Kisah Kitab Kuno Nagarakretagama Deskripsikan Kerajaan Besar yang Berkuasa di Pulau Jawa
Senin, 25 November 2024 - 05:39 WIB
loading...
A
A
A
Tak heran sebagaimana dikutip dari buku "Tafsir Sejarah Nagarakretagama", dari sejarawan Prof Slamet Muljana, maka Nagarakretagama juga mencakup sejarah raja-raja Singasari dari pendirinya Raja Rajasa sampai Raja Kertanagara, raja terakhir Singasari yang mangkat pada tahun 1292, yang tercantum pada Nagarakretagama pupuh 40-49.
Atas dasar itu, judul Nagarakretagama yang hanya disebut dalam kolofon, jauh lebih berkesan daripada judul Deçawarnnana, atau yang berarti "uraian tentang desa-desa", yang disarankan oleh penggubahnya sendiri. Sampai sekarang, nama penggubahnya yang menyamar sebagai Prapanca belum diketahui.
Baca juga: Misteri Kitab Pararaton Kisahkan Perjalanan Raja Singasari dan Majapahit
Menurut pengakuannya, ia adalah putera seorang dharmmadyaksa kasogatan. Ia diangkat oleh Sri Rajasanagara sebagai pengganti ayahnya.
Namanya terdiri dari lima aksara pancaksara. Tentang alasan penyamarannya diuraikan dalam karya sang pujangga, Lambang, dimulai sebelum penggubahan Nagarakretagama, namun baru siap sesudahnya.
Dikatakan dalam pupuh 13, sang pujangga sengaja mengambil nama samaran dan diam di suatu desa sunyi-sepi, karena takut kalau-kalau diketahui namanya yang benar.
Atas dasar itu, judul Nagarakretagama yang hanya disebut dalam kolofon, jauh lebih berkesan daripada judul Deçawarnnana, atau yang berarti "uraian tentang desa-desa", yang disarankan oleh penggubahnya sendiri. Sampai sekarang, nama penggubahnya yang menyamar sebagai Prapanca belum diketahui.
Baca juga: Misteri Kitab Pararaton Kisahkan Perjalanan Raja Singasari dan Majapahit
Menurut pengakuannya, ia adalah putera seorang dharmmadyaksa kasogatan. Ia diangkat oleh Sri Rajasanagara sebagai pengganti ayahnya.
Namanya terdiri dari lima aksara pancaksara. Tentang alasan penyamarannya diuraikan dalam karya sang pujangga, Lambang, dimulai sebelum penggubahan Nagarakretagama, namun baru siap sesudahnya.
Dikatakan dalam pupuh 13, sang pujangga sengaja mengambil nama samaran dan diam di suatu desa sunyi-sepi, karena takut kalau-kalau diketahui namanya yang benar.
Lihat Juga :