Kehebatan Raden Tumenggung Sosrodilogo, Saudara Ipar Pangeran Diponegoro yang Membuat Belanda Kocar-kacir
Rabu, 21 Agustus 2024 - 07:42 WIB
loading...
A
A
A
Namun, meskipun rencana Nahuys Van Burgst tampaknya berhasil mengalihkan perhatian dari Ngawi, sebuah isu tentang pengalihan serangan ke Rajekwesi (kini Bojonegoro) membuat segalanya berubah. Pasukan Belanda justru mengalami kekalahan telak di Rembang dan sekitarnya. Kekalahan ini sangat memalukan, terutama bagi Nahuys yang terpaksa mundur ke Ngawi dengan perasaan kalah.
Kekalahan tersebut juga memicu kecaman dari pihak Belanda, yang menyalahkan "terreur panique" atau rasa panik yang mencekam pasukan berkuda Madiun, meskipun mereka berseragam merah yang mencolok. Kekalahan memalukan ini akhirnya memaksa Belanda untuk mengakui bahwa pemberontakan yang dipimpin oleh Sosrodilogo bukanlah sekadar perlawanan biasa, tetapi ancaman serius yang membutuhkan perhatian dan kekuatan militer besar.
Sebagai respons, markas besar Belanda mengirimkan Kapten Willem Christiaan von Griesheim, seorang komandan berpengalaman, bersama dengan 350 prajurit infanteri, 24 pasukan berkuda, dan dua senjata ringan untuk memadamkan pemberontakan tersebut. Jenderal De Kock, dalam instruksinya, menekankan pentingnya menghancurkan pasukan yang dipimpin oleh saudara ipar Pangeran Diponegoro dan koalisinya.
Kisah kemenangan Raden Tumenggung Sosrodilogo tidak hanya menjadi cerita heroik yang menginspirasi, tetapi juga menunjukkan betapa besar dampaknya terhadap strategi militer Belanda di Jawa. Kemenangan ini adalah bukti bahwa keberanian dan strategi yang tepat dapat menggoyahkan kekuasaan kolonial, bahkan membuat mereka merasakan kekalahan yang memalukan.
Kekalahan tersebut juga memicu kecaman dari pihak Belanda, yang menyalahkan "terreur panique" atau rasa panik yang mencekam pasukan berkuda Madiun, meskipun mereka berseragam merah yang mencolok. Kekalahan memalukan ini akhirnya memaksa Belanda untuk mengakui bahwa pemberontakan yang dipimpin oleh Sosrodilogo bukanlah sekadar perlawanan biasa, tetapi ancaman serius yang membutuhkan perhatian dan kekuatan militer besar.
Sebagai respons, markas besar Belanda mengirimkan Kapten Willem Christiaan von Griesheim, seorang komandan berpengalaman, bersama dengan 350 prajurit infanteri, 24 pasukan berkuda, dan dua senjata ringan untuk memadamkan pemberontakan tersebut. Jenderal De Kock, dalam instruksinya, menekankan pentingnya menghancurkan pasukan yang dipimpin oleh saudara ipar Pangeran Diponegoro dan koalisinya.
Kisah kemenangan Raden Tumenggung Sosrodilogo tidak hanya menjadi cerita heroik yang menginspirasi, tetapi juga menunjukkan betapa besar dampaknya terhadap strategi militer Belanda di Jawa. Kemenangan ini adalah bukti bahwa keberanian dan strategi yang tepat dapat menggoyahkan kekuasaan kolonial, bahkan membuat mereka merasakan kekalahan yang memalukan.
(hri)
Lihat Juga :