alexametrics

Cerita Pagi

Situs Watu Tugu Semarang, Misteri Peninggalan di Era Tiga Kerajaan

loading...
Situs Watu Tugu Semarang, Misteri Peninggalan di Era Tiga Kerajaan
Situs Watu Tugu atau Candi Tugu merupakan jejak peninggalan penting era Hindu/Buddha di Kota Semarang. Kondisinya kini kurang terawat dan dipenuhi semak belukar. Foto: Dok SINDOnews/Ahmad Antoni
A+ A-
SEJARAH keberadaan situs Watu Tugu atau biasa disebut Candi Tugu di Semarang, Jawa Tengah, sampai saat ini masih misterius. Selain diduga sebagai tapal batas era kerajaan Majapahit dan Padjajaran, keberadaan situs yang berada di RT10/RW 1, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu itu juga disebut sebagai peninggalan zaman Mataram kuno.

Dugaan lain fungsi Watu Tugu sebagai peninggalan zaman Mataram Kuno diungkapkan oleh arkeolog Semarang Tri Subekso. Dia menyebut situs Watu Tugu yang menjulang tinggi ke atas dengan bentuk menyerupai stupa atau caitya berhubungan dengan agama Buddha.

Situs yang berada di atas bukit dengan ketinggian sekitar empat meter itu, bahkan usianya diperkirakan lebih tua dari masa kerajaan Majapahit maupun Padjajaran. "Usia Watu Tugu diperkirakan sudah ada sejak abad ke-8 sampai abad ke-10 Masehi atau era Hindu/Buddha," ungkap Tri Subekso, Minggu (2/2/2020).



Menurutnya, dari hasil hipotesa beberapa ahli, ada yang menyebut Watu Tugu ini dibangun terkait hubungannya dengan tempat peribadatan atau pemujaan pada masa itu. Terutama interaksi antara masyarakat sekitar dengan para pendatang yang datang dari pantai utara.

"Kalau dilihat dari ciri-ciri di lokasi situs Watu Tugu saat ini berada memang dulunya merupakan tepian laut yang berada di atas tebing sebuah bukit. Jauh sebelum ada sawah dan pabrik seperti sekarang ini. Dulunya sudah terbentuk permukiman kuno sehingga dibangunlah situs ini untuk sarana peribadatan di sekitar permukiman sekaligus lambang penting pada masa itu," ujarnya.

Fungsi dari caitya atau stupa dalam agama Buddha biasanya sebagai tempat pemujaan atau koleksi objek pemujaan sehingga berfungsi sebagai altar. Secara etimologi, kata Cetiya atau Caitya dalam bahasa Sansekerta berarti gundukan tanah atau tumpukan bata yang berkaitan dengan makam.

"Atau juga tempat peninggalan relik atau abu hasil kremasi Sang Buddha, biksu dan biarawan yang dikeramatkan Buddha yang dihormati. Dan tempat untuk meditasi menenangkan diri bersemedi maupun tempat perayaan penting dalam hidup Sang Buddha atau para biksu dan dalam penyebaran agama Buddha," kata Tri Subekso.

Di Tibet , sebutan bagi Cetiya atau stupa dinamakan Ch'Orten yang bermakna wadah untuk persembahan dengan berbagai ukuran dan perlambangan. Bentuknya lebih langsing daripada stupa yang umumnya lebih bulat. Ch'Orten memiliki banyak tingkat dengan bangun berlainan yang masing-masing membawa perlambangan khusus.

Di lihat sisi lokasi situsnya, kawasan Watu Tugu pada masa lalu tampak berada di tepi laut. Apalagi tersiar kabar bahwa dulunya pernah ditemukan jangkar kapal di bawah tebing Watu Tugu.

"Dulunya Kota Semarang dikenal dengan sebutan Bukit Pragota. Berdasar catatan Badan dan Perpustakaan Daerah Jateng pada abad ke-8 Masehi, kawasan Bukit Pragota merupakan wilayah Mataram Kuno. Namun, kebenarannya masih perlu pengkajian ulang,” terangnya.
(jon)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak