Kisah Penguasa Mataram Minta 100 Gadis, namun Ditolak Sultan Banten Berujung Perang Dingin
Kamis, 15 Mei 2025 - 06:00 WIB
loading...
Penguasa Mataram Islam Sultan Amangkurat I kembali menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Banten setelah menuruti permintaan tokoh agama. Namun, hubungan persahabatan ini akhirnya terputus akibat kegagalan rencana perkawinan. Foto: Ist
A
A
A
PENGUASAMataram Islam Sultan Amangkurat I kembali menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Banten setelah menuruti permintaan tokoh agama. Dikisahkan hubungan baik kedua kerajaan ini terjalin begitu lama. Namun, hubungan persahabatan ini akhirnya terputus akibat kegagalan rencana perkawinan.
Saat itu, salah satu pejabat Kerajaan Mataram ingin menikahi perempuan dari Banten. Pada sekitar awal Juli 1657 tibalah di Banten empat perahu Tumenggung Pati dari Kerajaan Mataram. Rombongan itu membawa hadiah-hadiah aneh yang atas perintah Sunan Mataram harus disampaikan kepada Sultan Banten.
Baca juga: Kisah Pengkhianatan Ki Jonggo, Pejabat Istana Penyebab Kerajaan Pajajaran Kalah dari Banten
Hadiah itu berupa sepasang ayam hutan dan sepasang burung dara berikut sebuah kantung kecil berisi buah-buahan Jawa yang kalau diperas mengeluarkan minyak. Sudah tentu hadiah ini mempunyai arti kurang menyenangkan bagi orang Banten.
Sultan Banten pun membalas hadiah Sultan Amangkurat I dengan beberapa hadiah menarik pula. Sebagaimana dikutip dari “Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I", hadiah tersebut mulai dari sebuah pisau cukur, gunting, topi Jawa berwarna putih, dan kain putih yang panjang diberikan sang Sultan Banten.
Penjelasan yang diberikan mengenai hadiah itu tidak banyak memuaskan. Lebih masuk akal hadiah itu dipandang sebagai sindiran terhadap sangat kurangnya kesalehan Sunan. Orang alim mencukur rambutnya dan memakai jubah putih Arab yang panjang berikut sebuah kopiah putih.
Bagaimana pun pertukaran pikiran yang simbolis ini mengandung sifat sengit serta menunjuk kepada hubungan yang semakin dingin dan pasti akan pecah menjadi peperangan. Adanya ketegangan ini menggembirakan orang di Batavia.
Saat itu, salah satu pejabat Kerajaan Mataram ingin menikahi perempuan dari Banten. Pada sekitar awal Juli 1657 tibalah di Banten empat perahu Tumenggung Pati dari Kerajaan Mataram. Rombongan itu membawa hadiah-hadiah aneh yang atas perintah Sunan Mataram harus disampaikan kepada Sultan Banten.
Baca juga: Kisah Pengkhianatan Ki Jonggo, Pejabat Istana Penyebab Kerajaan Pajajaran Kalah dari Banten
Hadiah itu berupa sepasang ayam hutan dan sepasang burung dara berikut sebuah kantung kecil berisi buah-buahan Jawa yang kalau diperas mengeluarkan minyak. Sudah tentu hadiah ini mempunyai arti kurang menyenangkan bagi orang Banten.
Sultan Banten pun membalas hadiah Sultan Amangkurat I dengan beberapa hadiah menarik pula. Sebagaimana dikutip dari “Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I", hadiah tersebut mulai dari sebuah pisau cukur, gunting, topi Jawa berwarna putih, dan kain putih yang panjang diberikan sang Sultan Banten.
Penjelasan yang diberikan mengenai hadiah itu tidak banyak memuaskan. Lebih masuk akal hadiah itu dipandang sebagai sindiran terhadap sangat kurangnya kesalehan Sunan. Orang alim mencukur rambutnya dan memakai jubah putih Arab yang panjang berikut sebuah kopiah putih.
Bagaimana pun pertukaran pikiran yang simbolis ini mengandung sifat sengit serta menunjuk kepada hubungan yang semakin dingin dan pasti akan pecah menjadi peperangan. Adanya ketegangan ini menggembirakan orang di Batavia.
Lihat Juga :