Cerita Masjid Bungkuk Malang Tempat Penggemblengan Pejuang 10 November hingga Kebal Senjata
Sabtu, 09 November 2024 - 10:00 WIB
loading...
A
A
A
Belanda dan sekutunya memasuki Indonesia mulai dari kawasan Surabaya. Belanda dan sekutu terus bergerak ke selatan mencoba menguasai kembali beberapa daerah ke selatan Surabaya yang sempat dikuasai sebelum kedatangan Jepang.
"Waktu itu mulai masuk dari Surabaya yang diincar mulai terjadi rundingan gagal, rundingan gagal, perang lagi, hingga ada perang enam hari matinya Jenderal Mallaby. Belanda bertahan tahun 45, akhir 46, (tahun) 47 di Surabaya, 47 mulai merangsek ke selatan," ungkapnya.
Saat itu wilayah Malang dan sekitarnya belum dalam penguasaan Belanda. Namun, pergerakan Belanda yang terus merangsek ke selatan memasuki daerah Porong membuat pejuang sekitar Malang bersiaga.
Antisipasi dilakukan para pejuang termasuk tokoh-tokoh ulama Islam di Malang dan sekitarnya. Mereka bersama-sama rakyat dan gerilyawan berlatih perang dan membekali dengan ilmu spiritual yang akan dikirim ke Porong untuk berjuang melawan Belanda dan sekutunya.
"Di sana itu gerilya dikirim rata-rata cuma dibekali istilahnya tahan peluru, minum telur ayam, dikasih doa ditelan. Biar orang-orang yang mau berangkat untuk gerilya biasanya diangkut menuju perbatasan frontnya, di daerah Porong dikirim ke sana," terang pria yang juga penasehat takmir Masjid At Thohiriyah, Bungkuk.
"Dari mana-mana dari Jember ke sana, dari Malang ke sana, Singosari ini tempat menggemblengnya mengebalkan di sini, nggak ada markas tentara-tentara nggak ada baru berdiri Oktober, nggak ada waktu itu yang ada gerilyawan," ucap Moensif.
Dia masih ingat betul selain di Bungkuk, Singosari, rumah orang tuanya KH Nachrawi juga digunakan para pejuang gerilyawan berkumpul. Di sana para pejuang dibekali ilmu agama, peperangan, dan terpenting kebal saat ditembak senjata api oleh Belanda dan sekutunya.
"Waktu itu mulai masuk dari Surabaya yang diincar mulai terjadi rundingan gagal, rundingan gagal, perang lagi, hingga ada perang enam hari matinya Jenderal Mallaby. Belanda bertahan tahun 45, akhir 46, (tahun) 47 di Surabaya, 47 mulai merangsek ke selatan," ungkapnya.
Saat itu wilayah Malang dan sekitarnya belum dalam penguasaan Belanda. Namun, pergerakan Belanda yang terus merangsek ke selatan memasuki daerah Porong membuat pejuang sekitar Malang bersiaga.
Antisipasi dilakukan para pejuang termasuk tokoh-tokoh ulama Islam di Malang dan sekitarnya. Mereka bersama-sama rakyat dan gerilyawan berlatih perang dan membekali dengan ilmu spiritual yang akan dikirim ke Porong untuk berjuang melawan Belanda dan sekutunya.
"Di sana itu gerilya dikirim rata-rata cuma dibekali istilahnya tahan peluru, minum telur ayam, dikasih doa ditelan. Biar orang-orang yang mau berangkat untuk gerilya biasanya diangkut menuju perbatasan frontnya, di daerah Porong dikirim ke sana," terang pria yang juga penasehat takmir Masjid At Thohiriyah, Bungkuk.
"Dari mana-mana dari Jember ke sana, dari Malang ke sana, Singosari ini tempat menggemblengnya mengebalkan di sini, nggak ada markas tentara-tentara nggak ada baru berdiri Oktober, nggak ada waktu itu yang ada gerilyawan," ucap Moensif.
Dia masih ingat betul selain di Bungkuk, Singosari, rumah orang tuanya KH Nachrawi juga digunakan para pejuang gerilyawan berkumpul. Di sana para pejuang dibekali ilmu agama, peperangan, dan terpenting kebal saat ditembak senjata api oleh Belanda dan sekutunya.
Lihat Juga :