alexametrics

Kerajaan Agung Sejagat Purworejo

Toto Santoso Sangat Imajinatif dan Punya Riwayat Frustasi Masa Lalu

loading...
Toto Santoso Sangat Imajinatif dan Punya Riwayat Frustasi Masa Lalu
Raja Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso (42) memiliki riwayat frustasi masa lalu sebelum mendirikan kerajaan abal-abal di Purworejo Jateng. Foto/SINDOnews.dok
A+ A-
SEMARANG - Raja Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso (42) memiliki riwayat frustasi masa lalu sebelum mendirikan kerajaan "abal-abal" di Purworejo Jateng.

Toto diketahui juga merupakan sosok yang sangat imajinatif. Kesimpulan tersebut muncul dari pemeriksaan psikologi yang dilakukan Polda Jawa Tengah. (Baca juga: Keguguran, Ratu Agung Sejagat Minta Penangguhan Penahanan)

"Toto itu penuh dengan imajinasi, kemudian adanya hambatan sosial dan frustasi masa lalu," kata Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Iskandar Fitriana Sutisna, Rabu (22/1/2020).



Sutisna menambahkan bahwa menurut psikiater, Toto mempunyai frustasi-frustasi masa lalu. "Banyak yang gagal kira-kira gitu. Sehingga dia selalu membuat perilaku yang menurut dia biasa," tambahnya. (Baca juga: Pertemuan Raja-Ratu Agung Sejagat, Kisah Cinta Bujang-Janda)

Sementara hasil pemeriksaan psikologi pada Ratu Fanni Aminadia (41), menunjukkan perempuan itu sebagai sosok cerdas. Kecerdasan sang ratu ditunjukkan dengan memberikan gagasan untuk merancang seragam punggawa-punggawa keraton.

"Dia (Fanni) lebih banyak merancang, mulai dari pakaian, batu, tanda-tanda kartu identitas yang dibuat-buat itu semua yang merancang adalah Fanni. Kalau untuk gagasan mendirikan keraton dari Toto," jelasnya.

Selain itu secara kepribadian, lanjut Sutisna, tersangka Fani penuh pesona menutup-nutupi, dan penuh keraguan. Diketahui, Toto dan Fanni ditetapkan menjadi tersangka setelah ditangkap polisi pada 14 Januari. Mereka dijerat Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan Pasal 14 UU Nomor 1 tahun 1946 tentang Penyebaran Berita Bohong.

"Kesimpulannya bahwa kedua pelaku ini menunjukkan perilaku yang secara potensial yang biasa dilakukan oleh pelaku. Artinya adalah itu perilaku ini merupakan perilaku yang biasa dilakukan, itu (mendirikan keraton) biasa," terangnya.
(shf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak