Masjid Raya Ahmadsyah, Satu-satunya Peninggalan Monumental Kesultanan Asahan
Jum'at, 21 Agustus 2020 - 05:01 WIB
loading...
A
A
A
"Selain itu makna yang lainya ialah agar shaf sholat tidak terhalang atau terputus oleh tonggak atau tiang tersebut," kata Tengku Aleksander--anak ke-8 Sultan Saibun, saat ditemui SINDOnews.com, di Tanjungbalai, Kamis (20/8/2020). Sultan Saibun merupakan Sultan Asahan ke-XI. (BACA JUGA: Kisah Perlawanan Raja Haji Fisabilillah terhadap Belanda)
Keunikan lain dari arsitektur Masjid Raya Sultan Ahmadsyah ialah pada pondasi. Yang bahan materialnya tanpa menggunakan semen. Melainkan campuran pasir, tanah liat dan batu bata. Namun sampai sekarang masih kokoh dan membuat masjid masih tetap berdiri.
Kemudian tata letak kubah masjid ini juga berbeda dengan kebanyakan masjid lainnya. Kalau kebanyakan masjid letak kubahnya nya persis di tengah-tengah bangunan masjid maka untuk masjid Sultan Ahmadsyah in letak kubah masjidnya berada di bagian depan bangunan.
Pada bagian dalam masjid sendiri terdapat sebuah mimbar yang berornamen China. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan dari China, pada masa itu. Sementara di bagian belakang mimbar terdapat panji hijau kembar terpancang kokoh.
Seperti kebanyakan di masjid masjid kesultanan lainnya, pada bagian depan mimbar tersebut terpahat hiasan kaligrafi dengan gaya khas tsuluts yang indah. Selain itu, juga terdapat kompleks pemakaman keluarga diraja Asahan. Makam yang ditandai beragam bentuk nisan dan menjadi tolak ukur untuk menilai usia masjid atau keberadaan pertapakannya. (BACA JUGA: Istana Niat Lima Laras Cagar Budaya yang Hampir Punah)
Pembangunan masjid ini digagas oleh Sultan Ahmadsyah atau juga dikenal dengan gelar Marhum Maharaja Indrasakti. Tuanku Ahmadsyah merupakan Sultan Asahan yang ke-IX, menggantikan ayahandanya Sultan Muhammad Husinsyah (1813--1854).
Keunikan lain dari arsitektur Masjid Raya Sultan Ahmadsyah ialah pada pondasi. Yang bahan materialnya tanpa menggunakan semen. Melainkan campuran pasir, tanah liat dan batu bata. Namun sampai sekarang masih kokoh dan membuat masjid masih tetap berdiri.
Kemudian tata letak kubah masjid ini juga berbeda dengan kebanyakan masjid lainnya. Kalau kebanyakan masjid letak kubahnya nya persis di tengah-tengah bangunan masjid maka untuk masjid Sultan Ahmadsyah in letak kubah masjidnya berada di bagian depan bangunan.
Pada bagian dalam masjid sendiri terdapat sebuah mimbar yang berornamen China. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan dari China, pada masa itu. Sementara di bagian belakang mimbar terdapat panji hijau kembar terpancang kokoh.
Seperti kebanyakan di masjid masjid kesultanan lainnya, pada bagian depan mimbar tersebut terpahat hiasan kaligrafi dengan gaya khas tsuluts yang indah. Selain itu, juga terdapat kompleks pemakaman keluarga diraja Asahan. Makam yang ditandai beragam bentuk nisan dan menjadi tolak ukur untuk menilai usia masjid atau keberadaan pertapakannya. (BACA JUGA: Istana Niat Lima Laras Cagar Budaya yang Hampir Punah)
Pembangunan masjid ini digagas oleh Sultan Ahmadsyah atau juga dikenal dengan gelar Marhum Maharaja Indrasakti. Tuanku Ahmadsyah merupakan Sultan Asahan yang ke-IX, menggantikan ayahandanya Sultan Muhammad Husinsyah (1813--1854).
Lihat Juga :