alexametrics

16 Kampung di Kota Tasikmalaya Belum Tersentuh Sinyal Seluler

loading...
16 Kampung di Kota Tasikmalaya Belum Tersentuh Sinyal Seluler
Salah seorang Guru MTs/MA Raudlatul Taalum Cidahu, Kelurahan Tamanjaya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya mencari sinyal di sekolahnya. Dia bingung sebab pada April 2019 akan menggelar UNBK. FOTO/SINDOnews/Jani Noor
A+ A-
TASIKMALAYA - Telekomunikasi seluler yang telah muncul sejak beberapa dekade ternyata belum sepenuhnya bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Di Kota Tasikmalaya, sebanyak 16 kampung sama sekali tidak sinyal seluler. Untuk sekedar menelepon mereka harus berjalan ke kampung lain atau menaiki perbukitan.

Kampung tanpa sinyal itu antara lain Kampung Banung, Leuweung Geude, Cipajaran, Cibungur, Ciangir, Cilampahan, Cidahu, Cipisitan, Gunung Prana, Cikuda, Sumaga, Sindangkasih, Malingping, Cadas Ngampar, dan Sukasukur. Dusun tersebut tersebar di tiga kelurahan, yakni Tamanjaya, Tamansari, dan Setiawargi yang masuk wilayah Kecamatan Tamansari.

Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman mengaku pernah merasakan kehilangan sinyal ketika berkunjung ke kampung-kampung tersebut. "Pada 2019 akan digarap pemasangan fiber optik dulu karena internet juga tak masuk ke sana," kata Budi melalui sambungan telepon, Sabtu (12/1/2019).



Menurut Budi, tidak adanya sinyal dipengaruhi letak geografis daerah. Kampung-kampung susah sinyal berada di lembah perbukitan yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

"Ya kita ini daerah kota, kalau daerah perbatasan masih banyak bukit, maka wajar ada yang belum tersentuh. Tapi sedang diupayakan karena 2019 Kota Tasikmalaya menuju Kota Smart City," ujarnya.

Ganggu UNBK
Belum tersentuhnya sinyal seluler dikeluhkan Ketua Perhimpunan Guru Madrasah (PGM) Kota Tasikmalaya, Asep Rizal Asyari. Apalagi saat ini makin dekat Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Sinyal seluler, kata dia, suatu kebutuhan wajib karena ada Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Aliyah (MA) yang dipastikan kesulitan dalam pelaksanakan UNBK. "Nah maka itulah, UNBK ini menjadi hal menakutkan karena saya menerima laporan ada sekolah di daerah sana yang belum tersentuh sinyal seluler," katanya.

Kepala MTs Raudlatul Ta'alum Cidahu, Kelurahan Tamanjaya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Abdul Gopur sudah menyampaikan keluhan tersebut ke Kementerian Agama Kota Tasikmalaya. Sekolahnya pada April 2019 harus melaksanakan UNBK tapi hingga kini tidak ada sinyal seluler di wilayahnya. Padahal komputer ujian harus menangkap sinyal internet.

"Itu yang bingung. Di satu sisi kebijakan pusat bahwa ujian madrasah harus berbasis komputer tapi di daerah saya jangankan sinyal internet, sinyal hape pun tak ada," ungkapnya.

Di lain pihak, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kota Tasikmalaya, Dadang Toha telah mengantisipasi sekolah yang daerahnya tidak teraliri sinyal seluler. Salah satunya, kata dia, sekolah tersebut bergabung ke sekolah lain yang sarana dan prasarana melaksanakan UNBK sudah layak.

"Ya kami telah mengatur hal tersebut dari 53 Tsanawiyah misalnya sudah 43 yang dianggap layak. Sisanya akan gabung ke sekolah terdekat. Begitu pun untuk Aliyah dari 34 titik ujian digabung jadi 23. Ini karena persoalan sinyal tadi serta soal sarana komputer," tutur Dadang.

Dadang berjanji akan berkomunikasi juga dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya untuk menyediakan semacam antena khusus agar sekolah yang tidak tersentuh internet bisa menggelar UNBK. Jumlah peserta UNBK Aliyah di Kota Tasikmalaya mencapai 1.881 siswa dan Tsanawiyah 1.560 siswa.
(amm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak