Syahwat Penguasa Tumapel Melihat Kecantikan Ken Dedes hingga Paksa Menikahinya
Jum'at, 16 Mei 2025 - 06:27 WIB
loading...
Penguasa Tumapel Tunggul Ametung berhasil menculik Ken Dedes, gadis desa nan cantik jelita. Dia membawa Ken Dedes ke Istana Tumapel yang saat itu menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri. Foto: Ist
A
A
A
PENGUASATumapel Tunggul Ametung berhasil menculik Ken Dedes , gadis desa nan cantik jelita. Dia membawa Ken Dedes ke Istana Tumapel yang saat itu masih menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri di bawah Raja Kertajaya.
Tunggul Ametung bernafsu menikahi paksa Ken Dedes lantaran kecantikannya. Tunggul Ametung pun tak terbendung melihat kecantikan anak pendeta Mpu Purwa itu. Namun, niatan menikahi ditolak mentah-mentah Ken Dedes.
Baca juga: 5 Fakta tentang Ken Dedes, Istri Ken Arok yang Berparas Cantik
Tunggul Ametung tetap memaksa Ken Dedes. Kuasanya membuat Tunggul Ametung leluasa menikahi perempuan cantik bernama Ken Dedes yang diculiknya itu.
Ken Dedes dikisahkan dalam buku "Hitam Putih Ken Arok dari Kejayaan hingga Keruntuhan", karya Muhammad Syamsuddin, merasa muak dan jijik dengan pernikahannya dengan penguasa Tumapel itu.
Dia sama sekali tak mempunyai rasa cinta dan kesetiaan terhadap Tunggul Ametung. Pernikahan dilakukan Ken Dedes secara terpaksa. Di matanya sebenarnya tidak memenuhi unsur-unsur persyaratan pernikahan yang sah.
Dikisahkan, pernikahan itu dilakukan tanpa adanya saksi, bahkan pernikahan itu dilakukan tanpa menyebut namanya dan nama ayahnya, Mpu Purwa. Mantra-mantra yang diucapkan dalam bahasa Sansekerta dalam pandangan Ken Dedes banyak yang salah. Upacara pernikahan ini dinilai tidak sah dan penuh kecacatan.
Saat pernikahan keduanya yakni pendeta Balakangka yang memimpin prosesinya. Seluruh pendeta dari berbagai desa di seluruh Tumapel didatangkan. Jumlah mereka sekitar 40 orang.
Di setiap gerakan upacara pernikahan itu yang dilakukan Ken Dedes adalah keterpaksaan. Misalkan saat prosesi membasuh kaki sang suami, Ken Dedes tidak bersedia.
Di dalam pikirannya berkata bahwa bagaimana bisa dirinya yang seorang brahmani justru disuruh membasuh kaki seorang sudra yang diangkat sebagai ksatria.
Karena tak mau membasuh kaki Tunggul Ametung inilah pendeta Balakangka langsung memegang tangan lembut Ken Dedes dan memaksanya membasuh kaki sang suami.
Ken Dedes hanya bisa termenung merenung selama berada di Istana Pakuwan. Apalagi saat dirinya dipaksa menjadi istri akuwu Tumapel. Ken Dedes terpaksa harus menelan upacara pernikahan yang dia anggap menghinakan dirinya yang dilakukan kaum wisnu.
Pernikahan itu dipandang Ken Dedes sebagai suatu penghinaan yang luar biasa terhadap dirinya sebagai seorang brahmani. Ken Dedes sungguh tak rela atas penghinaan pria sudra yang nasibnya diangkat menjadi ksatria.
Karena itulah dalam hati Ken Dedes tak pernah ada rasa cinta dengan Tunggul Ametung. Cinta dan kasih sayang yang diharapkan Tunggul Ametung dari Ken Dedes hanyalah mimpi belaka, semua tidak akan terwujud.
Bahkan, Ken Dedes mempunyai alasan kuat untuk tidak setia kepada sang suami Tunggul Ametung. Di hati Ken Dedes, dia berjanji suatu hari nanti akan keluar sebagai pemenangnya dan membalas ulah buruk Tunggul Ametung kepada kaum brahmana.
Dia menganggap Ametung menistakan, memaksa, merusak, merampas, dan menghancurkan dirinya. Namun, dia percaya hal itu akan balik menimpa Tunggul Ametung ke dalam suatu kehinaan dan hancur lebur suatu ketika.
Tunggul Ametung bernafsu menikahi paksa Ken Dedes lantaran kecantikannya. Tunggul Ametung pun tak terbendung melihat kecantikan anak pendeta Mpu Purwa itu. Namun, niatan menikahi ditolak mentah-mentah Ken Dedes.
Baca juga: 5 Fakta tentang Ken Dedes, Istri Ken Arok yang Berparas Cantik
Tunggul Ametung tetap memaksa Ken Dedes. Kuasanya membuat Tunggul Ametung leluasa menikahi perempuan cantik bernama Ken Dedes yang diculiknya itu.
Ken Dedes dikisahkan dalam buku "Hitam Putih Ken Arok dari Kejayaan hingga Keruntuhan", karya Muhammad Syamsuddin, merasa muak dan jijik dengan pernikahannya dengan penguasa Tumapel itu.
Dia sama sekali tak mempunyai rasa cinta dan kesetiaan terhadap Tunggul Ametung. Pernikahan dilakukan Ken Dedes secara terpaksa. Di matanya sebenarnya tidak memenuhi unsur-unsur persyaratan pernikahan yang sah.
Dikisahkan, pernikahan itu dilakukan tanpa adanya saksi, bahkan pernikahan itu dilakukan tanpa menyebut namanya dan nama ayahnya, Mpu Purwa. Mantra-mantra yang diucapkan dalam bahasa Sansekerta dalam pandangan Ken Dedes banyak yang salah. Upacara pernikahan ini dinilai tidak sah dan penuh kecacatan.
Saat pernikahan keduanya yakni pendeta Balakangka yang memimpin prosesinya. Seluruh pendeta dari berbagai desa di seluruh Tumapel didatangkan. Jumlah mereka sekitar 40 orang.
Di setiap gerakan upacara pernikahan itu yang dilakukan Ken Dedes adalah keterpaksaan. Misalkan saat prosesi membasuh kaki sang suami, Ken Dedes tidak bersedia.
Di dalam pikirannya berkata bahwa bagaimana bisa dirinya yang seorang brahmani justru disuruh membasuh kaki seorang sudra yang diangkat sebagai ksatria.
Karena tak mau membasuh kaki Tunggul Ametung inilah pendeta Balakangka langsung memegang tangan lembut Ken Dedes dan memaksanya membasuh kaki sang suami.
Ken Dedes hanya bisa termenung merenung selama berada di Istana Pakuwan. Apalagi saat dirinya dipaksa menjadi istri akuwu Tumapel. Ken Dedes terpaksa harus menelan upacara pernikahan yang dia anggap menghinakan dirinya yang dilakukan kaum wisnu.
Pernikahan itu dipandang Ken Dedes sebagai suatu penghinaan yang luar biasa terhadap dirinya sebagai seorang brahmani. Ken Dedes sungguh tak rela atas penghinaan pria sudra yang nasibnya diangkat menjadi ksatria.
Karena itulah dalam hati Ken Dedes tak pernah ada rasa cinta dengan Tunggul Ametung. Cinta dan kasih sayang yang diharapkan Tunggul Ametung dari Ken Dedes hanyalah mimpi belaka, semua tidak akan terwujud.
Bahkan, Ken Dedes mempunyai alasan kuat untuk tidak setia kepada sang suami Tunggul Ametung. Di hati Ken Dedes, dia berjanji suatu hari nanti akan keluar sebagai pemenangnya dan membalas ulah buruk Tunggul Ametung kepada kaum brahmana.
Dia menganggap Ametung menistakan, memaksa, merusak, merampas, dan menghancurkan dirinya. Namun, dia percaya hal itu akan balik menimpa Tunggul Ametung ke dalam suatu kehinaan dan hancur lebur suatu ketika.
(jon)
Lihat Juga :