alexametrics

Sopir Tewas Dihakimi Massa di Depan Polisi Bersenjata, Ini Kata Kapolda Papua

loading...
Sopir Tewas Dihakimi Massa di Depan Polisi Bersenjata, Ini Kata Kapolda Papua
Video Yus Yunus, pria berprofesi sopir truk asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang tewas dihakimi massa di Dogiyai, Papua beredar dan viral di media sosial mendapat tanggapan dari Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw. Foto iNews TV/Edy S
A+ A-
JAYAPURA - Video Yus Yunus, pria berprofesi sopir truk asal Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang tewas dihakimi massa di Dogiyai, Papua beredar dan viral di media sosial mendapat tanggapan dari Kepala Kepolisian Daerah Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw. Pasalnya sopir truk Nabire - Dogiyai ini tewas dihakimi massa di depan aparat kepolisian yang bersenjata laras panjang. (Baca: Kota Sorong Rusuh 9 Rumah Dibakar, Satu ASN Tewas)

Sebelumnya video keributan berdurasi 2.08 menit ini viral lantaran nampak aksi pemukulan brutal dilakukan masyarakat terhadap seseorang pria yang diketahui bernama Yus Yunus, pria berprofesi sopir truk asal Polewali Mandar Sulawesi Barat. Video ini lantas membuat publik murka, pasalnya, korban harus meregang nyawa saat kejadian tersebut padahal ada aparat kepolisian.

Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw mengaku telah menurunkan tim ke Dogiyai terkait kasus main hakim sendiri oleh warga setempat terhadap Yus Yunus, sopir truk Nabire - Dogiyai yang viral di media sosial.

"Tim sudah kita turunkan, kita coba klarifikasi tentang fakta sesungguhnya dari kejadian itu.Apabila itu bukan maka saya fikir para pelaku tetap harus diproses hukum," kata Kapolda kepada awak media di Mapolresta Jayapura, Kamis (27/2/2020).

Kapolda mengaku prihatin atas kasus tindakan main hakim sendiri warga yang telah berada dalam perlindungan aparat.



"Saya cukup menyesalkan juga, prihatin, saya dapat informasi bahwa korban itu dicurigai melakukan tabrak lari terhadap korban yang meninggal itu, tapi ternyata bukan dia," kata Kapolda, Kamis (27/2/2020).

Kapolda juga mengakui jika jajarannya tersebut tidak maksimal melindungi korban. Kapolda mengaku hal ini situasional.

"Ini juga sudah dalam pengawasan perlindungan kepolisian, harusnya mereka mampu melindungi korban. Tapi oke itu situasional, nanti kita akan cek semua. Kemudian, saya bayangkan kalau anggota itu melakukan tindakan tegas kepada masyarakat pasti ada korban, kalau mau kuat-kuatan," timpalnya.

Mantan Kapolda Sumut ini juga menyesalkan sikap tidak menghormati aparat penegak hukum yang hadir di lokasi untuk menyelesaian persoalan.

"Saya berharap kedepannya, apabila sudah dalam perlindungan kepolisian, tolong masyarakat harus pahami, jangan terus memaksa kehendak. Mereka harusnya menghormati dan menghargai kami, anggota sudah ada di lapangan datang dari jauh-jauh untuk menangani permasalah ini, tapi begini, sekali lagi saya prihatin atas masalah ini, karena ini salah alamat, dugaan saya itu salah alamat," tandasnya.
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak