Kisah Asmujiono, Prajurit TNI yang Sempat Tak Diluluskan Prabowo Masuk Kopassus, Ternyata Taklukkan Everest
Kamis, 01 Agustus 2024 - 16:06 WIB
loading...
A
A
A
Asmujiono tergabung dalam Tim Selatan bersama Sersan Satu (Sertu) Misirin dan Letnan Satu (Lettu) Iwan Setiawan. Meskipun mengalami berbagai tantangan, termasuk gejala radang dingin (frostbite), ketiga prajurit ini berhasil memulai pendakian dari basecamp 4 pada 26 April 1997.
Perjalanan menuju puncak Everest penuh dengan rintangan. Asmujiono sempat merasakan nyeri di punggung dan masalah pada tabung oksigennya. Ia beberapa kali diperingatkan untuk turun, namun keinginannya untuk mengibarkan Merah Putih tetap kuat.
"Kalau meninggal, itu risiko melaksanakan tugas, karena semboyan Kopassus, lebih baik pulang nama, daripada gagal tugas," tutur Asmujiono.
Baca Juga: Kisah Prajurit Kopassus, Rela Menjadi Martir Guna Melindungi Rekannya Dari Berondongan Fretilin
Ketika mencapai detik-detik akhir pendakian, Asmujiono sempat terjatuh dan merasa hampir kehilangan semangat. Namun, dengan dorongan dari pelatih dan sherpa, ia berhasil mencapai puncak pada 26 April 1997, pukul 15.45 waktu Nepal.
Dengan bangga, ia mengibarkan Merah Putih dan mengenakan baret merah kebanggaan Kopassus di puncak tertinggi dunia. "Perasaan saat mengibarkan Merah Putih, itu antara hidup dan mati, haru dan sedih. Namun saya merasa bangga. Terharu dan bangga, sebagai anak yatim piatu, saya bisa mengibarkan Merah Putih di puncak tertinggi dunia, dan mewujudkan keinginan Indonesia,"ungkapnya.
Perjalanan menuju puncak Everest penuh dengan rintangan. Asmujiono sempat merasakan nyeri di punggung dan masalah pada tabung oksigennya. Ia beberapa kali diperingatkan untuk turun, namun keinginannya untuk mengibarkan Merah Putih tetap kuat.
"Kalau meninggal, itu risiko melaksanakan tugas, karena semboyan Kopassus, lebih baik pulang nama, daripada gagal tugas," tutur Asmujiono.
Baca Juga: Kisah Prajurit Kopassus, Rela Menjadi Martir Guna Melindungi Rekannya Dari Berondongan Fretilin
Ketika mencapai detik-detik akhir pendakian, Asmujiono sempat terjatuh dan merasa hampir kehilangan semangat. Namun, dengan dorongan dari pelatih dan sherpa, ia berhasil mencapai puncak pada 26 April 1997, pukul 15.45 waktu Nepal.
Dengan bangga, ia mengibarkan Merah Putih dan mengenakan baret merah kebanggaan Kopassus di puncak tertinggi dunia. "Perasaan saat mengibarkan Merah Putih, itu antara hidup dan mati, haru dan sedih. Namun saya merasa bangga. Terharu dan bangga, sebagai anak yatim piatu, saya bisa mengibarkan Merah Putih di puncak tertinggi dunia, dan mewujudkan keinginan Indonesia,"ungkapnya.
Lihat Juga :