Kisah Dinasti Sanjaya dan Sailendra yang Berkuasa di Jawa Bagian Barat dan Tengah
Minggu, 11 Agustus 2024 - 06:32 WIB
loading...
A
A
A
Pada prasasti ini Rakai Panangkaran dikisahkan telah menganugerahkan sawah di Wanua Tengah sebagai sima (tanah perdikan) untuk wihara di Pikatan yang dibangun oleh Rahyangta i Hara, adik Rahyangta ri Mdang. Dari analisis terdapat kesamaan tokoh antara Rahyangta ri Mdang dengan Sanjaya.
Rakai Panangkaran sendiri mengeluarkan Prasasti Kalasan pada tahun 778 tentang pendirian bangunan suci untuk Dewī Tārā, atas per- mohonan para guru raja Sailendra. Pada prasasti itu, namanya tertulis Mahārājam Dyah Pañcapaņam Paņamkaraņām, hasil pembacaan ilmuwan F.D.K. Bosch, atau Mahārājam Tejah Pūrņapanna Panamkaraņām, sedangkan pada bagian akhir tertulis Kariyāna Panamkaranah.
Selain itu, ada pula kata yang berbunyi śailendrawamśatilaka (permata Dinasti Šailendra) dalam prasasti itu. Selanjutnya ada Prasasti Kělurak (26 September 782) yang menyebut kata dharanindranāmnā. KD.K Bosch menafsirkan, bahwa raja yang mengeluarkan prasasti ini bernama Dharanindra.
Tetapi, sejarawan J.G. de Casparis mengoreksi bahwa tidak ada nama Dharanindra karena pembacaan yang benar ialah dharanindharena, yang bermakna "oleh raja". Adapun nama raja dalam prasasti itu ialah Śrī Sanggrāmadhananjaya, yang berjuluk wairiwarawirawimardana, atau pembunuh musuh-musuh yang gagah perwira. Beberapa sejarawan dan arkeolog berpendapat bahwa, Rakai Panangkaran adalah raja Dinasti Sañjaya (Sañjayawangśa) beragama Śiwa yang menjadi bawahan raja Dinasti Śailendra, atau Sailendrawangsa, yang beragama Buddha.
Dari uraian Prasasti Kalasan tahun 778 dapat ditafsirkan bahwa Rakai Panangkaran diperintah oleh raja Śailendra untuk mendirikan bangunan suci Buddha. Adapun raja Śailendra yang menjadi atasan Rakai Panangkaran diperkirakan sama dengan Śrī Sanggrāmadhananjaya yang mengeluarkan Prasasti Kelurak pada tahun 782.
Rakai Panangkaran sendiri mengeluarkan Prasasti Kalasan pada tahun 778 tentang pendirian bangunan suci untuk Dewī Tārā, atas per- mohonan para guru raja Sailendra. Pada prasasti itu, namanya tertulis Mahārājam Dyah Pañcapaņam Paņamkaraņām, hasil pembacaan ilmuwan F.D.K. Bosch, atau Mahārājam Tejah Pūrņapanna Panamkaraņām, sedangkan pada bagian akhir tertulis Kariyāna Panamkaranah.
Selain itu, ada pula kata yang berbunyi śailendrawamśatilaka (permata Dinasti Šailendra) dalam prasasti itu. Selanjutnya ada Prasasti Kělurak (26 September 782) yang menyebut kata dharanindranāmnā. KD.K Bosch menafsirkan, bahwa raja yang mengeluarkan prasasti ini bernama Dharanindra.
Tetapi, sejarawan J.G. de Casparis mengoreksi bahwa tidak ada nama Dharanindra karena pembacaan yang benar ialah dharanindharena, yang bermakna "oleh raja". Adapun nama raja dalam prasasti itu ialah Śrī Sanggrāmadhananjaya, yang berjuluk wairiwarawirawimardana, atau pembunuh musuh-musuh yang gagah perwira. Beberapa sejarawan dan arkeolog berpendapat bahwa, Rakai Panangkaran adalah raja Dinasti Sañjaya (Sañjayawangśa) beragama Śiwa yang menjadi bawahan raja Dinasti Śailendra, atau Sailendrawangsa, yang beragama Buddha.
Dari uraian Prasasti Kalasan tahun 778 dapat ditafsirkan bahwa Rakai Panangkaran diperintah oleh raja Śailendra untuk mendirikan bangunan suci Buddha. Adapun raja Śailendra yang menjadi atasan Rakai Panangkaran diperkirakan sama dengan Śrī Sanggrāmadhananjaya yang mengeluarkan Prasasti Kelurak pada tahun 782.
(hri)
Lihat Juga :