Mengenal Palagan Lengkong, Saksi Bisu Gugurnya Mayor Daan Mogot saat Melawan Tentara Jepang
Senin, 17 Agustus 2020 - 23:01 WIB
loading...
A
A
A
"Akhirnya diserang lah oleh laskar rakyat Serpong di bawah pimpinan Raden Toni. Kemudian ada salah satu orang laskar Serpong, yang ikut sekolah militer di Tangerang. Laporan lah ke sana soal kejadian itu," terangnya.
Laporan itu sampai ke Militer Akademi di Tangerang dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot. Di mana sekolah itu, merupakan bagian dari naungan resimen IV Siliwangi. Lalu diperintahkanlah Mayor Daan Mogot oleh Komandan Resimen IV Siliwangi Letkol Singgih, untuk melucuti senjata Jepang di markas tersebut. . (Baca juga: Dari Bandar Kecil di Sungai Ciliwung Sejarah Jakarta Dimulai)
"Jam 2 habis salat Jumat meluncurlah ke sana 76 personel, di bawah pimpinan Mayor Daan Mogot. Sampai gerbang, akhirnya diperbolehkan masuk untuk musyawarah dengan komandan pasukan Jepang tapi Kapten Wibowo dijadikan jaminan, ditahan di gedung sebelahnya. Perwakilan yang lain akhirnya masuk, di antaranya Mayor Daan Mogot dan dua pengawalnya," jelasnya.
![Mengenal Palagan Lengkong, Saksi Bisu Gugurnya Mayor Daan Mogot saat Melawan Tentara Jepang]()
Pasukan Daan Mogot hanya bisa menunggu di luar gerbang sambil menunggu hasil perundingan. Di tengah proses itu, tiba-tiba terdengar letusan senjata api dari bagian luar gerbang rumah tempat pertemuan. Pasukan Jepang lantas bereaksi dan menembaki para pejuang, termasuk mereka yang berada di dalam.
"Mayor Daan Mogot termasuk yang gugur ditembak pasukan Jepang, di luar juga banyak yang gugur. Hanya sedikit yang selamat menyelamatkan diri melalui Sungai Cisadane menggunakan rakit," imbuh Rendra. (Baca juga: Monumen Plataran Saksi Bisu Perjuangan Taruna Akmil Jaga Kemerdekaan)
Laporan itu sampai ke Militer Akademi di Tangerang dibawah pimpinan Mayor Daan Mogot. Di mana sekolah itu, merupakan bagian dari naungan resimen IV Siliwangi. Lalu diperintahkanlah Mayor Daan Mogot oleh Komandan Resimen IV Siliwangi Letkol Singgih, untuk melucuti senjata Jepang di markas tersebut. . (Baca juga: Dari Bandar Kecil di Sungai Ciliwung Sejarah Jakarta Dimulai)
"Jam 2 habis salat Jumat meluncurlah ke sana 76 personel, di bawah pimpinan Mayor Daan Mogot. Sampai gerbang, akhirnya diperbolehkan masuk untuk musyawarah dengan komandan pasukan Jepang tapi Kapten Wibowo dijadikan jaminan, ditahan di gedung sebelahnya. Perwakilan yang lain akhirnya masuk, di antaranya Mayor Daan Mogot dan dua pengawalnya," jelasnya.

Pasukan Daan Mogot hanya bisa menunggu di luar gerbang sambil menunggu hasil perundingan. Di tengah proses itu, tiba-tiba terdengar letusan senjata api dari bagian luar gerbang rumah tempat pertemuan. Pasukan Jepang lantas bereaksi dan menembaki para pejuang, termasuk mereka yang berada di dalam.
"Mayor Daan Mogot termasuk yang gugur ditembak pasukan Jepang, di luar juga banyak yang gugur. Hanya sedikit yang selamat menyelamatkan diri melalui Sungai Cisadane menggunakan rakit," imbuh Rendra. (Baca juga: Monumen Plataran Saksi Bisu Perjuangan Taruna Akmil Jaga Kemerdekaan)
Lihat Juga :