Kisah Arca Gayatri, Sebuah Warisan Abadi Kerajaan Majapahit
Kamis, 04 Juli 2024 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Untuk mengenang Gayatri, karya seni ini dibuat dengan menggabungkan keindahan fisik dan spiritual Gayatri. Kedua putrinya dan Gajah Mada merencanakan pembuatan arca ini dengan memerintahkan seniman terbaik di Majapahit untuk memahat arca seukuran tubuh Gayatri dari batu besar yang indah. Batu yang keras ini akan memperlambat proses pemahatan, tetapi akan menghasilkan monumen abadi.
Seniman tersebut tertantang dengan konsep berani ini, yang belum pernah dicoba sebelumnya. Dalam rancangan komposisinya, Ibu Suri digambarkan duduk bersila dengan anggun seperti dewi, dengan atribut tangan yang melambangkan roda hukum yang terus berputar, teratai melingkari lengan kiri, dan ayat tentang kebijaksanaan tertinggi terukir di atas bunga teratai itu.
Tantangan utama bagi seniman adalah membuat wajah dan mata Gayatri tampak dalam keadaan meditasi sublim, sementara bagi Gayatri sendiri tantangannya adalah menciptakan suasana tersebut. Gajah Mada menyadari bahwa konsep inovatif ini mungkin akan ditentang oleh para pendeta Buddhis yang lebih memilih representasi formal tanpa unsur manusiawi, karena tujuan utama Buddhis adalah melenyapkan sifat dan nafsu keduniawian.
Gajah Mada menawarkan agar proyek ini dimulai ketika seniman dan subjeknya memiliki waktu luang dan inspirasi penuh. Dia juga berjanji untuk berunding dengan para pendeta agar tidak terjadi pertentangan.
Setelah berminggu-minggu bekerja, arca Gayatri mulai terbentuk dengan tubuh, alas duduk teratai, dan sandaran serupa tahta yang tergambar jelas. Fokus sang seniman kemudian beralih ke detail wajah, sementara atribut fisik lainnya diabaikan sementara waktu.
Seniman tersebut tertantang dengan konsep berani ini, yang belum pernah dicoba sebelumnya. Dalam rancangan komposisinya, Ibu Suri digambarkan duduk bersila dengan anggun seperti dewi, dengan atribut tangan yang melambangkan roda hukum yang terus berputar, teratai melingkari lengan kiri, dan ayat tentang kebijaksanaan tertinggi terukir di atas bunga teratai itu.
Tantangan utama bagi seniman adalah membuat wajah dan mata Gayatri tampak dalam keadaan meditasi sublim, sementara bagi Gayatri sendiri tantangannya adalah menciptakan suasana tersebut. Gajah Mada menyadari bahwa konsep inovatif ini mungkin akan ditentang oleh para pendeta Buddhis yang lebih memilih representasi formal tanpa unsur manusiawi, karena tujuan utama Buddhis adalah melenyapkan sifat dan nafsu keduniawian.
Gajah Mada menawarkan agar proyek ini dimulai ketika seniman dan subjeknya memiliki waktu luang dan inspirasi penuh. Dia juga berjanji untuk berunding dengan para pendeta agar tidak terjadi pertentangan.
Setelah berminggu-minggu bekerja, arca Gayatri mulai terbentuk dengan tubuh, alas duduk teratai, dan sandaran serupa tahta yang tergambar jelas. Fokus sang seniman kemudian beralih ke detail wajah, sementara atribut fisik lainnya diabaikan sementara waktu.
Lihat Juga :