Kisah Letnan Jenderal TNI (Purn) Soegito, Jual Sepeda dan Palsukan Tanda Tangan Bapaknya demi Masuk Akmil

Selasa, 17 September 2024 - 06:22 WIB
loading...
A A A
Pada saat datang panggilan terakhir ke Semarang di tahun 1958, maka setiap calon harus membawa ijazah asli kelulusannya. Begitu juga Soegito, ia harus mendapatkan ijazah SMA sebelum menemui personel bagian penerimaan taruna di Semarang. Untuk itu ia harus menghadap Kepala Sekolah Soemarmo.

Soegito menyampaikan maksudnya kepada kepala sekolah untuk mengambil ijazah. Sambil mengangguk-anggukan kepalanya, Soemarno lalu membuka sebuah buku besar. Matanya bergerak cepat mencari nama Soegito di antara daftar nama siswa. "Wah, siswa Gito kamu belum melunasi pembayaran uang gedung," tuturnya datar yang ditanggapi Soegito sambil diam dan sedikit menundukkan kepala.

"Tapi maaf saya sudah tidak punya uang lagi Pak karena sudah bolak-balik ke Semarang dan besok harus kembali ke Semarang terus ke Cimahi," jawabnya gelagapan.

Sempat terpikir meminjam uang kepada kakaknya, tapi Soegito merasa malu. Bayangan ibunya melintas saat terakhir memberikan uang untuk membayar keperluan terkait kelulusan di sekolahnya. Namun uangnya sudah terpakai untuk berbagai keperluan termasuk ongkos ke Semarang.

"Tapi siswa Gito harus membayarnya, bagaimana," suara Pak Marmo meninggi dan langsung membuyarkan lamunannya.

"Pak, saya benar-benar sudah tidak punya uang," pinta Soegito. "Ya sudah, nih," jawab kepala sekolah sambil menyodorkan ijazahnya dengan agak terpaksa.

Selain harus mengantongi ijazah, seorang calon juga sudah harus membawa surat keterangan tanda persetujuan dari orang tua untuk mengikuti pendidikan AMN. Kalau harus pergi lagi ke Cilacap, jelas saja butuh waktu dan ongkos. Sementara uangnya sudah pas-pasan.

Saat itu dari Purwokerto ke Cilacap cukup menyita waktu karena terbatasnya jumlah bus dan kondisi jalan yang rusak berat. Perjalanan darat sekitar dua sampai tiga jam melalui Sokaraja, Banyumas, Kota Buntu, Kroya, lalu melewati jembatan Serayu sebelum tiba di Cilacap.

Jalan lainnya melewati jembatan Maos tidak bisa dilewati karena kondisi jembatannya masih rusak setelah sengaja dihancurkan gerilyawan semasa Perang Kemerdekaan. "Makanya saya makin malas ke Cilacap," ucap Soegito.

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Soegito pun akhirnya menemukan cara paling mudah. Memalsukan tanda tangan bapaknya. Soegito memang paling pintar meniru tanda tangan, mungkin karena bakat menggambar dan kemampuan menulisnya yang bagus. Tidak hanya tanda tangan bapaknya, tanda tangan kakak iparnya pun ia bisa.

Alhasil setelah surat keterangan orang tua selesai diketik, tanpa kesulitan Soegito pun membubuhkan tanda tangan bapaknya di lembar persetujuan. "Selain ngirit, saya masuk AMN kan atas risiko saya dan kalau terjadi apa-apa kan urusan saya," Soegito beralasan.

Panggilan terakhir yang ditunggu pun datang. Nah, ini merupakan jawaban bahwa Soegito termasuk yang terpilih untuk mengikuti seleksi tahap akhir di Cimahi, Bandung. Pada hari yang ditentukan, Soegito telah berada di tempat seleksi calon taruna di Semarang. Di sini dikumpulkan semua calon taruna yang berasal dari Jawa Tengah, sekitar 100-an orang.

Mereka kemudian diberangkatkan ke Bandung dengan menumpang kereta api. Selama di perjalanan dari Semarang ke Bandung, mereka yang berasal dari Banyumas dan Purwokerto lebih memilih diam daripada ikutan teriak-teriak sambil becanda. Maklum, gaya bicara Banyumasan yang dikenal ngapak-ngapak dan dinilai kampungan. Seringkali jadi bahan tertawaan bagi yang mendengar. Di antara calon taruna yang suka ngeledek anak Banyumas adalah Pramono dan kelompoknya dari Yogya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Calvin dan Yehezkiel,...
Kisah Calvin dan Yehezkiel, Peraih Adhi Makayasa 2026 yang Dilantik Prabowo di Istana Merdeka
Kisah Haru Anak Kuli...
Kisah Haru Anak Kuli Bangunan Dilantik Presiden Prabowo Jadi Perwira TNI di Istana
Lantik 1.177 Perwira...
Lantik 1.177 Perwira TNI-Polri, Prabowo: Pangkat adalah Amanah dan Kepercayaan Rakyat
Rekomendasi
Pemeriksaan Febrie Adriansyah...
Pemeriksaan Febrie Adriansyah di Kejagung, Eks Penyidik KPK: Penahanan Penting agar Penyidikan Tak Diintervensi
Baku Tembak Pecah di...
Baku Tembak Pecah di Tepi Barat, 1 Ekstremis Israel Tewas, 4 Warga Palestina Meninggal
Eks Jubir KPK Febri...
Eks Jubir KPK Febri Diansyah Resmi Jadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
Berita Terkini
Suami Istri Pemilik...
Suami Istri Pemilik Hanania Travel Ditetapkan Jadi Tersangka Penipuan Jemaah Umrah
Wali Kota Semarang:...
Wali Kota Semarang: Butuh Komitmen Bersama dalam Pemberantasan Korupsi
Kasus Debt Collector...
Kasus Debt Collector dan Nasabah Digerebek di Purworejo Berakhir Damai
Tidar Jakarta Barat...
Tidar Jakarta Barat Yakin Sudaryono Mampu Perkuat Tata Kelola Program MBG
Ketua HMI Merauke: PSN...
Ketua HMI Merauke: PSN Harus Tingkatkan Pendidikan dan Kesejahteraan Orang Asli Papua
Polisi Sudah Periksa...
Polisi Sudah Periksa 10 Saksi di Kasus Dugaan Penghinaan Profesi Wartawan oleh Hotman Paris
Infografis
Profil Gatot Nurmantyo,...
Profil Gatot Nurmantyo, Mantan Panglima TNI yang Masuk Bursa Menko Polkam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved