah disana terlebih dahulu sehingga jumlah mereka menjadi 36 siswa.
Rudini akhirnya lulus dari KMA Breda pada tahun 1955. Ia kembali ke Jakarta beberapa saat kemudian, dan dilantik sebagai perwira TNI-AD oleh KSAD Abdul Haris Nasution.
Selama bertugas di militer, Rudini sempat dipercaya untuk menjadi instruktur di Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang.
Dirinya juga sempat bertugas melakukan pembersihan internal terhadap pengikut-pengikut PKI yang masih berada di dalam struktur batalyon 401/Banteng Raiders.
Selama menempuh pendidikan menengahnya, ia diwajibkan oleh pemerintah Jepang untuk menempuh pendidikan wajib militer sebagai bagian dari kurikulum.
Tidak seperti pemuda lainnya yang berjuang pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, Rudini diharuskan oleh orangtuanya untuk meneruskan pendidikannya ke pendidikan menengah ke atas. Ia menempuh pendidikan di SMA Katolik Santo Albertus Malang dan lulus pada tahun 1950.
3. Pernah Ditolak Ketika Mendaftar Jadi TNI AU
Setelah lulus dari SMA, orangtua Rudini menginginkannya menjadi dokter, namun ia bertekad untuk mendaftar menjadi tentara. Rudini sempat mencoba mendaftar sebagai penerbang di TNI-AU, tetapi ditolak karena tinggi badannya yang tidak memenuhi syarat.
Setahun kemudian, pada bulan Agustus 1951, Rudini mendengar kabar bahwa TNI Angkatan Darat membuka kesempatan untuk mengikuti pendidikan di Akademi Militer Kerajaan (Koninklijke Militaire Academie, KMA) di Breda.
Rudini mengikuti pendaftaran dan dinyatakan lulus tes pendaftaran bersama dengan 29 orang lainnya.
4. Pendidikan Militer ke Belanda
Setelah lulus pendaftaran, Rudini dan teman-temannya diberangkatkan ke Belanda pada bulan Oktober 1951. Di tempat itu, Rudini dan kawan-kawan yang diterima melalui jalur TNI-AD bergabung dengan siswa Indonesia yang sudah disana terlebih dahulu sehingga jumlah mereka menjadi 36 siswa.
Rudini akhirnya lulus dari KMA Breda pada tahun 1955. Ia kembali ke Jakarta beberapa saat kemudian, dan dilantik sebagai perwira TNI-AD oleh KSAD Abdul Haris Nasution.
5. Riwayat Penugasan di TNI AD
Selama bertugas di militer, Rudini sempat dipercaya untuk menjadi instruktur di Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang.
Dirinya juga sempat bertugas melakukan pembersihan internal terhadap pengikut-pengikut PKI yang masih berada di dalam struktur batalyon 401/Banteng Raiders.
Lihat Juga :