Cerita Pahit Jenderal Dudung Berurai Air Mata Gegara Baki Kue Klepon Ditendang Tamtama
Selasa, 01 Oktober 2024 - 06:38 WIB
loading...
Mantan KSAD Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman. Foto/SINDOnews
A
A
A
KEHIDUPAN Jenderal Dudung Abdurachman adalah sebuah kisah tentang keteguhan, ketabahan, dan kerja keras tanpa kenal lelah mengantarkan dirinya pada posisi tertinggi yakni sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dengan pangkat Jenderal bintang empat.
Namun, sebelum mencapai puncak kariernya, perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan dan pengorbanan yang berat. Dudung, lahir di tengah keluarga sederhana, tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dirinya menjadi pemimpin besar di dunia militer.
Kehidupan keras telah menempanya sejak dini. Saat usianya baru 12 tahun, dunia Dudung berubah drastis. Ayahnya meninggal dunia, meninggalkan sang ibu seorang diri dengan delapan anak untuk dihidupi.
Baca juga: Kisah DN Aidit Jadikan Malang Lumbung Suara Propaganda Palu Arit di Timur Jawa
Pada usia yang begitu muda, Dudung harus memikul tanggung jawab yang besar. Kepergian ayahnya menjadi titik balik dalam hidupnya, membangkitkan tekad untuk membantu keluarganya keluar dari jerat kemiskinan.
Ibunya, yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, bekerja keras untuk menghidupi delapan anaknya. Mereka hidup dalam keterbatasan. Bahkan Jenderal Dudung merupakan keturunan Sunan Gunung Jati.
![Cerita Pahit Jenderal Dudung Berurai Air Mata Gegara Baki Kue Klepon Ditendang Tamtama]()
Jenderal TNI Dudung Abdurachman menerima tiga brevet sekaligus dari Kopassus penyematan di Mako Kopassus Cijantung, Jakarta Timur, Selasa 21 Desember 2021. Foto/IST
SINDOnews mengutip dari podcast YouTube di tniad.mil.id berjudul Mengenal Sosok KSAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman. Dudung remaja saat itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa beratnya perjuangan sang ibu, dan ia merasa terdorong untuk turut membantu.
“Saya berpikir waktu itu bagaimana harus menopang ekonomi, sementara saya itu ya juga harus sekolah,” kata Dudung memberi kuliah umum di Universitas Andalas bertajuk 'Penguatan Wawasan Kebangsaan dalam Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka”.
Baca juga: Kisah Kubilai Khan Murka Hukum Cambuk Tiga Jenderal Mongol usai Kalah dari Majapahit
Maka, Dudung pun mulai menjual kue kelepon dan kerupuk bersama ibunya. Setiap pagi, mereka bangun lebih awal, mempersiapkan dagangan untuk dijual ke pasar-pasar dan kantin-kantin di sekitar wilayah mereka, termasuk kantin Kodam Siliwangi.
Namun, sebelum mencapai puncak kariernya, perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan dan pengorbanan yang berat. Dudung, lahir di tengah keluarga sederhana, tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari dirinya menjadi pemimpin besar di dunia militer.
Kehidupan keras telah menempanya sejak dini. Saat usianya baru 12 tahun, dunia Dudung berubah drastis. Ayahnya meninggal dunia, meninggalkan sang ibu seorang diri dengan delapan anak untuk dihidupi.
Baca juga: Kisah DN Aidit Jadikan Malang Lumbung Suara Propaganda Palu Arit di Timur Jawa
Pada usia yang begitu muda, Dudung harus memikul tanggung jawab yang besar. Kepergian ayahnya menjadi titik balik dalam hidupnya, membangkitkan tekad untuk membantu keluarganya keluar dari jerat kemiskinan.
Ibunya, yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, bekerja keras untuk menghidupi delapan anaknya. Mereka hidup dalam keterbatasan. Bahkan Jenderal Dudung merupakan keturunan Sunan Gunung Jati.

Jenderal TNI Dudung Abdurachman menerima tiga brevet sekaligus dari Kopassus penyematan di Mako Kopassus Cijantung, Jakarta Timur, Selasa 21 Desember 2021. Foto/IST
SINDOnews mengutip dari podcast YouTube di tniad.mil.id berjudul Mengenal Sosok KSAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman. Dudung remaja saat itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa beratnya perjuangan sang ibu, dan ia merasa terdorong untuk turut membantu.
“Saya berpikir waktu itu bagaimana harus menopang ekonomi, sementara saya itu ya juga harus sekolah,” kata Dudung memberi kuliah umum di Universitas Andalas bertajuk 'Penguatan Wawasan Kebangsaan dalam Implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka”.
Baca juga: Kisah Kubilai Khan Murka Hukum Cambuk Tiga Jenderal Mongol usai Kalah dari Majapahit
Maka, Dudung pun mulai menjual kue kelepon dan kerupuk bersama ibunya. Setiap pagi, mereka bangun lebih awal, mempersiapkan dagangan untuk dijual ke pasar-pasar dan kantin-kantin di sekitar wilayah mereka, termasuk kantin Kodam Siliwangi.
Lihat Juga :