Konflik Internal Bangsawan Bikin Kerajaan Sunda Kerap Berganti Ibu Kota
Selasa, 03 September 2024 - 06:04 WIB
loading...
A
A
A
Menurut bukuMenemukan Kerajaan Sundakarya Saleh Danasasmita, kehadiran Raja Sunda dari Galuh di Pakuan belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat. Situasi serupa terjadi ketika Sanjaya dan Tamperan, yang berasal dari Sunda, memerintah di Galuh.
Ketegangan ini akhirnya memicu pembunuhan Prabu Darmaraksa oleh seorang menteri Sunda yang fanatik. Setiap raja baru di Sunda selalu mempertimbangkan lokasi pusat pemerintahan, yang menyebabkan ibu kota kerajaan berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya.
Baca Juga: Kisah Cinta Prabu Siliwangi dan Subang Larang, Sebuah Romansa dari Tanah Sunda
Antara tahun 895 hingga 1311, wilayah Jawa Barat seringkali diramaikan oleh perpindahan rombongan kerajaan. Misalnya, ayah Sri Jayabupati memerintah di Galuh, Sri Jayabupati sendiri memerintah di Pakuan, dan putranya kembali ke Galuh.
Dua raja berikutnya, yaitu raja Sunda ke-22 dan ke-23, memerintah di Pakuan. Namun, raja ke-24 memerintah di Galuh, dan raja ke-25, Prabu Guru Darmasiksa, awalnya berkedudukan di Saunggalah sebelum akhirnya pindah ke Pakuan.
Ketegangan ini akhirnya memicu pembunuhan Prabu Darmaraksa oleh seorang menteri Sunda yang fanatik. Setiap raja baru di Sunda selalu mempertimbangkan lokasi pusat pemerintahan, yang menyebabkan ibu kota kerajaan berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya.
Baca Juga: Kisah Cinta Prabu Siliwangi dan Subang Larang, Sebuah Romansa dari Tanah Sunda
Antara tahun 895 hingga 1311, wilayah Jawa Barat seringkali diramaikan oleh perpindahan rombongan kerajaan. Misalnya, ayah Sri Jayabupati memerintah di Galuh, Sri Jayabupati sendiri memerintah di Pakuan, dan putranya kembali ke Galuh.
Dua raja berikutnya, yaitu raja Sunda ke-22 dan ke-23, memerintah di Pakuan. Namun, raja ke-24 memerintah di Galuh, dan raja ke-25, Prabu Guru Darmasiksa, awalnya berkedudukan di Saunggalah sebelum akhirnya pindah ke Pakuan.
Lihat Juga :