Momen Tokoh Agama di Tumapel Tak Berani Menentang Keputusan Ken Arok Menikahi Ken Dedes
Senin, 05 Mei 2025 - 07:57 WIB
loading...
Ken Dedes, janda cantik istri Tunggul Ametung yang dibunuh ketika jadi akuwu Tumapel akhirnya dinikahi Ken Arok pendiri Kerajaan Singasari. Foto/Ilustrasi/@ainusantara
A
A
A
KEBERHASILAN membunuh Tunggul Ametung, membuat Ken Arok pendiri Kerajaan Singasari, kembali merencanakan strategi berikutnya. Langkah pertamanya dengan menikahi janda cantik Ken Dedes, yang merupakan istri dari Tunggul Ametung ketika jadi akuwu Tumapel.
Keputusan Ken Arok menikahi janda cantik Ken Dedes, pasca kematian suaminya tak ada yang berani menentang. Bahkan termasuk sang ayah Ken Dedes, Mpu Purwa yang konon juga akhirnya menyetujui keputusan Ken Arok menikahi anaknya.
Baca juga: Riwayat Ken Arok dan Kutukan Keris Empu Gandring
Memang pada waktu Tumapel hanyalah wilayah bawahan dari Kediri atau Daha. Saat itu Kertajaya yang disebut Dandang Gendis, sedang berkuasa di Kerajaan Kediri.
Sosoknya kerap kali berselisih pendapat dengan para pendeta atau tokoh agama Hindu Siwa dan Buddha.
Kertajaya menginginkan dirinya disembah layaknya dewa atau Tuhan, hal yang disebut sejarawan Prof. Slamet Muljana, pada bukunya "Tafsir Sejarah Nagarakretagama" memicu perlawanan dari kaum pendeta ke penguasa Kediri itu.
Keinginan Kertajaya disembah itu ditolak mentah-mentah oleh pendeta, karena belum pernah terjadi pendeta menyembah raja.
Keputusan Ken Arok menikahi janda cantik Ken Dedes, pasca kematian suaminya tak ada yang berani menentang. Bahkan termasuk sang ayah Ken Dedes, Mpu Purwa yang konon juga akhirnya menyetujui keputusan Ken Arok menikahi anaknya.
Baca juga: Riwayat Ken Arok dan Kutukan Keris Empu Gandring
Memang pada waktu Tumapel hanyalah wilayah bawahan dari Kediri atau Daha. Saat itu Kertajaya yang disebut Dandang Gendis, sedang berkuasa di Kerajaan Kediri.
Sosoknya kerap kali berselisih pendapat dengan para pendeta atau tokoh agama Hindu Siwa dan Buddha.
Kertajaya menginginkan dirinya disembah layaknya dewa atau Tuhan, hal yang disebut sejarawan Prof. Slamet Muljana, pada bukunya "Tafsir Sejarah Nagarakretagama" memicu perlawanan dari kaum pendeta ke penguasa Kediri itu.
Keinginan Kertajaya disembah itu ditolak mentah-mentah oleh pendeta, karena belum pernah terjadi pendeta menyembah raja.
Lihat Juga :