Relief Candi Jago Jadi Inspirasi Perajin Batik Kota Malang
Senin, 14 Oktober 2024 - 08:06 WIB
loading...
A
A
A
Pada sesi kegiatan kelas berkain dan hunting foto di candi Jago, selain memperkenalkan eksistensi perajin batik, peserta diberikan strategi promosi batik sekaligus edukasi mengenai kekayaan sejarah.
Ki Demang yang juga ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) kota Malang menegaskan, Malang memang menjadi salah satu tonggak peradaban di Jawa sejak adanya Medang, Kanjuruhan, Singhasari hingga Majapahit. "Beragam relief arca di candi Jago bisa menjadi alternatif motif yang dapat dikembangkan oleh perajin batik Malang," tuturnya.
Owner Batik Blimbing, Wiwik Niarti berkesempatan memberikan tutorial 5 model mengenakan kain jarik kepada 25 model dari SMAN 1 Tumpang. Wiwik mengaku prihatin adanya pemakaian kain jarik dan kebaya yang sudah banyak keluar pakem, apalagi itu di atas paha dan dibuat senam, joget pargoy. Itu sungguh tidak sopan.
"Makanya saya edukasi generasi muda agar bisa memakai kain yang lebih anggun sesuai dengan situasi dan peruntukan acara," ujar wakil kepala sekolah SMK 1 Muhammadiyah Malang ini. Baca juga: Kerajaan Singasari: Asal-usul, Masa Kejayaan, Keruntuhan dan Peninggalannya
Diketahui, pada 2 Oktober 2009, organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan budaya takbenda (Intangible Cultural Heritage). Batik layak diakui dunia karena dibuat dengan teknik, memiliki simbolisme, dan budaya yang sangat melekat dengan kebudayaan Indonesia.
Ki Demang yang juga ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) kota Malang menegaskan, Malang memang menjadi salah satu tonggak peradaban di Jawa sejak adanya Medang, Kanjuruhan, Singhasari hingga Majapahit. "Beragam relief arca di candi Jago bisa menjadi alternatif motif yang dapat dikembangkan oleh perajin batik Malang," tuturnya.
Owner Batik Blimbing, Wiwik Niarti berkesempatan memberikan tutorial 5 model mengenakan kain jarik kepada 25 model dari SMAN 1 Tumpang. Wiwik mengaku prihatin adanya pemakaian kain jarik dan kebaya yang sudah banyak keluar pakem, apalagi itu di atas paha dan dibuat senam, joget pargoy. Itu sungguh tidak sopan.
"Makanya saya edukasi generasi muda agar bisa memakai kain yang lebih anggun sesuai dengan situasi dan peruntukan acara," ujar wakil kepala sekolah SMK 1 Muhammadiyah Malang ini. Baca juga: Kerajaan Singasari: Asal-usul, Masa Kejayaan, Keruntuhan dan Peninggalannya
Diketahui, pada 2 Oktober 2009, organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan budaya takbenda (Intangible Cultural Heritage). Batik layak diakui dunia karena dibuat dengan teknik, memiliki simbolisme, dan budaya yang sangat melekat dengan kebudayaan Indonesia.
(poe)
Lihat Juga :