Kisah Makam Tumenggung Endranata di Imogiri yang Bisa Diinjak-injak Pengunjung karena Pengkhianatan
Rabu, 03 Juli 2024 - 09:47 WIB
loading...
A
A
A
Setelah kekalahan dalam pertempuran tahun 1628 karena buruknya perbekalan, Sultan Agung menyusun strategi untuk membuat lumbung-lumbung beras di sekitar Karawang dan Cirebon. Sayangnya, VOC mengetahui rencana ini dan menghancurkan lumbung-lumbung tersebut, berkat bocoran rahasia dari Tumenggung Endranata.
Pengkhianatan Tumenggung Endranata tidak hanya berakhir dengan kegagalan rencana Sultan Agung, tetapi juga dengan hukuman yang mengerikan. Menurut cerita lisan dalam Serat Kandha, Sultan Agung memutuskan untuk memutilasi tubuh Tumenggung Endranata menjadi tiga bagian sebagai bentuk penghinaan.
Kepala Tumenggung Endranata dipancangkan di alun-alun Jayakarta sebagai peringatan bagi Belanda, kakinya dibuang ke laut sebagai simbol pengusiran dari tanah Jawa, dan tubuhnya dikubur di anak tangga menuju Pajimatan Imogiri.
Jasad Tumenggung Endranata yang terbagi tiga dimakamkan di beberapa titik anak tangga menuju Pajimatan Imogiri. Makam ini dapat dikenali dengan bentuknya yang tidak rata, berbeda dengan anak tangga lainnya, sehingga memudahkan pengunjung untuk menemukan tempat peristirahatan terakhir sang pengkhianat.
Baca Juga: Prahara Menimpa Kerajaan Mataram Usai Menang Perang di Blambangan, 3 Tumenggung Meninggal
Pengkhianatan Tumenggung Endranata tidak hanya berakhir dengan kegagalan rencana Sultan Agung, tetapi juga dengan hukuman yang mengerikan. Menurut cerita lisan dalam Serat Kandha, Sultan Agung memutuskan untuk memutilasi tubuh Tumenggung Endranata menjadi tiga bagian sebagai bentuk penghinaan.
Kepala Tumenggung Endranata dipancangkan di alun-alun Jayakarta sebagai peringatan bagi Belanda, kakinya dibuang ke laut sebagai simbol pengusiran dari tanah Jawa, dan tubuhnya dikubur di anak tangga menuju Pajimatan Imogiri.
Jasad Tumenggung Endranata yang terbagi tiga dimakamkan di beberapa titik anak tangga menuju Pajimatan Imogiri. Makam ini dapat dikenali dengan bentuknya yang tidak rata, berbeda dengan anak tangga lainnya, sehingga memudahkan pengunjung untuk menemukan tempat peristirahatan terakhir sang pengkhianat.
Baca Juga: Prahara Menimpa Kerajaan Mataram Usai Menang Perang di Blambangan, 3 Tumenggung Meninggal
Lihat Juga :