Kisah Pencarian Emas Hitam Rempah-rempah Maluku oleh Portugis Berujung Perang dengan Sultan Baabullah

Senin, 16 Desember 2024 - 07:28 WIB
loading...
Kisah Pencarian Emas...
Demi mencari emas hitam berupa emas hitam rempah-rempah, Portugis mengirim armada ke Maluku. Upaya monopoli ini berujung perang dengan Sultan Baabullah. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
MALUKU - Demi mencari emas hitam berupa rempah-rempah, Portugis mengirim armada dari Malaka ke wilayah Maluku. Pemimpin armada Portugis, Alfonso de Albuquerque meminta pasukannya untuk merebut daerah-daerah rempah-rempah yang dilakukan pada tahun 1512.

Armada Portugis dikirim tiga keli ke Maluku yang dipimpin oleh Antonio de Abreu. Tapi sayang dari tiga armada itu, konon satu armada kapal yang memuat perbekalan karam di daerah Madura karena cuaca buruk.

Baca juga: Jejak Kejayaan Rempah-Rempah di Bumi Nusantara

Hal ini dianggap sempat menyulitkan Portugis dalam urusan logistik, untuk mencari rempah-rempah.

Apalagi tujuan utama ekspedisi ke Maluku itu untuk membangun monopoli Portugis atas perdagangan cengkih. Armada itu pertama-tama tiba di kepulauan Banda, yaitu pusat produksi pala dan fuli atau bunga pala.



Setelah satu kapal layar lagi tenggelam, sisa armada itu tiba di Ternate pada tahun itu juga.

Susah payah pasukan Portugis akhirnya tiba di Ternate pada ekspedisi pertamanya. Portugis dikutip dari buku "Sejarah Nasional Indonesia IV : Kemunculan Penjajahan di Indonesia, akhirnya menjalin hubungan dengan Sultan Aby Lais, sang Sultan Ternate.

Baca juga: Pantai Gesing Gunungkidul dan Cerita Kejayaan Rempah-rempah Nusantara

Selanjutnya Sultan Ternate itu berjanji akan menyediakan cengkih bagi Portugis setiap tahun, dengan syarat dibangunnya sebuah benteng di Pulau Ternate.

Ia malah mengirim sebuah surat kepada Raja Dom Manuel dari Portugal dan kepada Kapitan Malaka dengan permintaan yang sama.

Awalnya hubungan Portugis dengan Sultan Ternate dirintis oleh Antonio de Brito, cukup bagus. Hubungannya dengan Sultan Ternate yang masih kanak-kanak, Kaicili Abu Hayat, dan pengasuhnya Kaicili Darwis, berlangsung sangat baik.

Pihak Ternate tanpa ragu mengizinkan De Brito membangun benteng pertama Portugis di Pulau Ternate, bernama Sao Joao Bautista atau Nossa Seighora de Rossario pada tahun 1522.

Penduduk Ternate menggunakan istilah "Kastela" untuk benteng itu, bahkan kemudian benteng itu lebih dikenal dengan nama Gamalama.

Sejak tahun 1522 hingga tahun 1570 terjalin suatu hubungan dagang atau cengkih, ntara Portugis dan Ternate. Sudah tentu tidak jarang terjadi konflik antara para penguasa Ternate dan pihak Portugis yang senantiasa mencoba mendominasi Ternate

Tidak lama setelah orang Portugis mempunyai hubungan tetap dengan Ternate, orang Spanyol yang telah menguasai Manila tiba pula di Maluku dan membuat persekutuan dengan Kerajaan Tidore untuk kepentingan perdagangan cengkih.

Akibat kehadiran kedua kekuasaan Barat itu di Maluku, dualisme antara Ternate dan Tidore yang senantiasa telah ada di sana makin meningkat tajam dan tidak jarang disertai peperangan.

Sebaliknya, Sultan Tidore juga mengizinkan Spanyol membangun sebuah benteng di Pulau Tidore. Konflik yang sering terjadi antara Portugis dan Sultan Ternate itu akhirnya meluas menjadi peperangan yang besar.

Awal peperangan itu adalah pembunuhan Sultan Khairun yang memerintah 1537-1570 yang dikhianati oleh seorang prajurit Portugis di Benteng Gamalama.

Pengkhianatan dari pihak Portugis itu membangkitkan perlawanan Sultan Baabullah (1570-1584), putra Khairun. Baabulah mengepung benteng Portugis tersebut selama lima tahun.

Selain itu, Baabullah juga berhasil mengerahkan daerah-daerah lainnya di Maluku (kecuali Tidore) untuk melawan Portugis.

Wilayah-wilayah yang melawannya, seperti Bacan, dihancurkannya. Berkali-kali ia mengirim armada-armada kora-kora Ternate ke kepulauan Ambon untuk menyerang desa-desa yang penduduknya telah beragama Kristen Katolik.

Benteng Gamalama dikepungnya secara ketat, sehingga tidak seorang Portugis pun dapat memasuki atau meninggalkannya.

Sejak pemerintahan Baabullah, Ternate menjadi pusat perdagangan yang paling ramai di Maluku. Hak monopoli Portugis dihapus, dan Ternate dijadikan pelabuhan bebas.

Para pedagang Cina, Jawa, Melayu, dan lainnya, dengan bebas berdagang di Ternate. Sementara itu, benteng Gamalama yang dikepung rapat sejak tahun 1570 itu menyebabkan penghuni benteng kekurangan makanan serta berjangkitnya penyakit.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Gempa M5,2 Guncang Maluku...
Gempa M5,2 Guncang Maluku Sore Ini, Tidak Berpotensi Tsunami
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
4 Keuntungan Besar Iran...
4 Keuntungan Besar Iran dalam Perjanjian Damai dengan AS, dari Kompensasi hingga Program Nuklir
Presiden Iran Klaim...
Presiden Iran Klaim Teheran Keluar sebagai Pemenang, Ini Alasan Utamanya
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
Rekomendasi
Pesawat Pengebom Nuklir...
Pesawat Pengebom Nuklir B-52 AS Jatuh Tewaskan 8 Awak, Harganya Rp1,5 Triliun
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Maxi Araujo Selamatkan Uruguay dari Kejutan Arab Saudi
Zionis Israel Ratapi...
Zionis Israel Ratapi Kesepakatan Damai AS-Iran: Kami Ditinggalkan Sendirian!
Berita Terkini
Sambut 1 Muharram, Ulama...
Sambut 1 Muharram, Ulama Ajak Masyarakat Tolak Provokasi dan Jaga Persatuan Umat
Kronologi Mahasiswa...
Kronologi Mahasiswa Geruduk Budiman Sudjatmiko, Sudaryono dan Nusron Wahid saat Diskusi di UGM
Dari Keinginan Bahagiakan...
Dari Keinginan Bahagiakan Orang Tua, Lahir Warung Irine Gresik
Nabung Emas di BRImo...
Nabung Emas di BRImo Kini Otomatis Lewat Fitur Toggle, Modal Mulai Rp10 Ribu!
Sempat Memanas, Mahasiswa...
Sempat Memanas, Mahasiswa yang Demo di Jalan Jenderal Sudirman Akhirnya Membubarkan Diri
Mahasiswa BEM SI Kerakyatan...
Mahasiswa BEM SI Kerakyatan Bubarkan Diri, Polisi Bersihkan Sampah di Depan Gedung DPR
Infografis
Jurnalis Inggris: Pakistan...
Jurnalis Inggris: Pakistan Pemenang dalam Perang dengan India
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved