Kisah Soetarjo, Gerilyawan yang 4 Kali Tertangkap Pasukan Belanda Tapi Lolos dari Cengkeraman Maut
Rabu, 21 Agustus 2024 - 08:41 WIB
loading...
A
A
A
Penangkapan kedua Soetarjo terjadi tidak lama setelah ia meloloskan diri dari penahanan pertama. Kali ini, ia dipukul dengan popor senapan oleh tentara KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger), tentara Hindia Belanda yang sebagian besar anggotanya adalah orang Indonesia sendiri. Soetarjo menderita luka yang parah, tetapi ia berhasil kabur dari penyiksaan yang dialaminya.
Tak lama setelah itu, Soetarjo kembali tertangkap untuk ketiga kalinya, kali ini ketika ia hendak menuju Wonogiri. Ironisnya, penyiksaan paling berat yang dialaminya justru dilakukan oleh KNIL yang terdiri dari orang Indonesia. Mereka memukul dan menyiksa Soetarjo tanpa ampun, tidak peduli bahwa mereka menyakiti sesama bangsa mereka sendiri. "Yang menyiksa saya banyak dari KNIL orang Indonesia sendiri," ujarnya, mengenang betapa pedihnya pengkhianatan yang ia rasakan.
Pada tahun 1948, Soetarjo mengalami penangkapan keempat, yang merupakan penangkapan paling brutal. Pasukan Belanda yang sudah mengenali wajahnya dari penangkapan sebelumnya, kali ini tidak memberikan ampun. Ia dipukuli sampai muntah darah, dan nyawanya hampir saja melayang. Namun, nasib baik berpihak pada Soetarjo. Di tengah kekerasan yang ia terima, tiba-tiba terjadi panggilan darurat yang membuat pasukan Belanda dan KNIL meninggalkan tempat dengan tergesa-gesa. Dengan tubuh yang lemah dan penuh luka, Soetarjo memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur bersama dua rekannya.
Kisah Soetarjo bukan hanya tentang keberanian melawan penjajah, tetapi juga tentang ketahanan luar biasa dalam menghadapi pengkhianatan dan kekerasan dari sesama bangsa sendiri. Empat kali ia tertangkap, empat kali pula ia berhasil lolos dari maut. Kini, di usia senjanya, Soetarjo tetap menjadi simbol semangat perjuangan yang tidak pernah padam, mengingatkan kita semua akan harga yang harus dibayar untuk kemerdekaan.
Tak lama setelah itu, Soetarjo kembali tertangkap untuk ketiga kalinya, kali ini ketika ia hendak menuju Wonogiri. Ironisnya, penyiksaan paling berat yang dialaminya justru dilakukan oleh KNIL yang terdiri dari orang Indonesia. Mereka memukul dan menyiksa Soetarjo tanpa ampun, tidak peduli bahwa mereka menyakiti sesama bangsa mereka sendiri. "Yang menyiksa saya banyak dari KNIL orang Indonesia sendiri," ujarnya, mengenang betapa pedihnya pengkhianatan yang ia rasakan.
Pada tahun 1948, Soetarjo mengalami penangkapan keempat, yang merupakan penangkapan paling brutal. Pasukan Belanda yang sudah mengenali wajahnya dari penangkapan sebelumnya, kali ini tidak memberikan ampun. Ia dipukuli sampai muntah darah, dan nyawanya hampir saja melayang. Namun, nasib baik berpihak pada Soetarjo. Di tengah kekerasan yang ia terima, tiba-tiba terjadi panggilan darurat yang membuat pasukan Belanda dan KNIL meninggalkan tempat dengan tergesa-gesa. Dengan tubuh yang lemah dan penuh luka, Soetarjo memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur bersama dua rekannya.
Kisah Soetarjo bukan hanya tentang keberanian melawan penjajah, tetapi juga tentang ketahanan luar biasa dalam menghadapi pengkhianatan dan kekerasan dari sesama bangsa sendiri. Empat kali ia tertangkap, empat kali pula ia berhasil lolos dari maut. Kini, di usia senjanya, Soetarjo tetap menjadi simbol semangat perjuangan yang tidak pernah padam, mengingatkan kita semua akan harga yang harus dibayar untuk kemerdekaan.
(hri)
Lihat Juga :