alexametrics

Empat Warga Sultra Disandera Abu Sayyaf, Ini Harapan Keluarga ke Pemerintah

loading...
Empat Warga Sultra Disandera Abu Sayyaf, Ini Harapan Keluarga ke Pemerintah
Orang tua korban sandera Abu Sayyaf yang berada di Kabupaten Buton hanya bisa pasrah dan berharap pemerintah bisa membebaskan keluarganya. Foto/MNC Media/Andhy Eba
A+ A-
BUTON - Kelompok militan Abu Sayyaf kembali menyandera lima orang warga negara Indonesia (WNI). Perinciannya, empat sandera merupakan warga Sulawesi Tenggara (Sultra), satu dari Kabupaten Buton dan tiga lainnya dari Kabupaten Wakatobi.

Sementara itu, keluarga korban sandera Abu Sayyaf yang berada di Kabupaten Buton hanya bisa pasrah dan berharap pemerintah bisa membebaskan keluarganya.

Salah satu keluarga korban sandera Abu Sayyaf, La Baa, yang berada di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, terkejut dan hanya bisa pasrah anggiota keluarganya telah disandera kelompok Abu Sayyaf di perairan Malaysia, Kamis (16/1/2020).



"Keluarga mengharapkan bantuan pemerintah pusat agar La Baa dapat segera di bebaskan dan pulang ke kampung halamannya dengan selamat," kata salah satu kerabatnya.

Keluarga korban sandera mengetahui La Baa telah disandera setelah diberitahu dari seorang babinsa desa Kalemanta, Kecamatan Kapuntori, Kabupaten Buton. Setelah mendengar La Baa disandera kelompok Abu Sayyaf, kedua orang tua korban sandera yang berada di Buton terkejut dan shock.

Keluarga korban sandera La Baa kebingungan untuk mencari bantuan agar anggota keluarganya bisa dibebaskan. "Saat ini keluarga korban sandera Abu Sayyaf, La Baa, telah mengurus membuatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik La Baa.

Waini, kakak korban sandera Abu Sayyaf mengatakan, keluarga telah mengetahui adiknya disandera kelompok Abu Sayyaf dari temannya La Baa sendiri dan juga dari babinsa.

Keluarga mengaku sangat terkejut saat mendengar adiknya disandera di Philipina. Waini meminta bantuan kepada pemerintah pusat agar adiknya segera dibebaskan. "La Baa telah pergi merantau sejak Juli 2019 dan langsung berlayar ke Malaysia," terangnya.

Menurut keluarga, La Baa di Malaysia bekerja sebagai nelayan di kapal ikan di perusahaan ikan di Malaysia. Setelah bekerja di Malaysia, baru dua kali ia mengirimkan gajinya kepada keluarganya.
(pur)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak