Taktik Supit Urang, Strategi Jitu dan Cerdik Jenderal Sudirman Kuasai Ambarawa
Senin, 19 Mei 2025 - 16:31 WIB
loading...
A
A
A
Pasukan Sekutu yang mulai terdesak mencoba mematahkan pengepungan dengan mengerahkan tank-tank mereka. Untuk menghindari korban lebih besar, pasukan TKR mundur ke Bedono.
Dengan bantuan Resimen II pimpinan M Sarbini dari Yogyakarta, gerakan musuh berhasil dihambat di Desa Jambu.
Para komandan pasukan kemudian mengadakan rapat koordinasi yang dipimpin Kolonel Holland Iskandar. Hasil rapat tersebut adalah pembentukan markas pimpinan pertempuran di Magelang. Ambarawa pun dibagi menjadi empat sektor yakni selatan, utara, barat, dan timur.
Situasi semakin memanas ketika pada 25 November 1945, tiga pesawat Mustang milik Belanda muncul di langit Ambarawa. Pesawat-pesawat ini melakukan serangan membabi buta, termasuk menjatuhkan bom di Bandungan. Di Desa Jambu, Letkol Isdiman, salah satu perwira kepercayaan Kolonel Sudirman menjadi korban serangan udara.
Letkol Isdiman tewas setelah terkena tembakan dari pesawat musuh. Kematiannya menjadi pukulan berat bagi pasukan TKR. Kolonel Sudirman kemudian mengumpulkan seluruh komandan untuk menyusun strategi baru. Pada 11 Desember 1945, diputuskan untuk menerapkan strategi Supit Urang.
Strategi ini terinspirasi dari bentuk capit udang di mana pasukan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengepung musuh. Kelompok I berperan sebagai tubuh udang yang menjadi kekuatan utama. Mereka terdiri dari 4 batalyon di bawah Mayor Soeharto, Mayor Sardjono, Mayor Adrongi, dan Sugeng Tirtosewoyo.
Kelompok II bertugas sebagai kaki udang bergerak dari Jambu menuju Bandungan dan Banyubiru. Pasukan ini dipimpin Letkol Bambang Sugeng dan Letkol Kun Kamdani.
Sementara, Kelompok III sebagai capit bertugas menyerang dari sisi kanan dan kiri. Kelompok IV yang merupakan ekor udang terdiri dari laskar rakyat yang siap membantu jika diperlukan.
Serangan dimulai pada 12 Desember 1945 pukul 04.30 WIB. Kolonel Sudirman turun langsung ke medan perang untuk memimpin pasukan.
Dengan bantuan Resimen II pimpinan M Sarbini dari Yogyakarta, gerakan musuh berhasil dihambat di Desa Jambu.
Para komandan pasukan kemudian mengadakan rapat koordinasi yang dipimpin Kolonel Holland Iskandar. Hasil rapat tersebut adalah pembentukan markas pimpinan pertempuran di Magelang. Ambarawa pun dibagi menjadi empat sektor yakni selatan, utara, barat, dan timur.
Situasi semakin memanas ketika pada 25 November 1945, tiga pesawat Mustang milik Belanda muncul di langit Ambarawa. Pesawat-pesawat ini melakukan serangan membabi buta, termasuk menjatuhkan bom di Bandungan. Di Desa Jambu, Letkol Isdiman, salah satu perwira kepercayaan Kolonel Sudirman menjadi korban serangan udara.
Letkol Isdiman tewas setelah terkena tembakan dari pesawat musuh. Kematiannya menjadi pukulan berat bagi pasukan TKR. Kolonel Sudirman kemudian mengumpulkan seluruh komandan untuk menyusun strategi baru. Pada 11 Desember 1945, diputuskan untuk menerapkan strategi Supit Urang.
Strategi ini terinspirasi dari bentuk capit udang di mana pasukan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengepung musuh. Kelompok I berperan sebagai tubuh udang yang menjadi kekuatan utama. Mereka terdiri dari 4 batalyon di bawah Mayor Soeharto, Mayor Sardjono, Mayor Adrongi, dan Sugeng Tirtosewoyo.
Kelompok II bertugas sebagai kaki udang bergerak dari Jambu menuju Bandungan dan Banyubiru. Pasukan ini dipimpin Letkol Bambang Sugeng dan Letkol Kun Kamdani.
Sementara, Kelompok III sebagai capit bertugas menyerang dari sisi kanan dan kiri. Kelompok IV yang merupakan ekor udang terdiri dari laskar rakyat yang siap membantu jika diperlukan.
Serangan dimulai pada 12 Desember 1945 pukul 04.30 WIB. Kolonel Sudirman turun langsung ke medan perang untuk memimpin pasukan.
Lihat Juga :