Kisah Heroik Legenda Kopassus Pratu Suparlan Hadapi Ratusan Musuh di Belantara Timor Timur
Minggu, 06 April 2025 - 15:59 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Jenderal Kopassus Letjen Sutiyoso Menyamar Jadi Sopir untuk Tangkap Pimpinan GAM di Pedalaman Aceh
Misi awal berjalan lancar. Mereka berhasil menyergap pos pengamatan musuh. Tapi tak butuh waktu lama sebelum bencana datang.
Dikutip dari Majalah Baret Merah edisi April 2014, kala itu Pratu Suparlan menghadang lebih dari ratusan pasukan Fretelin saat berpatroli di KV 34-34/Komplek Liasidi yang merupakan sarang pemberontak Fretelin yang terkenal sadis dan kejam.
Awalnya dari balik pepohonan, 300 lebih pasukan Fretilin muncul, mengepung dari segala arah. Mereka membawa mortar, GLM, dan senapan serbu. Jumlah pasukan tak seimbang. Posisi pasukan TNI terjepit di bibir jurang.
Satu demi satu rekan Pratu Suparlan tumbang. Peluru datang dari segala arah. Sementara musuh terus mendesak, hanya ada satu pilihan, yakni mundur atau musnah.
Letnan Poniman, sang komandan, memerintahkan pasukan mundur lewat celah bukit. Tapi itu butuh waktu. Jika tak ada yang menahan serangan, tak satu pun akan selamat.
Tanpa ragu, Pratu Suparlan angkat tangan.
“Biar saya yang tahan mereka,” katanya.
Dengan senapan mesin otomatis FN di tangan yang ia ambil dari tubuh rekannya yang gugur, Suparlan maju ke garis depan. Peluru menembus tubuhnya. Tapi ia tak berhenti.
Pertempuran Maut di Tengah Hutan
Misi awal berjalan lancar. Mereka berhasil menyergap pos pengamatan musuh. Tapi tak butuh waktu lama sebelum bencana datang.
Dikutip dari Majalah Baret Merah edisi April 2014, kala itu Pratu Suparlan menghadang lebih dari ratusan pasukan Fretelin saat berpatroli di KV 34-34/Komplek Liasidi yang merupakan sarang pemberontak Fretelin yang terkenal sadis dan kejam.
Awalnya dari balik pepohonan, 300 lebih pasukan Fretilin muncul, mengepung dari segala arah. Mereka membawa mortar, GLM, dan senapan serbu. Jumlah pasukan tak seimbang. Posisi pasukan TNI terjepit di bibir jurang.
Satu demi satu rekan Pratu Suparlan tumbang. Peluru datang dari segala arah. Sementara musuh terus mendesak, hanya ada satu pilihan, yakni mundur atau musnah.
Letnan Poniman, sang komandan, memerintahkan pasukan mundur lewat celah bukit. Tapi itu butuh waktu. Jika tak ada yang menahan serangan, tak satu pun akan selamat.
Tanpa ragu, Pratu Suparlan angkat tangan.
“Biar saya yang tahan mereka,” katanya.
Dengan senapan mesin otomatis FN di tangan yang ia ambil dari tubuh rekannya yang gugur, Suparlan maju ke garis depan. Peluru menembus tubuhnya. Tapi ia tak berhenti.
Lihat Juga :