Di Tengah Pandemi Corona, Manusia Karung Bermunculan di Palembang
Jum'at, 01 Mei 2020 - 11:10 WIB
loading...
A
A
A
Entah nama asli atau bukan, namun terlihat sedikit malu dan tidak nyaman untuk diajak berbicara dengan terus mengalihkan pembicaraan dengan merapikan karung dan memanggil seorang anak yang diakui sebagai cucunya yang yatim.
Menurut penuturan Ros, biasanya berdagang gorengan keliling dan membersihkan halaman warga. Setelah Corona datang dan katanya Palembang menjadi sepi, tidak ada yang mau membelikan sarapan darinya. Warga Jalan Sukarela yang tidak jauh dari Kantor Dinas Kebersihan Kota Palembang ini merasa sudah pasra. Awalnya ia telah berusaha berdiam di rumah dan menunggu bantuan datang. Namun dirinya tetap harus ke trotoar dengan membawa karung mengharapkan iba para pengendara yang melintas.
Pun tidak berbeda dengan Eli, manusia karung lainnya. Ibu muda dengan menggendong anak ini mengaku suaminya hanya buruh bangunan yang biasa menjadi kernet (pembantu) tukang bangunan. Biasanya pendapatan mereka lumayan perhari suaminya dibayar Rp90.000.
Namun dengan corona, tidak ada pekerjaan yang bisa dibantu oleh suaminya. “Jadi tukang cuci juga orang takut om, takut corona. Laki la sebulan setengah dak begawe,” tutur ibu dua anak ini dengan sebagian berbahasa Palembang.
Disinggung apakah tak malu, warga Jalan Pengadilan Tinggi tepatnya Pulau Gadung ini, menjawab terpaksa karena tidak ada penghasilan sama sekali. Beruntung listrik dan air bersih digratiskan, namun makan sehari – hari tetap harus diusahakan. Dengan menjadi manusia karung, Eli mengaku terkadang dapat bantuan dari pengendara yang dermawan. “Alhamdulillah kadang dapat sembako, tapi jarang. Kadang ada uang, tidak setiap hari dapat,” katanya.
Menurut penuturan Ros, biasanya berdagang gorengan keliling dan membersihkan halaman warga. Setelah Corona datang dan katanya Palembang menjadi sepi, tidak ada yang mau membelikan sarapan darinya. Warga Jalan Sukarela yang tidak jauh dari Kantor Dinas Kebersihan Kota Palembang ini merasa sudah pasra. Awalnya ia telah berusaha berdiam di rumah dan menunggu bantuan datang. Namun dirinya tetap harus ke trotoar dengan membawa karung mengharapkan iba para pengendara yang melintas.
Pun tidak berbeda dengan Eli, manusia karung lainnya. Ibu muda dengan menggendong anak ini mengaku suaminya hanya buruh bangunan yang biasa menjadi kernet (pembantu) tukang bangunan. Biasanya pendapatan mereka lumayan perhari suaminya dibayar Rp90.000.
Namun dengan corona, tidak ada pekerjaan yang bisa dibantu oleh suaminya. “Jadi tukang cuci juga orang takut om, takut corona. Laki la sebulan setengah dak begawe,” tutur ibu dua anak ini dengan sebagian berbahasa Palembang.
Disinggung apakah tak malu, warga Jalan Pengadilan Tinggi tepatnya Pulau Gadung ini, menjawab terpaksa karena tidak ada penghasilan sama sekali. Beruntung listrik dan air bersih digratiskan, namun makan sehari – hari tetap harus diusahakan. Dengan menjadi manusia karung, Eli mengaku terkadang dapat bantuan dari pengendara yang dermawan. “Alhamdulillah kadang dapat sembako, tapi jarang. Kadang ada uang, tidak setiap hari dapat,” katanya.
Lihat Juga :