Kisah Tamansari, Lokasi Favorit Raja Mengintip Para Selir Mandi
Kamis, 15 Agustus 2024 - 17:54 WIB
loading...
Salah satu keistimewaan Tamansari adalah kolam-kolam airnya yang indah, yang dahulu digunakan oleh para selir raja untuk mandi. Foto/Ist
A
A
A
Di balik keagungan Keraton Yogyakarta , terdapat sebuah tempat yang memegang banyak rahasia dan kisah sejarah, yaitu Tamansari. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I, tempat ini dikenal sebagai Istana Air atau Water Castle. Terletak sekitar 500 meter di sebelah barat daya Keraton, Tamansari menjadi salah satu simbol arsitektur yang kaya dengan nuansa tradisional dan keunikan desainnya.
Salah satu keistimewaan Tamansari adalah kolam-kolam airnya yang indah, yang dahulu digunakan oleh para selir raja untuk mandi. Dalam tradisi Jawa, seorang selir, atau yang disebut "garwa ampeyan," adalah wanita yang diikat oleh tali kekeluargaan dengan seorang lelaki, tetapi tidak berstatus sebagai istri. Para selir memiliki peran penting dalam menjaga kebahagiaan raja, meskipun status mereka lebih rendah dibandingkan permaisuri.
Budayawan Jawa, PM.A. Masud Thayib Adiningrat, menjelaskan bahwa selir berfungsi untuk membuat raja senang, sehingga mereka juga disebut "klangenan," yang berarti kesenangan. Meski peran mereka terbatas pada urusan pribadi, para selir memiliki jadwal khusus yang diatur oleh punggawa istana, memastikan mereka mendapatkan giliran untuk menemani raja.
Baca Juga: Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta Bakal Dipagari, Ini Alasannya
Pada zaman dahulu, Tamansari adalah tempat di mana para selir berkumpul untuk mandi. Di sini, dua kolam besar yang dipisahkan oleh jembatan, dihiasi dengan pot-pot tanaman, menjadi pusat kegiatan mereka. Di bagian kanan, terdapat sebuah kanal air dan bangunan bertingkat tiga, yang sering digunakan oleh Sultan untuk mengamati kolam. Di sebelah kiri, terdapat ruangan dengan beberapa bilik yang kini telah kosong.
Salah satu keistimewaan Tamansari adalah kolam-kolam airnya yang indah, yang dahulu digunakan oleh para selir raja untuk mandi. Dalam tradisi Jawa, seorang selir, atau yang disebut "garwa ampeyan," adalah wanita yang diikat oleh tali kekeluargaan dengan seorang lelaki, tetapi tidak berstatus sebagai istri. Para selir memiliki peran penting dalam menjaga kebahagiaan raja, meskipun status mereka lebih rendah dibandingkan permaisuri.
Budayawan Jawa, PM.A. Masud Thayib Adiningrat, menjelaskan bahwa selir berfungsi untuk membuat raja senang, sehingga mereka juga disebut "klangenan," yang berarti kesenangan. Meski peran mereka terbatas pada urusan pribadi, para selir memiliki jadwal khusus yang diatur oleh punggawa istana, memastikan mereka mendapatkan giliran untuk menemani raja.
Baca Juga: Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta Bakal Dipagari, Ini Alasannya
Pada zaman dahulu, Tamansari adalah tempat di mana para selir berkumpul untuk mandi. Di sini, dua kolam besar yang dipisahkan oleh jembatan, dihiasi dengan pot-pot tanaman, menjadi pusat kegiatan mereka. Di bagian kanan, terdapat sebuah kanal air dan bangunan bertingkat tiga, yang sering digunakan oleh Sultan untuk mengamati kolam. Di sebelah kiri, terdapat ruangan dengan beberapa bilik yang kini telah kosong.
Lihat Juga :