Kisah Jenderal GPH Djatikusumo: Pangeran Jawa Mirip dengan Panglima Perang Islam Khalid Bin Walid dan Tariq Bin Ziad
Minggu, 29 Desember 2024 - 13:47 WIB
loading...
A
A
A
Namun, keadaan memaksanya kembali ke Indonesia ketika Perang Dunia II meletus. Setelah melanjutkan pendidikan di THS Bandung (kini ITB), perang kembali memaksa ia berhenti di tingkat empat.
Baca juga: Kisah Pangeran Diponegoro Bertemu Ratu Kidul saat Perang Jawa di Tengah Bulan Purnama
Tidak menyerah, Djatikusumo bergabung dengan Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) dan kemudian menjadi anggota PETA angkatan pertama di Bogor.
Karier militernya dimulai sebagai Komandan Kompi I Batalyon I Surakarta dan terus menanjak. Pada masa pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), ia diangkat sebagai Komandan BKR Solo berpangkat Mayor.
Djatikusumo memainkan peran penting dalam pertempuran di Semarang dan berhasil melucuti senjata Jepang.
Di kalangan TNI, Djatikusumo dikenal sebagai pemimpin yang loyal dan penuh strategi. Ia memimpin Divisi IV di Salatiga dan Divisi V Ronggolawe setelah reorganisasi TNI.
Pada Februari 1948, ia diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pertama dengan markas di Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Jabatan ini hanya ia emban selama satu tahun sebelum diserahkan kepada Kolonel A.H. Nasution.
Jenderal TNI A.H. Nasution menggambarkan Djatikusumo sebagai sosok yang mengingatkan pada Panglima Perang Islam Khalid Bin Walid dan Tariq Bin Ziad.
Baca juga: Kisah Pangeran Diponegoro Bertemu Ratu Kidul saat Perang Jawa di Tengah Bulan Purnama
Tidak menyerah, Djatikusumo bergabung dengan Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) dan kemudian menjadi anggota PETA angkatan pertama di Bogor.
Berkarier di Militer
Karier militernya dimulai sebagai Komandan Kompi I Batalyon I Surakarta dan terus menanjak. Pada masa pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), ia diangkat sebagai Komandan BKR Solo berpangkat Mayor.
Djatikusumo memainkan peran penting dalam pertempuran di Semarang dan berhasil melucuti senjata Jepang.
Di kalangan TNI, Djatikusumo dikenal sebagai pemimpin yang loyal dan penuh strategi. Ia memimpin Divisi IV di Salatiga dan Divisi V Ronggolawe setelah reorganisasi TNI.
Pada Februari 1948, ia diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pertama dengan markas di Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Jabatan ini hanya ia emban selama satu tahun sebelum diserahkan kepada Kolonel A.H. Nasution.
Dibandingkan dengan Panglima Perang Islam
Jenderal TNI A.H. Nasution menggambarkan Djatikusumo sebagai sosok yang mengingatkan pada Panglima Perang Islam Khalid Bin Walid dan Tariq Bin Ziad.
Lihat Juga :