Kisah Jenderal Gatot Subroto, Perisai Hidup Soekarno Pemberi Julukan Monyet ke Soeharto

Sabtu, 27 April 2024 - 11:10 WIB
loading...
Kisah Jenderal Gatot...
Kedekatan Jenderal Gatot Subroto dengan Soeharto terukir dalam karir kemiliteran. Foto/Istimewa
A A A
Kisah kedekatan Jenderal Gatot Subroto dengan Soeharto terukir dalam karir kemiliteran. Saking dekatnya, perisai hidup Presiden Soekarno ini sering memanggil Soeharto dengan sebutan ‘monyet’ dalam latihan.

Jenderal Gatot Subroto dapat dikatakan menjadi satu-satunya sosok yang berani memanggil Soeharto dengan sebutan monyet, saat keduanya masih aktif berdinas di kemiliteran. Sebutan monyet dalam karier kemiliteran era Gatot saat itu sebagai panggilan keakraban.

Sebagaimana diketahui, Gatot merupakan salah satu tokoh pejuang militer Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Ia dilahirkan pada 10 Oktober 1907 di Banyumas, Jawa Tengah, sebagai putra pertama dari Sajid Joedojoewono.

Baca Juga: 4 Jenderal TNI yang Menjadi Perisai Hidup Jokowi dari Korps Baret Merah

Panggilan yang disematkan untuk Soeharto yang kelak menjadi Presiden kedua RI ini tidak merasa sakit hati dengan sebutan tersebut. Bukan tanpa alasan, panggilan monyet oleh Gatot Subroto pada bawahannya ternyata memiliki makna tersendiri.

Kisah Jenderal Gatot Subroto, Perisai Hidup Soekarno Pemberi Julukan Monyet ke Soeharto


Saat itu, baik Soeharto dan Gatot sama-sama masih aktif berdinas di kemiliteran. Keduanya pun merupakan serdadu bentukan tentara kolonial Hindia Belanda (KNIL), di mana panggilan dengan nama binatang adalah hal yang wajar.

Gatot Subroto pernah berteriak memanggil Soeharto Ketika sedang berada di pertempuran Palagan Ambarawa. “Hei monyet, mari ke puncak sini” ujar Gatot kepada Soeharto saat itu. Soeharto yang mendengar hal tersebut pun tidak ingin ambil pusing ataupun marah pada Gatot.

Karena secara usia dan pengalaman di dunia militer, ia kalah senior dengan atasannya tersebut. Pria yang kelak menjadi RI ke-2 itu pun manut dan nurut meski dirinya dipanggil monyet. Selain kalah senior dan pengalaman militer, Gatot merupakan sosok yang berjasa besar pada Soeharto.

Dalam buku Suharto: Sebuah Biografi Politik karya Robert Elson, disebutkan bahwa Gatot Subroto ikut menyelamatkan karier Soeharto yang nyaris dikeluarkan dari Angkatan Darat karena terlibat kasus penyelundupan.

Baca Juga: Profil Brigjen TNI Rafael Granada Baay, Jenderal Kopassus yang Jadi Perisai Hidup Jokowi

Sosok Gatot Soebroto sendiri mempunyai hubungan dekat dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Soedirman menganggap Gatot sebagai kakak, walaupun pangkat Gatot lebih rendah. Setelah Perjanjian Roem-Royen ditandatangani.

Pemerintah Republik Indonesia pun kembali ke Yogyakarta. Namun Jenderal Soedirman masih bergerilya memimpin anak buahnya ke Yogya, dan hanya Gatot Soebroto lah yang berhasil melemahkan pendirian Panglima Besar itu.

Hingga akhirnya pada pada tanggal 10 Juli 1949 Jenderal Soedirman kembali ke Yogya. Meskipun terkenal disiplin dan sangat keras. Namun sikapnya itu tak membuat ia dijauhi anak buah dan koleganya di tentara.

Dia sangat perhatian dan sayang terhadap anak buah. Bahkan ia rela untuk membela anak buahnya serta berani mengambil risiko. Hal ini terlihat saat ia pasang badan untuk Soeharto. Kala itu, Soeharto menjabat sebagai Pangdam IV Diponegoro.

Baca Juga: Kisah Kusni Kasdut, Bandit Legendaris dan Pejuang Kemerdekaan yang Dihukum Mati Presiden Soeharto

Soeharto kala itu terindikasi melakukan penyelundupan ilegal. Jenderal AH Nasution dan Ahmad Yani marah sekali dan akan memberikan hukuman keras kepada Soeharto.

Mengetahui itu dengan cepat Gatot Soebroto menemui Presiden Sukarno untuk memberikan pengampunan kepada Suharto dengan jaminan dirinya mampu mengubah perangai Suharto karena menurutnya Suharto masih mungkin berubah.

Profil Gatot Subroto

Gatot Subroto lahir di Banyumas, Jawa Tengah, sebagai putra pertama keluarga Sajid Joedojoewono pada 10 Oktober 1907. Dia tutup usia pada 11 Juni 1962 karena terkena serangan jantung.

Seminggu setelah ia dimakamkan di Desa Mulyoharjo, Ungaran, Yogyakarta, gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional menurut Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.283 tanggal 18 Juni 1962 disematkan kepadanya.

Setamat pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Gatot Subroto tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi memilih menjadi pegawai.

Namun tak lama kemudian pada tahun 1923 memasuki sekolah militer het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) di Magelang.

Menamatkan sekolah militer di Magelang, Gatot menjadi anggota KNIL (Tentara Hindia Belanda) hingga akhir kependudukan Belanda di Indonesia. Ia dikenal sebagai tentara yang solider terhadap rakyat kecil meski sebagai tentara kependudukan Belanda dan Jepang.

Gatot dianggap contoh seorang pemimpin yang layak diapresiasi berkat jasa-jasanya. Dengan bergabung dengan KNIL membuat Gatot Soebroto paham dan mengerti bagaimana seorang tentara harus bertindak.

Kemudian pasca-Jepang menduduki Indonesia, serta merta Gatot Soeboroto pun mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) dan setelah lulus dari PETA ia memilih menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) setelah kemerdekaan Indonesia.

Tentara Keamanan Rakyat (TKR) merupakan adalah latar belakang dari nama Tentara Nasional Indonesia yang ada kini.

TKR yang dipimpin oleh Kolonel Sudirman di mana saat itu Gatot Soebroto menjabat sebagai Kepala Siasat dan berganti menjadi Komandan Divisi dengan pangkat Kolonel setelah prestasinya yang dianggap gemilang dalam pertempuran Ambarawa.

Pada tahun 1948 terdapat Peristiwa Madiun atau Madiun Affairs yang melibatkan pihak Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Tentara Nasional Indonesia.

Pemberontakan tersebut berada di wilayah Madiun, Jawa Timur, yang kemudian berakhir diatasi dengan baik oleh TKR di bawah pimpinan Gatot Subroto.

Saat melawan PKI, Gatot Subroto melancarkan operasi militer agar dapat memulihkan keamanan. Di sebelah barat, Gatot yang diangkat menjadi Gubernur Militer Wilayah II (Semarang-Surakarta) tanggal 15 September 1948.

Serta pasukan dari Divisi Siliwangi, sedangkan dari timur diserang pasukan Divisi I, di bawah pimpinan Kolonel Soengkono menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, tanggal 19 September 1948, serta pasukan Mobil Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, di bawah pimpinan M. Yasin.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Prabowo Dapat Laporan...
Prabowo Dapat Laporan Puskesmas di Miangas Belum Pernah Diperbaiki Sejak Era Soeharto
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
UNCLOS 82, Strategi...
UNCLOS 82, Strategi Sea Denial Melawan AT Mahan
5 Jenderal dengan Karier...
5 Jenderal dengan Karier Paling Moncer hingga Menjadi Panglima TNI
Jabat Wakil Kepala BGN,...
Jabat Wakil Kepala BGN, Mayjen Trenggono Ajukan Pensiun Dini dari TNI
Rekomendasi
IHSG Besok Berpeluang...
IHSG Besok Berpeluang Lanjut Reli ke Level 6.100, Intip Faktor Pendongkraknya
Nikahi Jennifer Coppen,...
Nikahi Jennifer Coppen, Justin Hubner Berikan Mahar 12 Gram Emas dan Uang 2.026 Euro
Denny JA Sebut Algoritma...
Denny JA Sebut Algoritma Lahirkan Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan
Berita Terkini
10 Ruas Jalan di Jakarta...
10 Ruas Jalan di Jakarta Ditutup saat Presiden Jerman Melintas Besok Pagi
Megawati Ziarah ke Makam...
Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno, Hasto: Untuk Merawat Api Perjuangan yang Tak Pernah Padam
Jakarta Fair 2026, Dishub...
Jakarta Fair 2026, Dishub DKI Jakarta Siapkan 6 Kantong Parkir
Dorong Pengembangan...
Dorong Pengembangan Sport Tourism, PPK Kemayoran Gelar Turnamen Padel
Bangun MIN 5 Pidie Jaya...
Bangun MIN 5 Pidie Jaya yang Hanyut Akibat Banjir, Kemenag Alokasikan Rp12 Miliar
Perikhsa Riders Touring...
Perikhsa Riders Touring Perdana Malang-Bali, Bamsoet Tekankan Disiplin dan Persatuan
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved